Indonesia Resmi Swasembada Solar, Menko Airlangga Beberkan Buktinya
January 13, 2026 06:35 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap bahwa Indonesia saat ini sudah resmi swasembada solar.

Buktinya adalah dengan diresmikannya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan milik Pertamina.

Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan adalah proyek strategis nasional yang dioperasikan PT Pertamina (Persero) dan berupa modernisasi serta pengembangan kilang minyak Balikpapan di Kalimantan Timur.

Baca juga: Kementerian ESDM: Indonesia Setop Impor Solar Setelah Proyek RDMP Kilang Balikpapan Beroperasi

Proyek ini menelan investasi sebesar 7,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 126 triliun.

RDMP Balikpapan bertujuan meningkatkan kapasitas produksi kilang dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari, sekaligus meningkatkan kualitas produk BBM dari standar Euro II ke Euro V yang lebih ramah lingkungan.

RDMP ini telah diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto apda Senin (12/1/2026). Airlangga menyebut kehadiran fasilitas ini membuat Indonesia tidak perlu lagi impor solar.

"Dengan diresmikannya RDMP kemarin oleh Bapak Presiden maka solar kita tidak perlu impor lagi," katanya dalam acara road to Jakarta Food Security Summit (JFSS) 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (13/1/2026).

"Jadi kita sudah tanda petik swasembada di bidang solar dan tentu kita akan terus tingkatkan untuk energi yang lain," jelasnya.

Selain itu, pemerintah disebut terus mendorong mandatori program solar dengan campuran biodiesel sawit 40 persen (B40).

Implementasi B40 dinilai dapat menekan emisi hampir 42 juta ton CO2 dan menghemat devisa sekitar Rp 8 miliar akibat berkurangnya impor solar.

Sebelumnya, saat peresmian RDMP Balikpapan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap bahwa proyek ini seharusnya sudah rampung pada awal Mei 2024. Namun, akhirnya baru bisa diresmikan Januari 2026.

"Proyek RDMP ini bahwa Presiden banyak dramanya saya harus jujur katakan banyak dramanya, kenapa? seharusnya sudah jadi tahun awal Mei 2024," ujar Bahlil.

Bahlil mengatakan, kendala utama adalah insiden kebakaran pada bagian proyek menjelang peresmian. Sehingga pada Agustus lalu, Kementerian ESDM melakukan investigasi menyeluruh yang melibatkan pihak internal Pertamina.

"Api ini pak, terbakar ada bagian yang dibakar saya tidak mengerti apakah dibakar karena terbakar atau dibakar karena ada faktor lain," ujar Bahlil.

"Ternyata barang ini pak ada udang dibalik batu, masih ada pihak-pihak yang tidak rela kalau kita itu mempunyai cadangan dan swasembada energi agar import terus, import terus, kita harus hadapi dan kita selesaikan dalam waktu yang tidak lama lagi Pak," imbuhnya menegaskan.

Selain itu, Bahlil menegaskan bahwa proyek RDMP yang menelan biaya hingga Rp 123 triliun ini bisa meningkatkan kapasitas kilang dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari.

"Ini dalah RDMP terbesar di Indonesia pak dan ini betul-betul dilakukan dengan menghasilkan dari 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel, yang sekarang sudah menuju kepada setara dengan Euro 5 dan ini menuju kepada net zero emission," tegas Bahlil.

RDMP ini merupakan proyek yang terintegrasi antara hulu dan hilir, dimulai dengan struktur pipa senipah sepanjang 78 km yang menjadi pasokan untuk bahan baku menuju ke kilang.

Inti dari proyek RDMP adalah fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) mampu mengolah residu minyak yang sebelumnya tidak bisa dimanfaatkan menjadi produk bernilai tinggi.

Selain itu, proyek RDMP juga terintegrasi dengan Terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kiloliter untuk mendukung distribusi energi ke wilayah Indonesia bagian timur.

Dengan demikian, peningkatan kapasitas produksi Indonesia dari 260 ribu barel per hari naik menjadi 360 ribu barel per hari dengan kualitas standar Euro 5. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.