Di Balik Asap Ikan Salai Khas Natuna, Kisah Keteguhan Hati Seorang Ibu Menjaga Asa Keluarga ‎
January 13, 2026 08:23 PM

‎TRIBUNBATAM.id, NATUNA - Asap putih tipis mengepul perlahan dari pondok-pondok kayu sederhana di tepi Jalan Batu Kapal, Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

‎Bara api menyala di bawah rak atau tungku pengasapan yang penuh ikan tongkol tersusun rapi.

‎Di sela kepulan asap dan aroma ikan salai yang khas itu, berdirilah Zaharah (47), perempuan paruh baya dengan wajah tegar yang terbiasa dengan panas dan peluh.

‎Saat dijumpai, ia tampak mengenakan daster hijau sederhana.  

‎Di hadapannya, tungku kayu tradisional  menjadi saksi bisu perjuangan hidup yang ia jalani bertahun-tahun. 

‎Asap mengepung tubuhnya, menyisakan rutinitas yang keras namun penuh ketabahan.

‎Di pondok beratap seng itulah Zaharah menjemput rezeki.

‎Setiap hari, tangannya cekatan membolak-balik ikan tongkol segar yang diasapi, hingga berubah menjadi ikan salai khas Natuna salah satu makanan tradisional yang menjadi tumpuan hidup keluarganya.

‎Usaha ikan salai ini telah ia jalani selama 11 tahun. 

‎Bermula sekitar 2015 silam, Zaharah merintisnya bersama mendiang sang suami. 

‎Modalnya kala itu tak seberapa, hanya niat kuat dan keyakinan bahwa kerja keras akan membuka jalan.

‎“Saya mulai usaha ikan salai ini sejak 11 tahun lalu, dari nol bersama almarhum suami,” ujar Zaharah kepada TribunBatam.id, Senin (12/1/2026).

‎Awalnya, ia hanya berjualan lempar ikan ditepi jalan. 

‎Namun melihat peluang pasar, Zaharah mencoba mengolah ikan tongkol menjadi ikan salai. 

‎Keputusan itu bukan tanpa tantangan, tetapi ia jalani demi satu tujuan yaitu menghidupi keluarga dan menyekolahkan dua anaknya yang saat itu masih duduk di bangku SMP.

‎Waktu pun berjalan begitu cepat, cobaan demi cobaan datang silih berganti. 

‎Apalagi sang suami meninggal dunia, meninggalkan Zaharah bersama dua anak yang masih membutuhkan biaya hidup dan pendidikan. 

‎Sejak saat itu, ia harus menguatkan diri, melanjutkan usaha seorang diri, dengan sesekali dibantu anak-anaknya.

‎“Namanya usaha, pasti ada naik turunnya. Kadang habis terjual, kadang sepi,” katanya.

‎Penghasilan dari ikan salai tak pernah pasti. 

‎Pada masa ramai, Zaharah bisa membawa pulang sekitar Rp300 ribu per hari. 

‎Kini, pendapatan itu menurun, berkisar Rp150 ribu per hari. 

‎Dari usaha sederhana itulah, Zaharah berhasil mengantarkan anak-anaknya menyelesaikan pendidikan.

‎Satu anaknya bahkan lulus kuliah dari STAI Natuna, sementara satu lainnya menamatkan SMA dan telah mandiri.

‎“Alhamdulillah, anak-anak sudah selesai sekolah dan sekarang punya penghasilan sendiri. Itu kebanggaan saya sebagai orang tua,” ucapnya tersenyum. 

‎Perjalanan usaha Zaharah juga diwarnai perpindahan tempat, tapi tetap dikawasan Batu Kapal. 

‎Tercatat tiga kali ia harus menggeser pondok jualannya, mulai dari lokasi awal, pindah ke kawasan Perusda, hingga kembali menetap didepan lokasi awal akibat adanya penggusuran belum lama ini. 

‎Meski berpindah-pindah, pelanggan setia tetap datang.

‎Cita rasa khas ikan salainya menjadi kunci.

‎Zaharah hanya menggunakan ikan tongkol segar dengan racikan bumbu sederhana, namun memiliki satu rahasia yang membuat rasanya berbeda dan lebih tahan lama.

‎“Bumbunya biasa saja, tapi ada sedikit rahasia. Itu yang bikin ikan salai saya beda,” katanya sambil membalikkan ikan. 

‎Dalam sehari, ia bisa mengasapi hingga 20 hingga 30 ekor ikan, tergantung permintaan. 

‎Semua diolah segar, tanpa stok lama. Prinsipnya hanya satu, menjaga kualitas dan menjaga kepercayaan pelanggan. 

‎Kini, Zaharah telah menikah kembali. Perlahan, dari hasil usaha ikan salai, ia mulai membangun rumah untuk masa tua. 

‎Sedikit demi sedikit, seiring asap ikan salai yang terus mengepul dari pondok kayunya.

‎“Kami masih tinggal di pondok ini sambil jualan. Pelan-pelan bangun rumah,” ujarnya.

‎Di balik asap yang membubung dari tepi jalan Ranai, tersimpan kisah tentang keteguhan seorang ibu.

‎Bahwa dari pondok sederhana, Zaharah merawat harapan, membesarkan anak-anaknya, dan membuktikan bahwa perjuangan tak selalu harus megah, tapi cukup konsisten dan disyukuri. ‎(TribunBatam.id/Birri Fikrudin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.