Menggali Alasan Kuliner Tradisional Enak di Kota Solo, Cita Rasa yang Tak Tertandingi
January 15, 2026 10:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Jika berbicara tentang destinasi wisata yang paling direkomendasikan di Jawa Tengah, Kota Solo hampir pasti berada di urutan teratas. 

Namun, daya tarik Solo bukan hanya soal megahnya Keraton atau kekayaan sejarahnya. 

Kini, Solo telah mengukuhkan posisinya sebagai surga bagi para pemburu kuliner.

Julukan Solo sebagai Kota Gastronomi bukanlah tanpa alasan. 

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menilai bahwa Solo memiliki perpaduan unik antara nilai sejarah yang kuat dan keberagaman cita rasa yang luar biasa.

Apa yang membuat kuliner Solo istimewa? Jawabannya terletak pada presentasi yang apik, harga yang sangat bersahabat di kantong, dan rasa yang universal cocok di lidah siapa saja. 

Lebih dari sekadar kenyang, setiap suapan di Solo sering kali membawa cerita dan narasi sejarah yang menambah pengalaman berwisata.

Baca juga: Eggi Sudjana Bongkar Alasan Temui Jokowi di Solo, Sebut Ibarat Musa Hadapi Firaun: Tidak Minta Maaf

Mahakarya Kuliner: Warisan Budaya Tak Benda Nasional

Eksistensi kuliner tradisional Solo bukan sekadar tren sesaat. 

Hal ini dipertegas oleh Andre Rahmanto, Wakil Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kota Solo. 

Ia mencatat bahwa pada tahun 2021, setidaknya ada lima kuliner asli Solo yang resmi diakui sebagai warisan budaya tak benda nasional:

- Serabi Notosuman

- Sate Kere

- Sate Buntel

- Timlo Solo

- Roti Kecik Ganep

Selain kelima hidangan tersebut, wisatawan selalu jatuh cinta pada Nasi Liwet yang memiliki pengaruh nasi samin, Tengkleng yang lahir dari kreativitas masyarakat di masa penjajahan Jepang, hingga Selat Solo yang merupakan hasil akulturasi cantik antara bistik ala Barat dan salad lokal.

Baca juga: 5 Kafe di Solo Cocok untuk Kerja, Brainstorming Sambil Ngopi, Harga Bersahabat, Internet Kencang

Alasan Mengapa Makanan Solo Begitu Beragam dan Lezat

Sejarah mencatat bahwa kekayaan kuliner Solo berakar dari kesuburan tanah dan posisinya sebagai pusat pemerintahan kerajaan. 

Sebagai titik temu perdagangan, berbagai hasil bumi melimpah masuk ke Solo, memacu masyarakatnya untuk terus berkreasi mengolah bahan pangan yang ada.

Sejarah mencatat salah satu momen penting pada tahun 1745. Saat perpindahan Keraton dari Kartasura menuju Solo (Boyong Kedhaton), terdapat 17 jenis jenang yang diarak sebagai simbol rasa syukur. 

Kala itu, gula kelapa masih menjadi pemanis utama sebelum industri gula tebu berkembang pesat.

Baca juga: Daftar Lokasi Nongkrong Malam Kekinian di Solo, Nyaman Buat Healing Biar Pikiran Tenang

Gaya Hidup Bangsawan dan Jejak Kolonial

Memasuki tahun 1830-an, di masa Hindia Belanda, bisnis perkebunan tebu dan kopi mulai menjamur di Solo. 

Kondisi ini melahirkan kelas baru di masyarakat, yaitu kaum priyayi dan bangsawan yang mulai menjadikan aktivitas kuliner sebagai bagian dari gaya hidup mewah.

Hobi kuliner para bangsawan ini tidak hanya memperkaya variasi makanan, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi rakyat melalui perdagangan makanan khas yang kita kenal hingga saat ini.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.