TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel, mengakui kualitas tiga tim besar yang menurutnya paling sulit dihadapi sepanjang paruh pertama BRI Super League 2025/2026.
Ketiga tim tersebut adalah juara bertahan Persib Bandung, Persija Jakarta dan Borneo FC.
Penilaian itu disampaikan Van Gastel setelah PSIM Yogyakarta menuntaskan 17 pertandingan di putaran pertama musim ini.
Menurutnya, ketiga tim tersebut menunjukkan kualitas dan efektivitas yang konsisten di lapangan, sejalan dengan posisi mereka di papan atas klasemen.
Tiga tim ini diketahui berada di tiga besar klasemen sementara Super League 2025/2026.
Persib pemuncak dengan 38 poin, diikuti Borneo FC 37 poin dan Persija di posisi ketiga dengan 35 poin.
“Saya pikir Jakarta (Persija) sangat bagus. Bandung (Persib) juga banyak berubah karena mereka menyesuaikan beberapa pemain lagi. Borneo sangat efektif,” ujar Van Gastel saat ditanya lawan terberat di paruh pertama, Kamis (15/1/2026).
“Pada akhirnya, jika Anda melihat klasemen, Bandung, Jakarta, dan Borneo adalah tim dengan kualitas terbaik,” lanjut pelatih asal Belanda tersebut.
Baca juga: Pelatih PSIM Yogyakarta Akui Kesulitan Hadapi Tim Low Block di Paruh Musim, Siapkan Strategi Baru
Selain membahas kekuatan lawan, Van Gastel juga menanggapi aspirasi sebagian suporter yang meminta agar pemain lokal seperti Riyatno Abiyoso dan M Iqbal mendapatkan menit bermain lebih banyak di putaran kedua nanti.
Namun, ia menegaskan bahwa setiap keputusan yang diambilnya murni berdasarkan kebutuhan tim untuk meraih kemenangan.
“Saya selalu bermain dengan tim terkuat saya,” tegas Van Gastel.
Ia menilai para pemain lokal memiliki kualitas dan etos kerja yang baik selama latihan, namun dirinya bukan tipe pelatih yang melakukan rotasi pemain hanya demi pemerataan menit bermain.
“Mereka punya kualitas dan mereka berlatih sangat keras. Saya puas dengan mereka. Tapi saya bukan pelatih yang melakukan apa yang kalian sebut sebagai rotasi. Saya tidak melakukannya,” jelasnya.
Van Gastel menambahkan bahwa dirinya selalu menyesuaikan komposisi pemain berdasarkan kebutuhan pertandingan.
“Saya menonton pertandingan dan saya memasukkan pemain yang dibutuhkan tim untuk laga tersebut. Saya bukan pelatih sosial. Saya hanya ingin menang,” ucapnya.
Terkait dinamika pengelolaan tim dan kebijakan internal klub, Van Gastel menyadari adanya kebiasaan dan tuntutan tertentu di sepak bola Indonesia.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa keterbatasan anggaran membuat beberapa opsi tidak bisa dijalankan.
“Begitulah cara orang-orang bekerja di sini, jadi kita harus menyesuaikan diri dan berbicara dengan manajemen. Tapi bagi saya itu bukan masalah karena tidak ada pikiran untuk itu,” pungkasnya. (*)