Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Iran telah memperingatkan Amerika Serikat supaya tak menyerang wilayahnya di tengah memanasnya demonstrasi antipemerintah di Iran. Iran dan AS pun sama-sama melakukan pengancaman untuk saling serang.
Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Aknolt Kristian Pakpahan menilai di tengah kondisi memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Iran, dunia tengah khawatir akan munculnya perang dalam skala global, terlebih mengingat posisi Amerika Serikat dan Iran dalam tatanan sistem Internasional.
"Meski muncul eskalasi, terutama saling ancam dalam bentuk kata-kata di antara dua negara, saya tak melihat peningkatan eskalasi ini akan berakhir menjadi perang global. Dalam artian seperti perang dunia 1 dan 2 terdahulu. Saya melihat sekiranya eskalasi ini meningkat menjadi konflik terbuka, ini dilihat hanya sebagai perang regional yang memberikan dampak global," katanya saat dihubungi, Selasa (13/1/2026).
Aknolt pun menyebut konflik ini sifatnya hanya perang regional, bukan perang global, lantaran AS dan Iran sama-sama sadar bahwa perang terbuka berskala besar atau penuh akan membawa biaya perang politik, ekonomi, dan keamanan yang sangat besar.
"Satu sisi, Amerika Serikat masih menghadapi tekanan domestik terutama setelah penembakan warga negaranya oleh agen ICE Minggu lalu, keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik Rusia-Ukraina, kelelahan, dan tekanan budget akan perang panjang di Timur Tengah. Sisi lain, Iran menghadapi keterbatasan ekonomi akibat sanksi Internasional, instabilitas domestik, dan resiko legitimasi rezim jika konflik berubah menjadi perang total," katanya.
Lebih lanjut, konflik yang terjadi saat ini bukan konflik atau perang terbuka di antara kedua negara. Katanya, Iran lebih sering memanfaatkan jaringan aktor non-negara, seperti Hizbullah di Lebanon, kelompok milisi di Irak dan Suriah, serta dukungan terhadap Houthi di Yaman untuk menekan kepentingan AS (dan sekutunya) di Timur Tengah tanpa terlibat secara langsung.
Sementara AS cenderung merespon secara terbatas dan terukur untuk mencegah eskalasi yang tak terkendali.
"Perlu dipertimbangkan kepentingan negara besar lain, seperti Tiongkok dan Rusia yang tak menginginkan konflik ini berubah menjadi perang dalam skala besar. Ketidakstabilan kawasan Timur Tengah akan mengganggu pasokan dan pasar energi dunia. Dugaan saya, baik Tiongkok maupun Rusia hanya akan mendukung Iran secara diplomatik tanpa terlibat lebih jauh dalam konflik AS-Iran," ujarnya.
Aknolt juga mengatakan dampak pada konstelasi politik dunia dari situasi memanasnya hubungan AS-Iran akan memperdalam konstelasi politik global yang saat ini cenderung penuh rivalitas.
Terutama, katanya, pada blok Barat yang dipimpin AS, walau setelah intervensi AS di Venezuela, muncul kecaman dari negara-negara pendukung AS seperti Jerman.
Kemudian akan berdampak pada kelompok negara yang menantang dominasi Barat/AS seperti Iran, Rusia, dan Tiongkok, meski masing-masing negara tadi memiliki kepentingan nasional yang berbeda, tetapi ada kesamaan kepentingan, yakni membatasi pengaruh AS di kawasan strategis seperti Timur Tengah.
"Situasi intervensi AS ke Venezuela dan ancaman meluasnya konflik AS-Iran menunjukkan keterbatasan rezim lembaga Internasional seperti PBB. PBB dan Dewan Keamanan PBB dianggap lembaga yang tidak berdaya karena sebagian besar konflik diselesaikan melalui jalur bilateral atau negosiasi di luar PBB. Ini dapat dipahami karena adanya penggunaan hak veto utamanya oleh Amerika Serikat," ujarnya.
Memanasnya hubungan AS dan Iran akan berdampak secara signifikan pada politik energi global. Menurutnya, kawasan Timur Tengah adalah kunci bagi pasokan minyak dan gas dunia.
"Ketegangan AS-Iran meningkatkan resiko gangguan di Selat Hormuz, yang bisa memicu lonjakan harga energi yang berpengaruh pada tekanan inflasi global," ucap Aknolt.
Kemudian, bagi Indonesia, konflik AS dan Iran memiliki dampak tak langsung tetapi signifikan, utamanya dalam dimensi ekonomi, energi, dan politik luar negeri.
"Dampak paling nyata dirasakan pada ketahanan energi kita di mana Indonesia masih bergantung pada impor minyak dunia, sehingga setiap muncul eskalasi konflik di Timur Tengah, berpotensi menaikkan harga minyak dunia dan berdampak pada peningkatan beban subsidi energi di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," katanya
Dalam konteks lokal, lanjut Aknolt, bisa memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat. Selain itu, konflik ini pun bisa memengaruhi stabilitas ekonomo global yang berdampak pada perdagangan dan investasi.
"Ketidakpastian geopolitik cenderung membuat investor bersikap lebih hati-hati, termasuk terhadap negara berkembang seperti Indonesia. Volatilitas pasar keuangan global dapat memengaruhi nilai tukar rupiah dan arus masuk modal asing. Padahal, tekanan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2027-2028 membutuhkan stabilitas nilai tukar dan investasi asing," katanya.
Terakhir, konflik AS–Iran juga bisa menjadi pengingat pentingnya Indonesia untuk mempercepat diversifikasi energi dan transisi menuju energi terbarukan, termasuk kendaraan listrik dan energi hijau. Ketergantungan pada energi fosil impor semakin membuktikan rentannya posisi Indonesia yang berdampak pada stabilitas sosial-politik domestik.