TRIBUNNEWS.COM - Gelombang protes besar di Iran kembali mengguncang dunia, dengan laporan korban mencapai 12.000 jiwa.
Di tengah krisis yang menyita perhatian internasional, utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan bertemu dengan Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran yang diasingkan.
Demonstrasi besar-besaran di Iran yang berlangsung sejak Desember 2025 lalu telah memakan korban jiwa sebanyak 12.000 orang.
Menurut sumber-sumber senior pemerintah dan keamanan, jumlah korban tewas tersebut sebagian besar terjadi pada tanggal 8 dan 9 Januari 2026 selama pemadaman internet yang sedang berlangsung.
Pembunuhan itu dilakukan atas perintah langsung Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Iran International melaporkan, Iran berada di bawah pemadaman informasi terkoordinasi yang bertujuan tidak hanya untuk kontrol keamanan, tetapi juga untuk menyembunyikan kebenaran.
Pemutusan internet, komunikasi yang lumpuh, penutupan media, dan intimidasi terhadap jurnalis dan saksi mengarah pada satu tujuan: mencegah kejahatan besar dan bersejarah agar tidak terlihat.
Media massa di dalam negeri telah ditutup.
Ratusan surat kabar nasional dan lokal, sebuah perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah pers Iran, telah bungkam sejak Kamis (8/1/2026).
"Ini bukanlah pengendalian krisis. Ini adalah pengakuan rasa takut bahwa kebenaran akan terungkap," tulis Iran International.
Situs-situs tersebut pun beroperasi di bawah sensor dan kendali langsung lembaga keamanan.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Utusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Steve Witkoff dilaporkan mengadakan pertemuan rahasia dengan Putra Mahkota Iran, Reza Pahlavi.
Menurut laporan Axios, pertemuan antara Witkoff dengan Reza Pahlavi terjadi selama akhir pekan lalu.
Dalam laporannya, Axios mengutip pernyataan pejabat senior AS yang menyatakan pertemuan tersebut untuk membahas demonstrasi yang tengah terjadi di Iran.
Pertemuan ini menjadi pertemuan tingkat tinggi pertama antara oposisi Iran dengan pemerintahan Trump sejak protes terjadi.
Axios mencatat Pahlavi telah mencoba untuk menampilkan dirinya sebagai pemimpin "transisi" jika rezim tersebut jatuh.
"Pahlavi semakin populer. Mereka meneriakkan namanya dalam demonstrasi di banyak kota dan tampaknya hal itu terjadi secara alami," kata pejabat AS itu kepada Axios.
Ayah Pahlavi, Shah Mohammad Reza Pahlavi, digulingkan selama Revolusi Islam 1979, yang mengubah negara itu dari monarki menjadi Republik Islam.
Selama dua minggu terakhir, Pahlavi telah muncul di jaringan televisi AS menyerukan pemerintahan Trump untuk campur tangan dan mendukung protes tersebut.
Kini, tim keamanan nasional Gedung Putih mengadakan pertemuan pada Selasa (13/1/2026) pagi untuk membahas opsi-opsi dalam menanggapi protes.
Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada Axios pembahasan di dalam pemerintahan masih berada pada tahap yang relatif awal.
"Saat ini kami masih belum dalam tahap pengambilan keputusan terkait tindakan militer," kata pejabat itu.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengatakan dalam pertemuan tertutup beberapa hari terakhir, pada tahap ini, pemerintah sedang mempertimbangkan respons non-kinetik untuk membantu para demonstran, menurut sumber yang memiliki pengetahuan langsung.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negara mana pun yang tetap berbisnis dengan Iran akan menghadapi tarif impor sebesar 25 persen dalam perdagangan dengan Amerika Serikat, Reuters melaporkan.
Iran merupakan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan tercatat mengekspor produk ke 147 mitra dagang pada 2022, berdasarkan data terbaru World Bank.
Berdasarkan nilai, bahan bakar menjadi komoditas ekspor utama Iran.
Sementara itu, impor terbesar negara tersebut mencakup barang setengah jadi, bahan pangan, mesin, dan peralatan industri.
Berikut enam negara yang berpotensi terkena tarif 25 persen dari AS akibat hubungan dagang dengan Iran:
1. China
China merupakan mitra dagang terbesar Iran.
Ekspor Iran ke China mencapai US$22 miliar pada 2022, dengan bahan bakar menyumbang lebih dari separuh total nilai ekspor.
Sementara impor Iran dari China tercatat sekitar US$15 miliar.
Pada 2025, China membeli lebih dari 80 persen minyak ekspor Iran, menurut data perusahaan analitik Kpler.
Terbatasnya jumlah pembeli minyak Iran disebabkan sanksi AS yang bertujuan menekan pendanaan program nuklir Iran.
2. India
Total perdagangan bilateral India–Iran mencapai US$1,34 miliar selama 10 bulan pertama 2025, berdasarkan data Kementerian Perdagangan India.
Ekspor utama India ke Iran meliputi beras basmati, buah-buahan, sayuran, serta produk farmasi.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Manuver luar negeri Perdana Menteri Kanada, Mark Carney pada pekan ini menjadi sorotan sejumlah pihak terutama di kawasan Amerika Utara.
Hal ini terjadi Carney akan melakukan kunjungan resmi ke China, pada Rabu ini (14/1/2025), yang juga menandai kunjungan pertama pimpinan tertinggi Kanada di Negeri Tirai Bambu dalam hampir satu dekade.
Carney sendiri tak mau menjelaskan secara gamblang terkait alasannya melakukan kunjungan ke China.
Ia hanya mau mengatakan bahwa kunjungannya ke China ini merupakan langkah guna mengantisipasi "gangguan" perdagangan global yang dialami negaranya.
“Di saat terjadi gangguan perdagangan global, Kanada berfokus untuk membangun ekonomi yang lebih kompetitif, berkelanjutan, dan mandiri,” ujar Carney dalam sebuah pernyataan.
Carney dalam pernyataannya juga menyindir AS secara implisit dengan mengatakan bahwa Kanada tak bisa tergantung lagi pada satu mitra dagang saja.
“Kami menjalin kemitraan baru di seluruh dunia untuk mengubah ekonomi kami dari ekonomi yang bergantung pada mitra dagang tunggal.” ungkap Carney.
Carney sendiri dijadwalkan bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping, pada hari Jumat (16/1/2026) beserta sejumlah pejabat tinggi lainnya.
Dikutip dari Associated Press, dalam pengarahan kepada wartawan tersebut, Pejabat pemerintah Kanada juga menyatakan bahwa kunjungan ini merupakan upaya untuk menghidupkan kembali kemitraan strategis yang sempat mati suri.
Mereka juga menyoroti intervensi Washington di Venezuela yang berdampak luas.
Meskipun pejabat Kanada memprediksi adanya kemajuan terkait hambatan perdagangan dengan Beijing, mereka menegaskan tidak akan ada penghapusan tarif tertentu secara definitif.
Sementara itu, dua anggota parlemen dari kubu Carney, Helena Jaczek dan Marie-France Lalonde, memutuskan untuk mengakhiri kunjungan mereka ke Taiwan lebih awal.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Rusia mengutuk apa yang digambarkannya sebagai "campur tangan eksternal subversif" dalam politik internal Iran.
Rusia juga mengatakan, ancaman Amerika Serikat (AS) untuk serangan militer baru terhadap negara itu "sama sekali tidak dapat diterima."
Aksi protes yang terjadi di Iran saat ini dimulai pada 28 Desember 2025 sebagai respons terhadap kenaikan harga yang melonjak, sebelum kemudian berbalik melawan penguasa ulama yang telah memerintah sejak Revolusi Islam 1979.
Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan Iran akan "terkena dampak parah" jika para pengunjuk rasa terbunuh, sehingga kembali memfokuskan perhatian pada tindakan apa yang mungkin diambil Washington seiring berlanjutnya kerusuhan.
Rusia lantas memberi kecaman setelah Trump menyampaikan ancamannya terhadap Iran.
"Mereka yang berencana menggunakan kerusuhan yang diilhami dari luar sebagai dalih untuk mengulangi agresi terhadap Iran yang dilakukan pada Juni 2025 harus menyadari konsekuensi buruk dari tindakan tersebut bagi situasi di Timur Tengah dan keamanan internasional global," kata kementerian luar negeri Rusia dalam sebuah pernyataan, Selasa (13/1/2026), dilansir Al Arabiya.
Jelang Keputusan Trump
Tim keamanan nasional Trump mengadakan pertemuan pada Selasa pagi untuk membahas situasi di Iran dan meninjau intelijen terbaru dari lapangan.
Pertemuan kedua dengan pejabat yang lebih senior dijadwalkan pada pukul 4 sore EST untuk menilai perkembangan lebih lanjut.
Trump tidak menghadiri pertemuan pagi, dan sesi sore diperkirakan akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance.
Saat mengunjungi Michigan pada Selasa, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa mereka "harus mencari solusinya" ketika ditanya tentang jenis bantuan apa yang mungkin diberikan AS kepada Iran.
BACA SELENGKAPNYA >>>
(Tribunnews.com)