Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang menganggap flu sebagai penyakit ringan yang akan sembuh dengan sendirinya.
Persepsi inilah yang justru menjadi masalah ketika masyarakat berhadapan dengan influenza yang kini populer disebut sebagai super flu.
Baca juga: Super Flu Bukan Flu Babi atau Flu Burung, Ahli Paru Jelaskan Perbedaan Virusnya
Dokter sekaligus Ahli Paru dari RS Persahabatan, Prof. Erlina Burhan, menegaskan bahwa super flu sering kali tidak terasa berbeda di awal.
Sehingga membuat penderitanya lengah dan menunda pemeriksaan medis.
Padahal, pada sebagian orang, keterlambatan ini bisa membawa flu masuk ke fase yang lebih serius dan berbahaya.
Prof. Erlina menjelaskan bahwa secara medis, super flu maupun flu biasa tetap masuk dalam kelompok influenza like illness (ILI). Gejala awalnya pun hampir identik.
“Nah gejalanya kan ini sama dengan kita menyebutnya Influencer like illness ya,” ujar Prof. Erlina pada talkshow yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Rabu (14/1/2026).
Setelah masa inkubasi sekitar satu hingga empat hari, penderita bisa mengalami demam, batuk, nyeri tenggorok, pilek, nyeri otot, sakit kepala, hingga rasa lemas.
Pada sebagian orang dengan sistem imun yang sangat baik, gejala bahkan bisa tidak terasa sama sekali.
Kondisi inilah yang membuat banyak orang merasa aman dan memilih tetap beraktivitas seperti biasa.
Masalah muncul ketika tubuh tidak mampu melakukan pemulihan optimal.
Kurang istirahat, stres berkepanjangan, serta daya tahan tubuh yang menurun membuat virus terus berkembang.
Gejala yang awalnya ringan perlahan berubah: batuk makin berat, tubuh semakin lemah, dan mulai muncul sesak napas.
Baca juga: Pasien Super Flu Meninggal di Bandung, Kondisinya Komorbid, Ini Fakta yang Perlu Diketahui
“Kalau sesak nafasnya dibiarkan maka terjadi kekurangan oksigen di dalam darah,” jelas Prof. Erlina.
Kondisi kekurangan oksigen atau hipoksemia ini berbahaya karena dapat mengganggu fungsi organ vital.
Pada kasus berat, penderita bisa mengalami kebingungan hingga penurunan kesadaran.
Salah satu pesan penting yang ditekankan Prof. Erlina adalah durasi gejala.
Flu yang tak menunjukkan perbaikan setelah empat hari perlu diwaspadai, terutama jika disertai demam tinggi dan sesak.
“Kalau sudah 4 hari kejala tidak membaik bahkan makin berat, segeralah berobat ke rumah sakit mungkin perlu oksigen,” tegasnya.
Pada tahap ini, penanganan medis menjadi krusial. Pasien mungkin memerlukan oksigen tambahan, cairan infus, hingga terapi antivirus yang hanya bisa diberikan di fasilitas kesehatan.
Flu yang dibiarkan bukan hanya soal rasa tidak nyaman. Prof. Erlina mengingatkan bahwa influenza dapat berkembang menjadi pneumonia akibat virus, bahkan diperberat oleh infeksi bakteri tambahan atau double infection.
Pada lansia dan penderita penyakit penyerta, kondisi ini bisa memperberat penyakit yang sudah ada dan mempercepat penurunan kondisi tubuh.
Karena itu, flu tidak seharusnya dinilai dari seberapa “ringan” gejala di hari pertama, melainkan dari bagaimana tubuh merespons dalam beberapa hari berikutnya.
Meski demikian, Prof. Erlina menegaskan bahwa tidak semua flu akan menjadi berat. Banyak kasus akan membaik dalam satu hingga tiga hari jika ditangani dengan benar.
Istirahat cukup, tidur teratur, makan tepat waktu, tidak merokok, dan mengelola stres menjadi kunci utama.
Mengabaikan kebutuhan dasar tubuh justru bisa mempercepat kondisi memburuk.
Super flu bukan soal virus yang selalu ganas, melainkan tentang kapan flu berhenti menjadi ringan dan mulai berbahaya.
Kesadaran inilah yang penting agar masyarakat tidak lagi meremehkan flu, namun juga tidak panik berlebihan.