TRIBUNKALTIM.CO - Momen Presiden RI Prabowo Subianto menyapa Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Aji Muhammad Arifin saat peresmian kilang RDMP (Refinery Development Master Plan) di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Senin (12/1/2026) menjadi viral.
Sorotan saat Prabowo menyapa Sultan Kutai Kartanegara ini lantaran kemudian Presiden mempertanyakan mengapa Aji Muhammad Arifin duduk di deretan belakang.
Setelah menyapa sejumlah pejabat di Kaltim, Prabowo kemudian menyapa Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Aji Muhammad Arifin.
Saat namanya dipanggil, kamera menyorot ke arah tengah ruangan, di mana Sultan Kutai yang mengenakan pakaian adat batik gelap dan penutup kepala khas, berdiri dari kursinya.
Baca juga: 6 Pernyataan Prabowo saat Resmikan RDMP, Soroti Sultan Kutai hingga Absen Wagub dari Gerindra
Sultan Aji Muhammad Arifin pun memberi gestur hormat saat namanya disapa Presiden Prabowo.
"Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Aji Muhammad Arifin. Hadir? Oh... Yang Mulia," sapa Prabowo dengan nada hormat.
Namun, perhatian Prabowo langsung terfokus pada posisi duduk sang Sultan.
Ternyata, Sultan Aji Muhammad Arifin tidak duduk di barisan paling depan bersama para menteri dan pejabat tinggi lainnya, melainkan berada di barisan tengah atau sedikit ke belakang.
Sedetik kemudian, ia melayangkan protes spontan kepada pihak panitia acara.
"Sultan kok ditaruh di belakang? Taruh di depan!" seru Prabowo sambil menunjuk ke arah barisan kursi depan.
Momen ini kemudian ramai beredar di media sosial (medsos).
Sejumlah warganet kemudian ikut berkomentar soal posisi duduk Sultan Kutai Kartanegara.
Usai peresmian, Prabowo Subianto turun dari panggung dan bersalaman dengan sejumlah orang.
Terlihat, Prabowo juga menyalami Sultan Aji Muhammad Arifin.
Bahkan tampak Prabowo berbincang sejenak dengan Sultan ke-21 Kutai Kartanegara Ing Martadipura ini.
Aji Muhammad Arifin naik tahta menggantikan ayahandanya, Aji Muhammad Salehuddin II yang meninggal dunia pada 5 Agustus 2018.
Prosesi adat penabalan atau suksesi Sultan Kutai berlangsung di Keraton atau Museum Mulawarman, Tenggarong, 15 Desember 2018.
Acara adat penobatan atau penabalan dilangsungkan di Museum Mulawarman, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Sultan ke-21 ini mengenakan baju kebesaran dan ketopong atau mahkota yang terbuat dari emas. Benda pusaka ini dibawa dari Museum Nasional, Jakarta.
Setelah membaca ikrar atau sumpah, Sultan mengangkat keris pusaka.
Selanjutnya, Sultan menyapa warga. Pihak keraton menyediakan berbagai makanan dan minuman untuk masyarakat secara gratis.
Penobatan Sultan kelahiran Belanda, 9 Februari 1951, ini juga dimeriahkan dengan serangkaian acara pentas seni.
”Ia mengangkat sumpah, sumpah kepada rakyat, untuk mengayomi masyarakat adat di Kukar (Kutai Kartanegara) pada khususnya dan Kaltim pada umumnya,” kata Adji Pangeran Haryo Kusumo Puger, Menteri Kelestarian Nilai Adat Kesultanan Kutai seperti dilansir TribunKaltim.co dari kompas.com.
Sultan Aji Muhammad Arifin lahir di Wassenaar, Provinsi Zuid-Holand Belanda, 09 Februari 1951.
Ia ada putra pasangan Aji Muhammad Salehuddin dan Ratu Permaisuri Aji Ratu Aida Gelar Aji Ratu Putro Inderaningrat Binti Adji Raden Ario Amidjoyo Bin Adji Pangeran Mangkunegara Bin Sultan Adji Muhammad Sulaiman.
Anak ke 2 dan putra pertama dari Sultan Aji Muhammad Salehuddin I dan dari Aji Ratu Aida " Ratu Permaisuri Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ".
Sultan Aji Muhammad Arifin menikah dengan Hj. Sulastri Gelar Adji Raden Puspa Kencana
Saudara Sultan Aji Muhammad Arifin:
Dilansir TribunKaltim.co dari laman resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara menjadi jejak peninggalan agama Hindu dan Islam di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
Bermula dari Kerajaan bernama Kutai Martadipura yang ada sekitar 400 tahun Masehi.
Kerajaan Kutai Martadipura ini berlokasi di Muara Kaman, salah satu kecamatan di Kabupaten Kukar yang berjarak sekitar 133 km dari Samarinda, Ibukota Provinsi Kaltim.
Kerajaan Kutai Martadipura ini adalah kerajaan Hindu tertua.
Jejak Kerajaan Kutai Martadipura ini diketahui lewat penemuan prasasti-prasasti Yupa (batu bertulis dalam huruf Pallawa).
Ada empat prasasti Yupa yang menerangkan adanya sebuah peradaban bercorak Hindu – Budha di awal – awal milenium pertama, sedangkan pada saat yang sama sejumlah wilayah Nusantara masih diliputi kegelapan sejarah.
Raja pertama dan yang paling terkenal dari Kerajaan Kutai Martadipura adalah Raja Mulawarman Nala Dewa.
Kenaikan tahta dari Mulawarman ini dibuktikan dengan pemberian 20 ribu ekor sapi kepada brahmana yang mentasbihkan Mulawarman sebagai raja.
Namun, informasi lebih lanjut tentang Mulawarman sampai sekarang masih menjadi misteri.
Barulah pada abad ke-13, informasi tentang raja–raja Kutai mulai terungkap dari Naskah Salasilah Kutai yang memuat kronologi tentang raja–raja Kutai Martadipura.
Selanjutnya pada abad ke-14 di Muara Sungai Mahakam, tepatnya di Jahitan Layar, berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Kutai Kertanagara.
Raja pertama Kerajaan Kutai Kartanagara adalah Adji Betara Agung Dewa Sakti, dan mempunyai permaisuri yang bernama Puteri Karang Melenu.
Pada masa ini, Islam telah muncul sebagai kekuatan politik di Kalimantan Timur, dan Islam masuk ke Kutai Kertanegara yakni pada masa raja Adji Mahkota pada tahun 1525 M, dan bergelar Adji Mahkota Mulia Islam.
Masuk dan berkembangnya Islam di Kutai tidak terlepas dari jasa dua ulama/mubaligh kenamaan yang bernama Syekh Abdul Qodir Khatib Tunggal yang bergelar Datuk Ri Bandang dan Datuk Ri Tiro yang bergelar Tuanku Tunggang Parangan.
Dalam beberapa buku sejarah dikatakan Datuk Ri Bandang adalah seorang ulama terkenal dari yang berasal Minang Kabau yang diutus oleh Sultan Aceh untuk menyebarkan agama Islam ke Nusantara Timur pada awal Abad ke 17.
Sekitar abad ke 17 semasa pemerintahan dipegang oleh Adji Pangeran Sinum Panji Mendapa, berhasil menaklukkan Kerajaan Kutai Martadipura yang di Muara Kaman yang saat itu diperintah oleh Raja Dermasetia.
Selanjutnya kedua kerajaan tersebut menyatu dan bernama Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura hingga saat ini.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sesungguhnya merupakan kelanjutan dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Pada tahun 1947, Kesultanan berubah statusnya menjadi pemerintahan negeri dengan nama Daerah Swapraja Kutai.
Pada tahun 1955 berubah lagi menjadi Daerah Istimewa Kutai (1953).
Pada tahun 1959, setelah pemisahan Kodya Balikpapan dan Samarinda, nama daerah ini berubah lagi menjadi Kabupaten Kutai.
Pada tahun 1999, terdapat pemekaran wilayah menjadi 3 Kabupaten (Kutai, Kutai Barat, Kutai Timur) dan 1 Kota (Bontang), dan sejak 2002 Kabupaten Kutai berganti nama menjadi Kabupaten Kutai Kartanegara.
Secara administratif, Kabupaten Kutai Kartanegara terbagi dalam 18 wilayah Kecamatan dan 238 desa/kelurahan dengan luas wilayah 27.263,10 km persegi dan luas perairan lebih dari 4.000 km persegi, daerah ini memiliki keanekaragaman sumber daya alam termasuk sektor pariwisata.
Berbagai jenis obyek dan atraksi wisata terdapat di daerah ini mulai dari wisata alam (seperti pantai, danau, sungai, cagar alam dengan fauna langka), wisata budaya (Festival Erau, Museum Mulawarman, Kedaton, Desa Budaya, Situs Yupa dan cagar budaya lainnya), wisata pendidikan (Planetarium Jagad Raya, Museum Kayu), wisata minat khusus (air terjun, goa, anggrek liar, canopy bridge, Borneo Orangutan Survival), sampai pada wisata buatan (Pulau Kumala dan Waduk Panji-Sukarame).
(*)