Jumlah Gelandangan di Kota Bandung, Kini Dikeluhkan Buang Kotoran Sembarangan
January 13, 2026 06:44 PM

TRIBUNJABAR.ID - Belakangan ini warga Kota Bandung diresahkan dengan maraknya gelandangan (tunawisma).
 
Warga mengeluh keberadaan gelandangan itu meresahkan karena diduga kerap membuang kotoran sembarangan.

Keresahan dan keluhan warga akan maraknya gelandangan itu diterima langsung Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan ketika melakukan patroli keamanan pada Sabtu pekan lalu.

“Tiba-tiba ada yang komplain ke saya, katanya baunya menyengat. Setelah saya patroli, ternyata di banyak pojok ditemukan kotoran manusia," ujar Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.

Berdasarkan keterangan warga, gelandangan tersebut menjadikan gedung-gedung kosong sebagai WC dadakan.

Baca juga: Farhan Bakal Tertibkan Tunawisma, Geram Gedung-gedung Kosong di Pusat Kota Bandung Jadi WC Dadakan

Mereka membuang hajat (kotoran) di sejumlah titik strategis kawasan dan gedung Landmark Kota Bandung.

Seperti Braga, Jalan Asia Afrika hingga Taman Vanda.

Terkait keluhan warga tersebut, Farhan mengaku pihaknya akan melakukan pembersihan menyeluruh di area-area yang selama ini kerap dijadikan lokasi buang kotoran sembarangan, termasuk gedung-gedung kosong dan sudut jalan di pusat Kota Bandung.

Tak hanya itu, imbas laporan keresahan warga itu, Farhan membuat langkah solusi awal untuk melakukan penertiban.

"Solusinya, yang pertama adalah kita lakukan operasi penertiban homeless dan manusia gerobak karena jumlahnya memang cukup banyak," ujarnya.

Terkait dengan maraknya gelandangan yang buang kotoran sembarangan tersebut, berdasarkan data jumlah gendangan di Kota Bandung meningkat setiap tahunnya.

Dilansir dari opendata.bandung.go.id, jumlah gelandangan di Kota Bandung ini bahkan meningkat sejak tahun 2022.

Berikut jumlah gelandangan di Kota Bandung yang terdata dari tahun 2017 hingga 2024.

Dimulai tahun 2017 jumlah gelandangan berjumlah 42 orang, tahun 2018 berjumlah 28 orang, tahun 2019 meningkat menjadi berjumlah 148 orang.

Kemudian pada tahun 2020 sempat turun menjadi 10 orang, lalu di tahun 2022 kembali meningkat berjumlah 92 dan tahun 2024 meningkat menjadi 98 orang.

Pada tahun 2019 terjadi lonjakan anomali atau peningkatan jumlah gelandangan yang sangat tajam dari 28 orang menjadi 148 orang.

Namun, pada tahun 2020 turun drastis hingga angka 10. Hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh Pandemi COVID-19.

Kebijakan pembatasan sosial (PSBB) dan razia intensif untuk karantina kesehatan diduga membuat gelandangan tidak berada di ruang publik atau dipindahkan ke panti sosial/rumah singgah demi keamanan kesehatan.

Meski begitu, setelah sempat menurutn di awal pandemi, angka kembali merangkak naik ke 92 (2022) dan 98 (2024).

Ini menunjukkan adanya pemulihan aktivitas di ruang publik, namun juga mencerminkan masalah ekonomi pasca-pandemi yang belum sepenuhnya stabil bagi kelompok masyarakat kelas bawah.

Baca juga: Profil Teras Cihampelas Dulu Dibangun Ridwan Kamil Kini Bakal Dibongkar Dedi Mulyadi

Gelandangan Sempat Terjaring Tahun 2025

Pada tahun 2025, sejumlah gelandangan atau tunawisma bersama pengemis dan manusia gerobak sempat terjaring dalam penjangkauan yang dilakukan Selasa (12/3/2025) lalu.

Dikutip dari infobandungkota.com, sebanyak 62 orang terdiri dari gelandangan, pengemis dan manusia gerobak itu terjaring dan mereka ditemukan di beberapa titik seperti kawasan Asia Afrika, Otista, Sudirman, hingga Tegalega.

Saat itu, Kepala Dinsos Kota Bandung, Soni Bakhtiyar menyampaikan para gelandangan atau Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) itu langsung dibawa ke Puskesos Ranca Cili untuk menjalani rehabilitasi sosial selama tujuh hari.

Saat menjalani rehabilitasi sosial, mereka mendapat pembinaan fisik, mental, dan spiritual.

"Selain itu, dilakukan kontrak sosial dengan pekerja sosial yang akan melakukan asesmen lebih lanjut,” ujar Kepala Dinsos Kota Bandung Soni Bakhtiyar.

Dari jumlah tersebut tidak semua yang terjaring adalah warga Kota Bandung.

Dari hasil penjangkauan, ditemukan berbagai kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.

Maraknya Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) turun ke jalan ini membuat Dinsos Kota Bandung akan memberikan pembinaan lebih lanjut bekerja sama dengan TNI dan Polri.

Soni berharap setelah dibina, para gelandangan atau pngemis yang masih dalam usia produktif dapat mencari peluang ekonomi yang lebih baik daripada bertahan di jalanan yang penuh risiko.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.