Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Minimnya akses permodalan disebut menjadi faktor utama yang membuat banyak pelaku konveksi menghetikan usahanya.
Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB), Nandi Herdiaman, mengatakan bahwa persoalan modal menjadi masalah utama yang sudah berlangsung lama. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, banyak usaha konveksi yang tidak mampu bertahan karena terbatasnya dukungan pembiayaan.
“Selama lebih dari satu dekade, cukup banyak pelaku usaha konveksi yang gulung tikar. Penyebab utamanya adalah kesulitan modal. Dampaknya bukan hanya dirasakan oleh pengusaha, tetapi juga ribuan pekerja yang menggantungkan hidup dari sektor ini,” ujar Nandi, Selasa (13/1/2026).
Baca juga: Mengintip Galeri Patrakomala di Braga City Walk: Pusat Produk UMKM Bandung Paling Estetik
Ia menjelaskan, untuk kembali bangkit, industri konveksi sangat membutuhkan dukungan permodalan yang mudah diakses.
Menurutnya, pemerintah memang telah memiliki sejumlah program pembiayaan bagi usaha kecil dan menengah, namun dalam praktiknya persyaratan yang diberlakukan kerap terlalu rumit.
“Kami berharap ada program khusus dengan persyaratan yang lebih sederhana dan realistis. Banyak pelaku usaha kecil yang sebenarnya punya pasar dan keterampilan, tapi tersandung di administrasi,” katanya.
Nandi juga menyoroti kondisi pasar dalam negeri yang perlu dijaga. Tanpa dukungan modal yang memadai, ia khawatir permintaan akan terus menurun dan semakin mempersempit ruang gerak pelaku konveksi lokal.
Nandi menambahkan, pihaknya siap untuk bekerjasama untuk membangkitkan geliat konveksi yang dilakoni oleh Industri Kecil Menengah (IKM) maupun Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
“Kami berharap dapat segera mendapatkan solusi yang tepat untuk meningkatkan indusri konveksi di Indonesia,” tambahnya.
Baca juga: Kadin bersama Pemprov Jabar Luncurkan Sekolah Ekspor, Dorong UMKM Tembus Pasar Internasional
Selain permodalan, Nandi menuturkan, IPKB juga mendorong adanya bantuan teknis dan pelatihan bagi pelaku usaha kecil dan menengah.
Upaya tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kualitas produksi serta daya saing industri konveksi nasional, baik di pasar domestik maupun global. (*)