SDN Marambeau Pasangkayu Terendam Banjir Lima Hari, Aktivitas Belajar Terganggu
January 14, 2026 02:45 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM,PASANGKAYU- Halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) Marambeau, Desa Karya Bersama, Kecamatan Pasangkayu, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat (Sulbar) masih terendam banjir.

Air yang menggenangi sekolah tersebut sudah lima hari hingga membuat aktivitas belajar mengajar terhambat.

Pantauan Tribun-Sulbar.com, Rabu (14/1/2026), ketinggian air mencapai betis orang dewasa.

 Genangan air tampak menutupi seluruh halaman dan mengelilingi bangunan sekolah. 

Baca juga: Gubernur SDK Minta Program Intervensi Anak Putus Sekolah Lebih Tepat Sasaran

Baca juga: Jalan Poros Bayor - Pangalloang Mamuju Tengah Terancam Putus Akibat Erosi Sungai

Akses menuju ruang kelas menjadi sulit, bahkan di beberapa titik air telah masuk ke dalam ruangan, membasahi lantai serta dinding bagian bawah kelas.

Air berwarna keruh kecokelatan itu merupakan luapan sungai yang berada tepat di belakang sekolah. 

Sisa lumpur terlihat mengendap di lantai kelas, sementara sejumlah perabot sekolah diangkat ke tempat lebih tinggi guna menghindari kerusakan.

Salah seorang warga setempat, Vivi, yang ditemui di lokasi mengatakan banjir di SDN Marambeau merupakan kejadian yang sudah berlangsung bertahun-tahun dan selalu terjadi setiap musim hujan.

“Ini luapan air sungai di belakang sekolah. Setiap musim hujan pasti banjir, sudah jadi langganan,” ujar Vivi.

Ia mengungkapkan, pada hari pertama banjir, aktivitas belajar mengajar terpaksa dipindahkan ke musala yang berada di depan sekolah demi keselamatan siswa dan guru.

“Hari pertama banjir, anak-anak belajar di musala depan sekolah, karena halaman dan ruang kelas sudah tergenang,” katanya.

Vivi menambahkan, kondisi ini sudah beberapa kali ditinjau oleh Pemerintah Daerah maupun DPRD Kabupaten Pasangkayu. 

Namun hingga kini belum ada pembenahan menyeluruh karena penanganannya membutuhkan dukungan dari Balai Sungai.

“Pemda dan DPRD sudah sering datang meninjau, tapi memang perlu pembenahan besar dan bantuan dari Balai Sungai,” jelasnya.

Selain banjir, warga juga mengaku khawatir dengan kemunculan predator muara saat debit air sungai meningkat. 

Vivi menyebutkan, saat banjir pernah ditemukan seekor buaya naik hingga ke permukiman warga, dan kejadian tersebut bukan kali pertama terjadi.

“Bukan hanya banjir yang kami takutkan, tapi juga kemunculan buaya. Pernah naik ke pemukiman warga waktu banjir, dan itu sudah sering,” tuturnya.

Meski hingga saat ini belum pernah menimbulkan korban jiwa, warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, seperti normalisasi sungai dan pembangunan sistem pengendalian banjir, agar aktivitas belajar siswa serta keselamatan masyarakat sekitar dapat terjamin.(*)

Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com Taufan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.