RSJ Dr Yaunin Gelar Seminar Bahaya Bullying dan Napza, Fokus Lindungi Kesehatan Jiwa Anak
January 15, 2026 03:02 PM

 

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Kasus perundungan atau bullying serta penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (Napza) pada anak dan remaja kini menjadi alarm keras bagi para orang tua dan tenaga medis.

Merespons fenomena yang kian mengkhawatirkan tersebut, RSJ Dr. Yaunin menggelar seminar edukatif bertajuk “The Mind & Nerve Shield” yang bertempat di Aula Lantai 3 RSJ Dr. Yaunin, Kamis (15/1/2026).

Direktur RSJ Dr. Yaunin, Yulhasmida, secara terbuka mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap tren peningkatan kasus perundungan yang terjadi di tengah masyarakat saat ini.

Menurutnya, fenomena bullying bukan lagi sekadar kenakalan biasa, melainkan sudah mencapai tahap yang memerlukan penanganan serius dan kolaboratif dari berbagai pihak.

"Ini adalah bentuk keprihatinan kami. Bullying saat ini sudah di tahap mengkhawatirkan dan kita butuh pertahanan kuat untuk melindungi anak-anak kita," ujar Yulhasmida dalam sambutannya.

Baca juga: Kamar Hotel Nonbintang di Sumbar Sepi Peminat, Tingkat Hunian Rendah Cuma 14 Persen November 2025

Agenda yang mengusung tema "Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja" ini dirancang khusus untuk membangun benteng pertahanan diri bagi generasi muda dalam menghadapi tekanan mental.

Selain itu, seminar ini juga memfokuskan pada penanganan trauma akibat bullying serta ancaman nyata dari penyalahgunaan Napza yang mengintai usia produktif.

Menariknya, seminar ini tidak hanya menyasar para tenaga kesehatan (nakes), namun juga dibuka secara luas untuk masyarakat umum, terutama kaum ibu.

Pihak penyelenggara menempatkan para ibu sebagai prioritas utama karena dianggap sebagai garda terdepan dalam pola asuh anak di lingkungan keluarga.

Sedianya, acara ini dijadwalkan berlangsung pada momen Hari Ibu Desember lalu, namun harus tertunda karena faktor kondisi alam yang tidak memungkinkan.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Sumbar Kamis 15 Januari 2026, Waspada Beberapa Wilayah Hujan Sedang hingga Lebat

"Kami sempat mengundur jadwal sebagai bentuk empati terhadap bencana alam dan cuaca ekstrem yang terjadi sebelumnya," tambahnya.

Hadir sebagai narasumber pertama, psikiater Ridho Akbar Syafwan membedah tatalaksana anak dengan gangguan mental dan emosional yang sering kali luput dari perhatian.

Ridho menegaskan bahwa gangguan mental pada anak yang tidak ditangani dengan benar dapat memberikan dampak jangka panjang yang fatal saat mereka dewasa.

"Anak dengan gangguan mental memiliki risiko 3 hingga 5 kali lebih tinggi terkena gangguan psikiatri di masa dewasa, seperti depresi mayor dan gangguan kecemasan," papar Ridho.

Ia juga mengingatkan para orang tua untuk peka terhadap Red Flags atau tanda bahaya dalam perkembangan mental anak dengan melihat durasi dan intensitas gejala yang muncul.

Baca juga: Maigus Nasir Tutup Porsema II, Berharap Mampu Tingkatkan Kompetensi dan Kualitas Pendidik

Sementara itu, dari sudut pandang psikologis, psikolog Ruri Handayani mengupas tuntas mengenai perilaku pelaku dan pemulihan bagi para korban bullying.

Ruri menjelaskan bahwa pelaku bullying biasanya memiliki ciri khas seperti kebutuhan akan dominasi yang tinggi namun memiliki empati yang sangat rendah.

"Faktor pemicunya beragam, mulai dari pola asuh yang keras di rumah hingga lingkungan yang menganggap kekerasan sebagai hal yang normal," jelas Ruri.

Bagi para korban, Ruri menekankan pentingnya membangun kembali rasa aman dan regulasi emosi agar mereka bisa menemukan makna hidup yang baru setelah mengalami trauma.

Tak kalah penting, perwakilan BNN Septia Dwi Safrani juga memberikan edukasi mengenai penggolongan narkotika serta kriteria adiksi yang menyerang fisik dan psikologis remaja.

Baca juga: Cek Daftar Harga Sembako Bukittinggi Hari Ini, Cabai Keriting, Bawang hingga Telur Ayam Kompak Naik

Adiksi atau kecanduan ditegaskan sebagai penyakit otak kronis yang bersifat kambuhan, sehingga pencegahan sejak dini menjadi harga mati.

Sebagai penutup materi, Akmal Irsyad memaparkan dampak mengerikan bullying dan Napza terhadap sistem saraf anak yang dapat mengacaukan fungsi otak secara permanen.

Ia menjelaskan bahwa tekanan mental akibat perundungan dapat merusak HPA axis yang membuat hormon kortisol menjadi tidak seimbang, sehingga mengganggu metabolisme hingga pola tidur.

"Bullying dan Napza bukan hanya soal perilaku salah, keduanya benar-benar merusak struktur otak anak kita," tegas Akmal di hadapan para peserta.

Acara kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif, di mana tampak antusias berkonsultasi mengenai kondisi anak-anak.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.