Mengenal Kenduri Kue Apam di Siak, Tradisi Memohon Ampunan Jelang Bulan Ramadan
January 13, 2026 08:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Gedung Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Siak dipenuhi aroma kue apam yang khas. Uap tipis mengepul dari hidangan sederhana berbentuk bundar itu, membawa pesan lama yang kembali disajikan. 

Di tempat inilah Kenduri Kue Apam, tradisi adat Melayu Siak kembali digelar, Selasa (13/1/2026). Kegiatan ini digelar untuk memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW sekaligus menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.

Kenduri kue apam dimaksudkan bukan sekadar perjamuan. Kenduri ini ritual adat yang hidup dari ingatan kolektif masyarakat Melayu Siak.

Dahulu, tradisi ini rutin dilakukan setiap menjelang Ramadan. Masyarakat berkumpul, membawa kue apam dari rumah masing-masing, lalu berdoa bersama memohon keselamatan bagi negeri dan penghuninya. 

Seiring waktu, tradisi ini sempat meredup, tergerus oleh perubahan zaman. Namun LAMR Siak kembali menghidupkannya. 

kue apam
Kue apam tersaji di gedung LAMR Siak pada momen kenduri kue apam, Selasa (13/1/2026). 

Kue apam disusun rapi, lalu dibagikan kepada para hadirin usai doa bersama. Di sela kenduri, panitia juga menyerahkan santunan kepada 50 orang anak yatim. 

“Bahwa adat Melayu selalu berjalan seiring dengan nilai kepedulian sosial,” ujar Sekda Siak, Mahadar yang membuka acara tersebut. 

Mahadar yang juga lama menjadi pengurus LAMR Siak  menyebut kenduri apam sebagai warisan adat yang patut dijaga dan dirawat bersama.

Menurutnya, tradisi ini bukan hanya simbol budaya, tetapi juga cermin nilai keagamaan masyarakat Melayu.

“Kenduri apam adalah ungkapan rasa syukur dan doa bersama. Tradisi ini dahulu rutin dilakukan, dan hari ini kembali kita hidupkan sebagai ikhtiar memohon keselamatan, kesehatan, serta keberkahan dari Allah SWT,” ujar Mahadar. 

Ia mengapresiasi peran LAMR Kabupaten Siak yang konsisten menjaga marwah adat Melayu. Di tengah arus modernisasi, keberanian menghidupkan kembali prosesi adat dinilainya sebagai langkah penting agar identitas Melayu tetap tumbuh dan diwariskan kepada generasi muda.

Dalam khazanah Melayu, apam memiliki makna filosofis yang mendalam. Kata apam diyakini berasal dari kata afwan, yang berarti ampunan. Makna ini menjadikan kenduri apam sebagai simbol permohonan ampun kepada Allah SWT, sekaligus ajakan untuk saling memaafkan antar sesama manusia, terutama menjelang Ramadan.

Nilai itu sejalan dengan semangat Isra Mi’raj. Peristiwa agung perjalanan Nabi Muhammad SAW tersebut menjadi pengingat akan pentingnya menjaga salat sebagai tiang agama serta memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Kenduri apam pun menjadi ruang refleksi, tempat adat dan syariat bertemu dalam satu ikatan.

“Adat Melayu mengajarkan kita bahwa adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Kenduri apam adalah salah satu wujud nyata dari falsafah itu,” kata Mahadar.

Menjelang Ramadan, suasana kenduri terasa semakin bermakna. Di antara senyum para hadirin dan tangan-tangan yang menengadah dalam doa, terselip harapan agar bulan suci disambut dengan hati yang bersih dan niat yang tulus. 

Tradisi ini juga untuk memperbaiki hubungan sosial dan mempererat silaturahmi.

Pada kesempatan itu, Mahadar turut memohon doa masyarakat agar Pemerintah Kabupaten Siak mampu menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya, di tengah berbagai penyesuaian dalam tatanan birokrasi. Ia berharap, nilai-nilai kebersamaan yang tercermin dalam kenduri apam dapat menjadi spirit dalam membangun daerah.

“Selama adat dan iman berjalan seiring, Insyaallah Siak akan tetap menjadi negeri yang beradat, beriman, dan berkemajuan,” tutupnya.

(Tribunpekanbaru.com/mayonal putra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.