Pisah dengan Suami, Jumiati Jualan Keripik Tempe dan Pare Hidupi 3 Anak, Omzet Rp20 Juta Seminggu
January 13, 2026 06:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Sejak berpisah dengan suami, Jumiati, warga Dusun Kliwonan, Desa Sugihan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang harus memutar otak untuk menghidupi ketiga anaknya.

Ia memutuskan berjualan keripik tempe dan pare untuk keluarganya.

Siapa sangka dari usaha tersebut, Jumiati kini memiliki puluhan karyawan yang membantunya dalam memproduksi keripik.

Bahkan omzet yang didapat Jumiati mencapai Rp20 juta per minggu.

Jumiati membuat keripik tempe di dapur sederhana.

Baca juga: Biasa Nyambi Jualan Cilok, Nurhasan Bersyukur Gaji Guru PPPK Paruh Waktu Kini Naik Jadi Rp1,5 Juta

Berawal dari Suka Makan dan Bikin Keripik Sendiri

Di sebuah rumah di Dusun Kliwonan pandangan mata langsung tertuju pada bagian dapur yang sederhana, penuh dengan wajan-wajan besar berdiri di atas tungku.

Suara gemericik minyak bersahutan, berpadu dengan aroma gurih yang memenuhi ruangan.

Ibu-ibu tampak cekatan menggoreng aneka keripik mulai dari mengadon tepung, mencelupkan tempe, pare, dan bayam ke dalam adonan, hingga meniriskannya ke dalam wadah.

Ritme kerja mereka sudah sangat terlatih. Sesekali mereka berdiri sejenak melakukan peregangan di sela kesibukan.

Di sudut lain, seorang perempuan sibuk merajang tempe dengan pisau tajam memastikan irisan tipis dan merata sebelum masuk ke tahap penggorengan.

Di antara aktivitas itu, Jumiyati, pemilik rumah sekaligus usaha aneka keripik Berkah Snack ini mengontrol setiap tahapan produksi, dari pemotongan bahan, proses penggorengan, hingga pengemasan.

"Usaha ini sejak 2010. Saya awalnya itu memang suka makan. Bikin-bikin keripik sendiri, terus ke pasar tradisional untuk dijual," papar Jumiyati, dikutip dari Tribun Jateng.

PRODUKSI KERIPIK - Pelaku UMKM Keripik, Jumiyati bersama karyawannya sedang memproduksi aneka keripuk, di dapur rumahnya, Dusun Kliwonan, Desa Sugihan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Minggu (11/1/2026). Usahanya itu telah dirintis sejak 2010.
PRODUKSI KERIPIK - Pelaku UMKM Keripik, Jumiyati bersama karyawannya sedang memproduksi aneka keripuk, di dapur rumahnya, Dusun Kliwonan, Desa Sugihan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Minggu (11/1/2026). Usahanya itu telah dirintis sejak 2010. (Tribun Jateng)

Dipasarkan hingga ke 5 Daerah

Mulanya, dia membuat kemasan keripik kecil-kecil yang dibanderol Rp700 per kemasan untuk dibawa ke pasar tradisional.

Dengan harga itu, pedagang eceran kulakan kepadanya untuk dijual kembali dengan harga Rp1.000. 

Seiring berjalannya waktu, usahanya pun kian berkembang.

Dia tak hanya menyasar ke pasar tradisional, melainkan ke toko grosir di berbagai kota. 

Produk Berkah Snack pun kini telah menjangkau Surakarta, Kendal, Semarang, Klaten, hingga Boyolali.

Tak hanya itu, sejumlah reseller juga datang langsung ke rumahnya untuk mengambil produknya untuk dijual kembali. 

Sistem penjualan dilakukan dalam bentuk bal-balan.

Untuk keripik bayam, satu bal berisi 2 hingga 2,5 kilogram dengan harga Rp90 ribu.

Sementara, keripik tempe dan pare dijual Rp75 ribu per bal dengan berat sekira 1,75 kilogram. 

"Boyolali itu ada satu, kalau di Surakarta ada lima toko. Di Semarang ada lima toko, Klaten dua," sebutnya. 

Baca juga: Sosok Aktor Tampan Banting Setir Jualan saat Sepi Job, Tak Malu Keliling Tawarkan Keripik Kentang

Pisah dengan Suami, Omzet Rp20 Juta per Minggu

Sejak berpisah dengan suaminya, Jumiyati menapaki jalan sebagai perempuan mandiri.

Omzet usahanya mencapai Rp20 juta per pekan. 

Dari usaha rumahan inilah, dia mampu mencukupi kebutuhan ketiga anaknya.

Dua anaknya telah menempuh jenjang pendidikan tinggi. Sementara, satu anak lainnya masih menempuh pendidikan di bangku SMA.

"Alhamdulillah, anak saya, sekarang sudah kuliah. Satu sudah menikah. Satu masih SMK," sebutnya.

PRODUKSI KERIPIK - Pelaku UMKM Keripik, Jumiyati bersama karyawannya sedang memproduksi aneka keripuk, di dapur rumahnya, Dusun Kliwonan, Desa Sugihan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Minggu (11/1/2026). Usahanya itu telah dirintis sejak 2010.
PRODUKSI KERIPIK - Pelaku UMKM Keripik, Jumiyati bersama karyawannya sedang memproduksi aneka keripuk, di dapur rumahnya, Dusun Kliwonan, Desa Sugihan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Minggu (11/1/2026). Usahanya itu telah dirintis sejak 2010. (TRIBUN JATENG/Eka Yulianti Fajlin)

Baca juga: Mbah Sriyono Pejuang Veteran Kini Jualan Keripik Keliling Demi Bertahan Hidup di Usia 110 Tahun

Punya 12 Karyawan

Tak hanya menjadi penopang ekonomi keluarga, usaha keripik Jumiyati juga menjadi tumpuan bagi sejumlah ibu-ibu di lingkungannya. 

Ada 12 karyawan yang turut bekerja bersamanya.

Keseharian mereka menjadi juru potong, juru masak, juru kemas, serta sopir yang mengantarkan produk sampai dengan selamat ke sejumlah toko. 

Para juru masak ini dibayar sesuai jumlah tepung yang dihabiskan dalam memproduksi keripik. Rata-rata, pendapatan mereka mencapai Rp100 ribu perhari. 

"Jadi, satu adonan tepung itu Rp8.000. Rata-rata mereka terima Rp100 ribu perhari. Kalau yang potong-potong dan kemas itu borongan Rp75.000 perhari," urainya. 

Dalam sehari, Jumiyati memproduksi aneka ragam keripik dengan menghabiskan tepung sebanyak satu kuintal bahkan lebih saat momentum tertentu. 

Perjalanan Jumiyati tak selalu mulus. Dia pernah merugi dan sempat vakum satu bulan karena persaingan dengan pelaku UMKM lainnya.

Pengalaman itu justru menguatkannya. Strateginya bertahan pun sederhana.

Dia tetap konsisten dengan menjaga kualitas rasa dan memastikan produk tidak berminyak.

"Kalau gorengan gini kan yang penting kan jangan berminyak.Kalau kalau berminyak otomatis peminatnya kurang. Ini bayam saya itu tanpa spinner tapi enggak berminyak," sebutnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.