TRIBUNBATAM.id, NATUNA - Asap putih tipis mengepul perlahan dari pondok-pondok kayu sederhana di tepi Jalan Batu Kapal, Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Bara api menyala di bawah rak atau tungku pengasapan yang penuh ikan tongkol tersusun rapi.
Di sela kepulan asap dan aroma ikan salai yang khas itu, berdirilah Zaharah (47), perempuan paruh baya dengan wajah tegar yang terbiasa dengan panas dan peluh.
Saat dijumpai, ia tampak mengenakan daster hijau sederhana.
Di hadapannya, tungku kayu tradisional menjadi saksi bisu perjuangan hidup yang ia jalani bertahun-tahun.
Asap mengepung tubuhnya, menyisakan rutinitas yang keras namun penuh ketabahan.
Di pondok beratap seng itulah Zaharah menjemput rezeki.
Setiap hari, tangannya cekatan membolak-balik ikan tongkol segar yang diasapi, hingga berubah menjadi ikan salai khas Natuna salah satu makanan tradisional yang menjadi tumpuan hidup keluarganya.
Usaha ikan salai ini telah ia jalani selama 11 tahun.
Bermula sekitar 2015 silam, Zaharah merintisnya bersama mendiang sang suami.
Modalnya kala itu tak seberapa, hanya niat kuat dan keyakinan bahwa kerja keras akan membuka jalan.
“Saya mulai usaha ikan salai ini sejak 11 tahun lalu, dari nol bersama almarhum suami,” ujar Zaharah kepada TribunBatam.id, Senin (12/1/2026).
Awalnya, ia hanya berjualan lempar ikan ditepi jalan.
Namun melihat peluang pasar, Zaharah mencoba mengolah ikan tongkol menjadi ikan salai.
Keputusan itu bukan tanpa tantangan, tetapi ia jalani demi satu tujuan yaitu menghidupi keluarga dan menyekolahkan dua anaknya yang saat itu masih duduk di bangku SMP.
Waktu pun berjalan begitu cepat, cobaan demi cobaan datang silih berganti.
Apalagi sang suami meninggal dunia, meninggalkan Zaharah bersama dua anak yang masih membutuhkan biaya hidup dan pendidikan.
Sejak saat itu, ia harus menguatkan diri, melanjutkan usaha seorang diri, dengan sesekali dibantu anak-anaknya.
“Namanya usaha, pasti ada naik turunnya. Kadang habis terjual, kadang sepi,” katanya.
Penghasilan dari ikan salai tak pernah pasti.
Pada masa ramai, Zaharah bisa membawa pulang sekitar Rp300 ribu per hari.
Kini, pendapatan itu menurun, berkisar Rp150 ribu per hari.
Dari usaha sederhana itulah, Zaharah berhasil mengantarkan anak-anaknya menyelesaikan pendidikan.
Satu anaknya bahkan lulus kuliah dari STAI Natuna, sementara satu lainnya menamatkan SMA dan telah mandiri.
“Alhamdulillah, anak-anak sudah selesai sekolah dan sekarang punya penghasilan sendiri. Itu kebanggaan saya sebagai orang tua,” ucapnya tersenyum.
Perjalanan usaha Zaharah juga diwarnai perpindahan tempat, tapi tetap dikawasan Batu Kapal.
Tercatat tiga kali ia harus menggeser pondok jualannya, mulai dari lokasi awal, pindah ke kawasan Perusda, hingga kembali menetap didepan lokasi awal akibat adanya penggusuran belum lama ini.
Meski berpindah-pindah, pelanggan setia tetap datang.
Cita rasa khas ikan salainya menjadi kunci.
Zaharah hanya menggunakan ikan tongkol segar dengan racikan bumbu sederhana, namun memiliki satu rahasia yang membuat rasanya berbeda dan lebih tahan lama.
“Bumbunya biasa saja, tapi ada sedikit rahasia. Itu yang bikin ikan salai saya beda,” katanya sambil membalikkan ikan.
Dalam sehari, ia bisa mengasapi hingga 20 hingga 30 ekor ikan, tergantung permintaan.
Semua diolah segar, tanpa stok lama. Prinsipnya hanya satu, menjaga kualitas dan menjaga kepercayaan pelanggan.
Kini, Zaharah telah menikah kembali. Perlahan, dari hasil usaha ikan salai, ia mulai membangun rumah untuk masa tua.
Sedikit demi sedikit, seiring asap ikan salai yang terus mengepul dari pondok kayunya.
“Kami masih tinggal di pondok ini sambil jualan. Pelan-pelan bangun rumah,” ujarnya.
Di balik asap yang membubung dari tepi jalan Ranai, tersimpan kisah tentang keteguhan seorang ibu.
Bahwa dari pondok sederhana, Zaharah merawat harapan, membesarkan anak-anaknya, dan membuktikan bahwa perjuangan tak selalu harus megah, tapi cukup konsisten dan disyukuri. (TribunBatam.id/Birri Fikrudin)