Sosok Serma Edi Sutono, Terima Sangkur Perak usai Selamatkan Nyawa Tentara Elite Filipina
January 15, 2026 05:15 AM

 

TRIBUNNEWS.COM -Sebuah kisah keberanian lahir dari langit saat latihan bersama militer internasional antara TNI dan tentara FIlipina.

Panglima Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Letjen TNI Djon Afriandi secara resmi menganugerahkan Sangkur Perak kepada Serma Edi Sutono atas aksi heroiknya yang mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan seorang prajurit pasukan khusus Filipina dalam latihan terjun bebas bersama.

Pangkat Sersan Mayor (Serma) adalah pangkat dalam golongan Bintara di Tentara Nasional Indonesia (TNI), satu tingkat di bawah Pembantu Letnan Dua (Pelda) dan satu tingkat di atas Sersan Kepala (Serka), berfungsi sebagai penghubung antara Tamtama dan Perwira, seringkali memimpin regu atau menjadi pelatih, setara dengan Brigadir Polisi Kepala (Bripka) di Polri. 

Sangkur Perak merupakan penghargaan tertinggi di lingkungan Kopassus. Kali ini diberikan setelah Serma Edi melakukan tindakan penyelamatan dramatis dalam Latihan Bersama DOLPHINE XVI, sebuah latihan kerja sama antara Kopassus dan Special Operations Command (SOCOM) Filipina.

Peristiwa heroik tersebut terjadi saat Serma Edi melakukan penerjunan freefall tandem bersama Sgt. Sabado, anggota pasukan khusus Filipina.

Keduanya melompat dari pesawat pada ketinggian sekitar 10.000 kaki, sebuah prosedur standar dalam latihan pasukan khusus lintas negara.

Hingga berada di ketinggian 5.000–4.500 kaki, penerjunan berlangsung stabil.

Namun, situasi berubah menjadi kritis saat memasuki ketinggian sekitar 3.000 kaki.

Serma Edi menyadari rekannya mengalami blackout atau tidak sadarkan diri di udara, kondisi yang sangat berbahaya dalam terjun bebas.

Tanpa ragu dan tanpa mempertimbangkan keselamatannya sendiri, Serma Edi melakukan pengejaran di udara (mid-air chase) terhadap Sgt. Sabado yang terus meluncur tanpa kendali.

Dalam kondisi kecepatan tinggi dan waktu yang sangat terbatas, ia berhasil mendekat, lalu menarik tuas payung utama milik Sgt. Sabado hingga mengembang sempurna.

Baca juga: Grup 4 Kopassus akan Bermarkas di Kukar, Ratusan Hektare Lahan dan Ribuan Prajurit Disiapkan

Tindakan cepat tersebut menyelamatkan nyawa prajurit Filipina itu dari kematian yang nyaris tak terhindarkan.

Namun, keputusan heroik itu membawa konsekuensi besar bagi dirinya sendiri.

Payung Gagal, Tubuh Menabrak Pohon

Akibat manuver penyelamatan tersebut, Serma Edi kehilangan ketinggian aman untuk membuka parasutnya sendiri. 

Saat berusaha mengembangkan payung utama, parasutnya tidak mengembang sempurna.

Dalam situasi darurat, ia segera menarik payung cadangan, namun tetap meluncur dengan kecepatan tinggi hingga menabrak pohon sebelum akhirnya jatuh ke tanah.

Insiden itu menyebabkan cedera serius, termasuk patah pada bagian kaki.

Meski demikian, nyawa Sgt. Sabado berhasil diselamatkan, sebuah pengorbanan yang menjadi dasar utama penganugerahan Sangkur Perak.

Panglima Kopassus menilai tindakan Serma Edi sebagai cerminan nilai tertinggi prajurit Kopassus: keberanian, loyalitas, dan solidaritas tanpa batas, bahkan terhadap prajurit negara sahabat.

"Sangkur Perak bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan pengakuan resmi atas tindakan yang melampaui tugas dan mempertaruhkan hidup demi menyelamatkan orang lain," jelasnya dikutip dari laman resmi.

(Tribunnews.com/ Chrysnha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.