SERAMBINEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh Israel secara konsisten berupaya menyeret Amerika Serikat ke dalam perang demi kepentingannya sendiri.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi melalui unggahan di aplikasi Telegram.
“Israel selalu berusaha menyeret Amerika Serikat untuk berperang atas namanya,” kata Araghchi dikutip dari Al Jazeera, Rabu (14/1/2026).
Ia juga menuding Israel berada di balik meningkatnya kekerasan di dalam negeri Iran.
Menurutnya, Israel secara terbuka mengklaim telah mempersenjatai para pengunjuk rasa dengan senjata perang, yang disebutnya menjadi penyebab ratusan korban jiwa.
“Sekarang jalan-jalan kami telah berlumuran darah. Israel dengan bangga mengatakan bahwa mereka mempersenjatai para pengunjuk rasa dengan senjata perang, dan inilah alasan ratusan kematian,” tulis Araghchi.
Dalam pernyataannya, Araghchi turut menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan mendesaknya untuk bertindak menghentikan eskalasi kekerasan.
“Presiden Trump sekarang harus tahu ke mana harus berpaling untuk menghentikan pertumpahan darah,” ujarnya.
Sementara itu, Prancis menyatakan tengah menjajaki kemungkinan pengiriman terminal satelit Eutelsat ke Iran guna membantu penyediaan layanan internet di tengah pemadaman komunikasi yang sedang berlangsung.
Baca juga: AS Desak Warganya Tinggalkan Iran Lewat Jalur Darat, Trump Pertimbangkan Opsi Militer
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, di hadapan parlemen.
“Kami sedang menjajaki semua opsi, dan yang Anda sebutkan ada di antaranya,” kata Barrot ketika menanggapi pertanyaan anggota parlemen terkait pengiriman terminal Eutelsat.
Sejak protes pecah pada 8 Januari, otoritas Iran dilaporkan memutus layanan internet secara nasional, sehingga membatasi informasi dan liputan mengenai aksi demonstrasi tersebut.
Di sisi lain, Israel menekan Prancis agar mendukung penetapan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran sebagai organisasi teroris di Uni Eropa.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, mengaku telah mengangkat isu tersebut dalam pembicaraan dengan mitranya dari Prancis.
Dalam unggahan di platform X, Saar menyatakan bahwa langkah tersebut akan “mengirimkan pesan yang jelas kepada rakyat Iran”.
IRGC merupakan cabang militer Iran yang dibentuk pasca-Revolusi Iran 1979.
Pasukan ini beroperasi berdampingan dengan tentara reguler dan bertanggung jawab langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
IRGC memiliki peran penting dalam pertahanan nasional, operasi luar negeri, serta pengaruh regional Iran.
Uni Eropa sebelumnya telah beberapa kali membahas kemungkinan penetapan IRGC sebagai organisasi teroris.
Namun, negara-negara anggota masih terpecah.
Berdasarkan aturan Uni Eropa, keputusan tersebut memerlukan persetujuan bulat dari seluruh 27 negara anggota, dan hingga kini belum ada proposal atau mosi resmi terkait hal tersebut.(*)