TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Kondisi guiding block di Jakarta turut disorot dalam kasus tunanetra penumpang Transjakarta Care terjatuh ke got di sekitar Halte Kejaksaan Agung.
Selain faktor kelalaian petugas Transjakarta Care tidak mengantarkan penumpang hingga ke titik aman usai turun dari armada, kondisi guiding block dinilai turut memicu korban terjatuh.
Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) DPD DKI Jakarta, Ajad Sudrajad menilai kondisi guiding block turut memicu kejadian karena ubin pemandu di Jakarta belum ramah tunanetra.
"Guiding block sekarang juga masih belum terlalu pas. Masih banyak guiding block yang nabrak tiang, banyak guiding block (terdapat) di tutup got," kata Ajad di Jakarta Timur, Kamis (15/1/2026).
Menurut Pertuni tunanetra sebenarnya dapat berjalan dengan baik tanpa pendamping dengan alat bantu tongkat, dan bila kondisi akses jalan memiliki guiding block yang sesuai.
Namun dengan kondisi guiding block di Jakarta saat ini yang belum ramah terhadap tunanetra, para tunanetra kerap kesulitan saat berjalan meski sudah menggunakan tongkat pemandu.
Pertuni DPD DKI Jakarta pun menduga ada faktor kondisi akses trotoar yang tak ramah disabilitas, sehingga mengakibatkan wanita penumpang Transjakarta Care terjatuh ke got.
"Seperti kasus guiding block yang (terdapat pada) tutup got. Ketika kita injak (bagian tutup got), dia bakalan terbalik. Nah, di situ akhirnya teman-teman bisa kecebur ke got," ujarnya.
Atas hal tersebut Ajad menuturkan evaluasi tidak hanya perlu dilakukan Transjakarta, tapi juga Dinas Bina Marga DKI Jakarta selaku pihak yang berwenang menangani guiding block.
Pertuni DPD DKI Jakarta mendorong Transjakarta melakukan evaluasi menyeluruh, dan memastikan petugas Transjakarta Care mengantarkan setiap penumpang hingga ke titik aman.
Menurut Pertuni keselamatan penumpang merupakan hal mutlak dan tidak dapat ditawar, terlebih bagi Transjakarta Care yang layanannya memang dikhususkan untuk penyandang disabilitas.
"Kan biasanya teman-teman setelah turun (armada Transcare) itu diantarkan ke rumah, atau di titik aman. Di titik aman, ketika sudah tiba titik aman baru ditinggalkan (petugas)," tuturnya.
Sebelumnya sebuah video viral merekam wanita tunanetra terjatuh ke saluran air usai turun dari TransJakarta Care di kawasan Halte Transjakarta PLN Bulungan, Minggu (11/1/2026).
Berdasarkan narasi yang beredar disebutkan bahwa wanita tersebut sudah meminta petugas Transjakarta Care hingga ke titik aman, tapi petugas hanya mengarahkan jalur secara lisan.
Sehingga saat korban berjalan seorang diri tanpa pendamping, dia terperosok ke saluran air hingga mengakibatkan pakaian yang dikenakannya kotor terkena lumpur dan kotoran.
Anak buah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung ini juga memastikan telah menegur manajemen Transjakarta terkait insiden ini.
Ia pun mewanti-wanti pihak Transjakarta agar insiden seperti ini tidak terulang kembali di kemudian hari.
“Kai juga sudah menyampaikan teguran kepada manajemen Transjakarta, ke depan hal ini tidak boleh terulang kembali,” ucapnya.
Syafrin menambahkan, komunikasi telah dilakukan antara pihak Transjakarta dan korban.
Ia memastikan, persoalan ini sudah ditindaklanjuti dan pihak Transjakarta juga telah menyampaikan permintaan maaf secara langsung.
“Dari rekan-rekan Transjakarta juga sudah komunikasi dengan beliau, yang bersangkutan, dan sudah ada penyelesaiannya,” ujarnya.