Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris | Bireuen
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Musibah banjir bandang yang melanda Kabupaten Bireuen pada akhir November 2025 lalu, meninggalkan luka mendalam bagi warga Kecamatan Juli.
Sebanyak 385 unit rumah di kecamatan itu dilaporkan hilang atau tidak layak lagi ditempati karena terendam banjir dan terancam longsor.
Camat Juli, Hendri Maulana menyampaikan, bahwa data tersebut sudah dikirimkan ke pemerintah kabupaten untuk ditindaklanjuti.
Dari jumlah itu, sekitar 230 rumah telah memiliki alas hak atau surat kepemilikan tanah, sehingga bisa dijadikan lokasi pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi korban bencana.
Sebagai langkah awal, tiga unit Huntap sedang dibangun di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli.
Rumah tersebut diperuntukkan bagi Zainal Abidin Sulaiman (70), dan dua anaknya, M Saiful Bahri (37), serta M Anwar Sadad (39).
Baca juga: Bupati Bireuen Sebut Pembangunan Huntap Bagi Korban Banjir di Balee Panah Juli Pertama di Aceh
Ketiga rumah mereka sebelumnya hancur diterjang banjir, dan lokasi lama kini berubah menjadi aliran sungai.
“Pembangunan Huntap ini terus digenjot agar segera selesai,” terangnya.
“Setelah di Balee Panah, akan dilanjutkan secara simultan di gampong-gampong lain yang terdampak,” ujar Camat Hendri.
Sementara itu, Keuchik Balee Panah, Muntazar menjelaskan, bahwa dampak banjir bandang di desanya sangat parah.
Sebanyak 58 rumah hancur dan hilang, 14 rumah tertimbun longsor, serta 27 rumah lainnya rawan tidak bisa ditempati lagi.
“Di gampong kami tidak ada rumah rusak ringan. Begitu banjir bandang datang, seluruh permukiman langsung hilang, berubah jadi aliran sungai,” ungkap Muntazar.
Baca juga: Seratusan Anak Pengungsi Balee Panah Ikuti Pemulihan Trauma, Diwarnai Balon dan Permainan
Ia menambahkan, warga sudah mulai menyerahkan alas hak kepemilikan tanah untuk pembangunan Huntap.
Hingga kini, 25 warga telah menyerahkan dokumen resmi, dan lima lainnya menyusul menyerahkan kepada pihak desa.
Pembangunan Huntap menjadi harapan baru bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Dengan adanya rumah permanen, mereka dapat kembali menata kehidupan setelah lebih dari sebulan tinggal di pengungsian.
“Warga kami sangat berharap pembangunan ini berjalan cepat,” tuturnya.
“Mereka ingin segera kembali memiliki rumah layak huni setelah kehilangan segalanya akibat banjir,” kata Keuchik Muntazar.
Baca juga: Bupati Bireuen Letakkan Batu Pertama Pembangunan Hunian Tetap untuk Korban Banjir di Balee Panah
Musibah banjir bandang di Kecamatan Juli bukan hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menghapus permukiman warga.
Dengan dimulainya pembangunan Huntap, pemerintah daerah berupaya memberikan solusi nyata agar masyarakat bisa bangkit kembali.(*)