SURYA.CO.ID - Gubernur Dedi Mulyadi akhirnya menghubungi seorang purnawirawan TNI bernama Erik Supratman, yang viral mengaku pernah jadi ajudannya.
Melalui sebuah sambungan video, Dedi Mulyadi berbicara dengan Erik Supratman yang dirawat di Panti Gerialan Sia, Garut, Jawa Barat.
Sebelum Dedi Mulyadi menelepon, Erik Supratman terlebih dahulu mengiriminya pesan.
Baca juga: Ingat Nisya Pramugari Gadungan? Nasibnya Berubah, Kini Ditawari Beasiswa Full Sampai Lulus
"Saya ingin meminta bantuan Pak Gubernur. Saya ingin berbincang dengan Pak Gubernur. Semoga mungkin kita bisa berbincang," bunyi pesan tersebut.
Awalnya, pria ini mengaku berpangkat Mayor, namun Dedi Mulyadi merasa ada yang janggal karena faktor usia.
Dalam dialog yang cukup intens, Dedi mencoba menggali identitas asli sang mantan prajurit.
"Bapak terakhir pensiun di mana?" tanya Dedi.
"Di Jakarta... Kodam Jaya," jawab Erik.
"Pangkat bapak terakhir apa?"
"Kapten," jelas Erik meralat pernyataan sebelumnya.
Meskipun ingatannya mulai memudar karena usia dan kondisi fisik (linglung), Erik masih mengingat memori khusus tentang kediaman pribadi Dedi Mulyadi.
"Pernah ke rumah bapak yang banyak sapi itu," kata Erik.
"Oh rumah saya di Subang? Iya," ucap Dedi Muladi.
Dedi Mulyadi lantas menanyakan keberadaan keluarga dan uang pensiun yang menjadi hak Erik sebagai purnawirawan.
Jawaban Erik mengungkap fakta bahwa dirinya ditelantarkan oleh orang teedekat.
"Bapak dapat uang pensiun? Masih terima tiap bulan?" tanya Dedi.
"Enggak, sama istri diambil... diambil semua," tutur Erik.
Erik menceritakan kronologi bagaimana dirinya bisa sampai berada di bawah perawatan Dinas Sosial tanpa didampingi anak maupun istri.
"Tadinya saya pulang bawa mobil, gak bisa jalan, dirawat istri. Lama-lama dibohongi, dibawa ke dokter, ternyata dibuang," ungkapnya dengan nada pasrah.
Baca juga: Sambil Menangis, Celine Evangelista Menyesal Dulu Suka Berpakaian Terbuka: Bawa Negatif ke Orang
Bahkan saat ditanya mengenai nama istrinya, Erik hanya bisa menjawab pelan.
"Lupa lagi," katanya.
Meski kini kondisinya memprihatinkan, Erik mengaku pernah terjun ke medan perang demi negara.
"Pernah penugasan Timur-Timur?"
"Pernah, operasi Seroja."
"Aceh?"
"Iya, waktu gempa."
Mendengar pengabdian tersebut disia-siakan oleh keluarga, Dedi Mulyadi berkomitmen untuk mengembalikan hak Erik.
"Nanti saya telusuri jejak bapak lewat Kodam Jaya. Uang pensiunan bapak harus bapak terima," tegas Dedi.
Sebelum mengakhiri percakapan, Dedi menitipkan bantuan uang tunai sebagai bentuk penghormatan.
"Saya titip 5 juta untuk bekal bapak sehari-hari. Saya juga titip 5 juta untuk teman-teman yang merawat," pungkasnya.