Perbandingan Kekuatan Militer AS Vs Iran yang di Ambang Perang
TRIBUNNEWS.COM - Sebuah perang baru di 2026 kemungkinan besar segera terjadi, antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
AS menyatakan, bersiap menyerang Teheran untuk membela para demonstran Iran yang mendapat perlakuan dari pemerintah negara Persia tersebut.
Baca juga: Trump Isyaratkan Serbuan Segera Amerika Serikat ke Iran, Israel Siaga Ikutan Menyerang
Demonstrasi ini terjadi dan meluas setelah banyak warga Iran tidak puas terhadap krisis ekonomi yang terjadi. Krisis energi belakangan juga menghantam negara tersebut.
Situasi kritis yang menghantam Iran terjadi sebagai akumulasi saknsi internasional yang dijatuhkan AS dan sekutunya dengan dalih menghentikan pengembanganan teknologi nuklir Teheran yang mereka anggap menjadi ancaman bagi keamanan.
Demonstrasi yang terjadi di Iran sudah terjadi berhari-hari dan disikapi aparat negara dengan kekerasan, menyebabkan korban jiwa hingga ratusan, sejumlah laporan menyebut 648 jiwa, baik dari pihak pendemo maupun aparat.
Melalui sikap Trump, AS mau turun tangan dan mengancam menyerang Iran jika Teheran tetap memperlakukan demonstrasi dengan kekerasan.
Atas ancaman AS itu, para pemimpin Iran telah memperingatkan kalau mereka siap berperang.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersumpah dalam sebuah unggahan media sosial untuk memberikan respons "keras dan menakutkan" terhadap setiap serangan terhadap negaranya setelah pernyataan Trump.
Pezeshkian tidak memberikan rincian spesifik, tetapi komentarnya menimbulkan spekulasi tentang kemampuan militer Iran, meskipun personel, peralatan, dan anggarannya jauh lebih kecil dibandingkan militer AS.
Sebagai catatan, Iran adalah salah satu kekuatan militer global peringkat 20 besar dan menempati peringkat ke-16 dari 145 negara menurut Global Firepower.
Adapun Amerika Serikat berada di peringkat pertama di daftar tersebut.
Anggaran pertahanan tahunan Iran sebesar $15,5 miliar hanyalah sebagian kecil dari pengeluaran AS sebesar $895 miliar.
Angkatan bersenjata Iran terdiri dari 580.000 personel aktif dan 200.000 personel cadangan terlatih yang terbagi antara tentara tradisional dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menurut Institut Internasional untuk Studi Strategis.
Pasukan Garda Revolusi juga mengoperasikan Pasukan Quds, yang terkait dengan milisi proksi yang dikenal sebagai "Poros Perlawanan" yang meliputi Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, kelompok milisi di Suriah dan Irak, serta Hamas dan Jihad Islam Palestina di Gaza.
Rezim Iran juga memiliki milisi keagamaan Basij, sebuah pasukan paramiliter sukarelawan yang sering digunakan untuk menindak protes anti-pemerintah.
Sebagai perbandingan, AS memiliki sekitar 1,3 juta pasukan aktif dan 766.000 pasukan cadangan, menurut Global Firepower.
Mengenai kekuatan darat, Iran memiliki 1.713 tank dibandingkan dengan 4.640 tank milik AS dan 65.825 kendaraan lapis baja, sementara pasukan Amerika memiliki 391.963 kendaraan lapis baja.
Data dari Global Firepower juga menunjukkan bahwa Iran memiliki lebih banyak artileri tarik daripada AS (2.070 berbanding 1.212) dan lebih banyak peluncur roket bergerak (1.517 berbanding 641), tetapi Republik Islam tersebut jauh tertinggal dari AS dalam kemampuan angkatan laut dan udara.
AS memiliki lebih dari 13.000 pesawat, dibandingkan dengan 551 pesawat milik Iran, dengan keunggulan besar dalam pesawat tempur serta pesawat serang dan angkut khusus.
Di laut, armada Iran yang berjumlah 107 kapal hampir empat kali lebih sedikit daripada armada AS yang berjumlah 440 kapal.
Iran tidak memiliki kapal induk atau kapal perusak, sementara AS memiliki masing-masing 11 dan 81.
Namun, Teheran memiliki armada besar kapal cepat dan kapal selam yang dapat mengganggu lalu lintas pelayaran dan pasokan energi global yang melewati Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump mengatakan kepada wartawan pada hari Minggu mengenai tindakan terhadap Iran: “Militer sedang mempertimbangkannya, dan kami sedang melihat beberapa opsi yang sangat kuat.”
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, mengatakan saat terjadi serangan di parlemen bahwa jika terjadi serangan: “semua pusat militer, pangkalan, dan kapal Amerika di wilayah tersebut akan menjadi target sah kami,” menambahkan, “kami tidak menganggap diri kami terbatas pada bereaksi setelah kejadian dan akan bertindak berdasarkan tanda-tanda ancaman yang objektif.”
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Meskipun Trump telah memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Iran, presiden AS tersebut diperkirakan akan bertemu dengan tim keamanan nasionalnya pada hari Selasa untuk membahas opsi intervensi lebih lanjut, demikian dilaporkan BBC.
Laporan itu mencatat bahwa ia dikabarkan sedang mempertimbangkan serangan rudal, opsi siber, dan kampanye psikologis di antara opsi-opsi rahasia dan militer.
(oln/nw/bbc/*)