Kini Punya Jabatan Top, Ini Rekam Jejak Sri Mulyani dari Akademisi hingga Menkeu 3 Periode
January 15, 2026 09:04 AM

 

SURYA.CO.ID - Nama Sri Mulyani tak pernah meredup meski karier di pemerintah berakhir sejak awal September 2025.

Tepatnya, saat Presiden Prabowo melakukan reshuffle kabinet dan menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) yang baru menggantikan Sri Mulyani. 

Beberapa bulan tak menjabat sebagai bendahara negara, Sri Mulyani justru mengabarkan bahwa dirinya mendapat tawaran di luar negeri.

Pengajar di Inggris

Ia diminta menjadi pengajar. 

Bukan di Indonesia, sosok yang dinobatkan sebagai wanita pertama yang menjabat sebagai Menkeu di Indonesia ini akan mengajar di University of Oxford, Inggris, mulai tahun ini. 

Ia terpilih mengikuti World Leaders Fellowship di Blavatnik School of Government di kampus tersebut. 

Sepanjang masa fellowship, Sri Mulyani akan terlibat dalam berbagai agenda, mulai dari pendampingan mahasiswa dan alumni, diskusi dengan para pemimpin global, hingga eksplorasi pendekatan baru dalam tata kelola dan kebijakan publik.

Baca juga: Nasib Sri Mulyani Eks Menkeu Makin Mujur usai Dicopot dan Digantikan Purbaya, Kini Punya Jabatan Top

SIR MULYANI MENGAJAR - Kolase foto Sri Mulyani dan Universitas Oxford. Simak profil Universitas Oxford Tempat Sri Mulyani Mengajar.
SIR MULYANI MENGAJAR - Kolase foto Sri Mulyani dan Universitas Oxford. Simak profil Universitas Oxford Tempat Sri Mulyani Mengajar. (Kolase Kompas.com dan Dok PSF)

Dalam keterangannya, Sri Mulyani menyebut keikutsertaannya sebagai sebuah kehormatan.

Ia menilai Blavatnik School merupakan ruang penting bagi pertukaran perspektif dalam membahas tantangan kebijakan publik lintas negara.

"Saya berharap dapat berkontribusi, berbagi pengalaman sambil terus belajar, dan mendukung generasi berikutnya sebagai pembuat kebijakan sehingga mereka siap memimpin dengan integritas, kompetensi, dan martabat dalam lingkungan yang semakin kompleks," ucap Sri dikutip di laman resmi Blavatnik School of Government, Kamis (11/12/2025).

Sementara Dekan Blavatnik School, Ngaire Woods, menilai bahwa Sri Mulyani memiliki rekam jejak yang mumpuni dalam kebijakan ekonomi global.

Pengalaman ini akan menjadi sumber pembelajaran berharga bagi mahasiswa dari lebih dari 60 negara yang berkuliah di institusi tersebut.

Digandeng Perusahaan Bill Gates

Selain menjadi pengajar, baru-baru ini Sri Mulyani juga mendapat kepercayaan bergabung dengan organisasi milik pendiri Microsoft, Bill Gates, dan istrinya, Melinda Gates.

Di perusahaan tersebut, Sri Mulyadi akan menjabat sebagai dewan pengurus (governing board) Gates Foundation.

"Kami menginvestasikan keahlian dan sumber daya kami pada organisasi, lembaga penelitian, dan aliansi global yang mendorong kemajuan menuju masa depan yang bebas dari penyakit menular, memberikan kesempatan ekonomi bagi semua, serta menjamin kesehatan ibu dan bayi," tulis laman resmi Gates Foundation, Rabu (14/1/2026) sore.

Dalam jajaran Governing Board Gates Foundation, Sri Mulyani Indrawati berperan pada level strategis.

Ia akan terlibat dalam penentuan arah kebijakan yayasan, penetapan prioritas program, serta pengawasan penggunaan sumber daya agar berjalan efektif dan berkelanjutan.

Peran tersebut mencakup pemberian panduan kebijakan berbasis bukti, penguatan tata kelola organisasi, serta memastikan alokasi dana filantropi selaras dengan tujuan jangka panjang Gates Foundation.

Fokus utama diarahkan pada isu-isu krusial, seperti kesehatan global, pengentasan penyakit menular, serta upaya pengurangan kemiskinan di berbagai negara.

CEO Gates Foundation sekaligus anggota dewan pengurus, Mark Suzman menyatakan, alasan menggandeng Sri Mulyani dalam organisasi tersebut.

Ia menyebut, pengalaman Sri Mulyani dalam bidang ekonomi yang panjang dan beragam menjadi salah satu alasan penunjukkannya menjadi dewan pengurus.

"Sri Mulyani membawa pengalaman yang sangat mendalam dalam membentuk hasil pembangunan ekonomi yang lebih adil, keahlian yang sangat penting untuk mencapai tujuan jangka panjang yayasan ini," kata Suzman.

Dua peran baru ini bukan sebuah kebetulan, melainkan buah dari perjalanan panjang Sri Mulyani.

Menilik ke belakang, Sri Mulyani memiliki rekam jejak mumpuni di bidang ekonomi, khususnya saat menjabat sebagai Menkeu hampir dua dekade terakhir. 

Bagaimana Rekam Jejak Sri Mulyani?

Sri Mulyani Indrawati lahir di Bandar Lampung, Lampung, pada 26 Agustus 1962. Ia merupakan anak ketujuh dari sepuluh bersaudara.

Kedua orangtuanya merupakan akademisi ternama di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Ayahnya, Prof Satmoko wafat pada 2006, sedangkan ibunya, Prof Dr Retno Sriningsih, berpulang dua tahun kemudian, tepatnya pada 2008.

Sejak kecil, Sri Mulyani tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menekankan pentingnya pendidikan.

Setelah menamatkan pendidikan menengah di SMA Negeri 3 Semarang, ia melanjutkan studi ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI).

Pada 1986, ia meraih gelar sarjana ekonomi dan sempat aktif sebagai asisten pengajar di kampus tersebut.

Perjalanannya ke dunia akademik berlanjut hingga ke luar negeri. Pada 1988, ia menempuh pendidikan pascasarjana di University of Illinois at Urbana-Champaign, Amerika Serikat.

Di kampus inilah ia meraih gelar Master of Science pada 1990, dan dua tahun kemudian berhasil menuntaskan program doktoral.

Disertasinya berjudul “Measuring the Labor Supply Effects of Income Tax Using a Life-Cycle Labor Supply Model: An Application to Indonesia” yang membahas pengaruh pajak penghasilan terhadap pasokan tenaga kerja di Indonesia.

Dari akademisi ke panggung nasional

Usai meraih gelar doktoral di University of Illinois, Sri Mulyani kembali ke tanah air dan mengabdikan diri di Universitas Indonesia sebagai dosen.

Suaranya kemudian kerap terdengar di ruang publik, terutama lewat pandangan kritis terhadap krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada akhir 1990-an.

Pada 6 Agustus 1998, ia bersama sejumlah ekonom kenamaan antara lain Anwar Nasution, Sjahrir, Mari Elka Pangestu, Rizal Ramli, Faisal Basri, Thee Kian Wie, dan Didiek J Rachbini menandatangani Deklarasi Penyelamatan Ekonomi Indonesia di Jakarta.

Pernyataan itu menjadi seruan moral untuk menjaga bangsa dari keterpurukan lebih dalam.

“Jangan sampai kita dipaksa oleh sebuah revolusi sosial,” kata Sri Mulyani kala itu, dikutip Kompas (7/8/1998).

Kiprah tersebut membuat Presiden Abdurrahman Wahid meliriknya. Pada 1999, ia ditunjuk sebagai Sekretaris Dewan Ekonomi Nasional yang diketuai Emil Salim. Inilah pintu pertama Sri Mulyani masuk ke lembaga pemerintahan.

Meniti karier internasional

Kariernya merambah panggung global pada 2001. Sri Mulyani sempat menjadi konsultan untuk US Agency for International Development (USAID) dan mengajar sebagai profesor di Andrew Young School of Policy Studies, Georgia State University.

Tak lama berselang, ia dipercaya menduduki kursi Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) mewakili 12 negara ASEAN.

Posisi prestisius itu membuat namanya semakin diperhitungkan di dunia ekonomi internasional.

Sekembali ke Indonesia, Sri Mulyani kembali aktif di Universitas Indonesia, termasuk menjabat Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI.

Menteri Keuangan

Nama Sri Mulyani makin melesat ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajaknya bergabung dalam kabinet. Pada 22 Oktober 2004, ia ditunjuk sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.

Namun, hanya dua bulan berselang, ia dipercaya memimpin Kementerian Keuangan menggantikan Jusuf Anwar.

Selama masa jabatannya, ia dikenal piawai menjaga stabilitas makroekonomi, menurunkan biaya pinjaman, mengelola utang, serta meningkatkan kepercayaan investor asing.

Reputasi itulah yang kemudian membawanya ke kursi Direktur Pelaksana Bank Dunia pada 1 Juni 2010, jabatan yang diembannya hingga enam tahun berikutnya.

Pada 2016, Presiden Joko Widodo kembali memanggil Sri Mulyani pulang untuk mengisi kursi Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja.

Kepercayaan itu berlanjut di periode keduanya pada 2019.

Ia pun akhirnya menjadi Menkeu pertama yang menjabat tiga periode pemerintahan secara berturut-turut.

Deretan Prestasi dan Penghargaan

Rekam jejak Sri Mulyani tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga mendapat apresiasi luas dari dunia internasional.

Pada 2006, ketika menjabat Menteri Keuangan di Kabinet Indonesia Bersatu (2005—2009), ia dinobatkan sebagai The Best Finance Minister in Asia oleh Emerging Market Forum.

Pada tahun yang sama, majalah keuangan bergengsi Euromoney menobatkannya sebagai The Finance Minister of the Year in the World.

Namanya juga berkali-kali masuk jajaran tokoh berpengaruh dunia. Majalah Forbes menempatkan Sri Mulyani sebagai salah satu dari 100 perempuan paling berpengaruh di dunia pada 2008 dan 2009.

Penghargaan itu menegaskan besarnya peran dan pengaruhnya dalam kebijakan makroekonomi internasional.

Prestasinya terus berlanjut. Pada 2018, Sri Mulyani kembali menuai pengakuan global dengan dua penghargaan bergengsi sekaligus.

Ia meraih gelar Best Minister in the World di ajang World Government Summit di Dubai.

Pada Oktober, majalah Global Markets menobatkannya sebagai Finance Minister of the Year 2018.

Kedua penghargaan ini ia raih ketika menjabat Menteri Keuangan di Kabinet Kerja (2014—2019).

===

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.  

Klik di sini untuk untuk bergabung 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.