TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Berpuasa adalah ibadah yang dianjurkan dalam Islam.
Puasa artinya menahan diri dari lapar, haus, syahwat, dan hal-hal buruk lainnya dari waktu subuh hingga magrib.
Puasa sendiri ada yang bernilai hukum wajib yang berarti jika dikerjakan mendapatkan pahala, sementara apabila ditinggalkan mendapat dosa.
Ada juga puasa yang bernilai hukum sunah, yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan ditinggalkan pun tidak akan mengandung dosa.
Selain puasa wajib dan sunah, ada juga puasa yang hukumnya haram untuk dikerjakan.
Artinya jika berpuasa maka ia akan menuai dosa, bukan pahala, akan tetapi mengundang murka dari Allah Swt.
Dengan demikian ada beberapa waktu yang diharamkan berpuasa.
• Gabungkan Niat Puasa : Qadha Ramadhan, Puasa Rajab dan Puasa Sunnah Senin Kamis
Agar tidak terjatuh pada puasa yang bernilai haram, yuk kita mengetahui dulu waktu-waktu yang memang dilarang untuk berpuasa.
berikut sejumlah waktu puasa yang diharamkan dalam Islam dan perlu diketahui umat Muslim agar pelaksanaan ibadah tetap sesuai tuntunan syariat.
Puasa pada Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada 1 Syawal diharamkan meskipun disertai niat menjalankan puasa sunnah Syawal.
Larangan tersebut didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menetapkan Idul Fitri sebagai hari berbuka, bergembira, dan bersyukur setelah Ramadan.
Puasa sunnah Syawal baru diperbolehkan mulai tanggal 2 Syawal dan dapat dikerjakan selama enam hari, baik berurutan maupun terpisah.
Puasa pada Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada 10 Dzulhijjah termasuk puasa yang diharamkan dalam Islam.
Hari tersebut ditetapkan sebagai waktu pelaksanaan ibadah kurban dan perayaan besar umat Islam, sehingga tidak dibenarkan diisi dengan puasa.
Larangan ini berlaku bagi seluruh umat Islam, baik yang melaksanakan ibadah haji maupun yang tidak.
Puasa pada hari Tasyrik, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, diharamkan berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW.
Hari-hari Tasyrik disebut sebagai waktu makan, minum, dan memperbanyak zikir kepada Allah SWT.
Pengecualian hanya berlaku bagi jamaah haji yang tidak memperoleh hewan kurban dan belum sempat berpuasa di tanah haram sesuai ketentuan fikih.
Mazhab Syafi’i mengharamkan puasa sunnah setelah pertengahan bulan Sya’ban bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan puasa sunnah sebelumnya.
Ketentuan ini bertujuan menjaga kejelasan batas antara puasa sunnah dan puasa wajib Ramadan.
Puasa tetap dibolehkan apabila seseorang memiliki kebiasaan rutin, seperti puasa Senin-Kamis atau puasa sunnah lain yang telah dilakukan sebelum Nisfu Sya’ban.
Hari Syak merujuk pada tanggal 30 Sya’ban ketika terdapat keraguan apakah Ramadan telah masuk atau belum.
Puasa pada hari ini diharamkan apabila dilakukan dengan niat berjaga-jaga agar tidak tertinggal awal Ramadhan.
Sebagian ulama membolehkan puasa pada Hari Syak apabila bertepatan dengan puasa sunnah yang telah menjadi kebiasaan, bukan sebagai antisipasi Ramadhan.
Larangan puasa pada waktu-waktu tersebut menegaskan bahwa ibadah puasa memiliki aturan yang jelas dan terukur sesuai tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.