Wali Kota Fairid Bakal Lebih Sering Turun ke Pasar, Kali Ini Dialog di Datah Manuah Palangka Raya
January 15, 2026 04:50 PM

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA – Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin berdialog santai bersama para pedagang Pasar Datah Manuah, Jalan Yos Sudarso, Kamis (15/1/2026), sebagai upaya menyiapkan kebangkitan pasar yang selama ini belum berjalan optimal.

Dialog berlangsung dalam suasana akrab. Wali kota duduk sejajar dengan pedagang, pelaku usaha kuliner, komunitas kreatif, hingga content creator. 

Percakapan sesekali diselingi candaan dan tawa, namun tetap membahas persoalan mendasar terkait kondisi pasar.

Pantauan TribunKalteng.com di lokasi, Pasar Datah Manuah terdiri dari dua bangunan yang masing-masing memiliki dua lantai. Namun hingga kini baru sebagian kios yang terisi pedagang aktif. 

Di lantai dua bangunan belakang atau Blok B, banyak kios tampak kosong. Lorong pasar terlihat sepi, minim aktivitas, bahkan tercium aroma kurang sedap akibat jarangnya pemanfaatan dan perawatan rutin.

Baca juga: Pasar Datah Manuah Belum Maksimal, Pedagang Tunggu Rampungnya Drainase dan Fasilitas

dialog wako fairid di pasar datah
DIALOG - Pedagang Pasar Datah Manuah, Jalan Yos Sudarso, Palangka Raya, Kalteng Kamis (15/1/2026). Mereka berdialog dengan Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin bersama kepala perangkat daerah, camat, dan lurah berdialog yang menyerap aspirasi dan menyiapkan konsep kebangkitan pasar.

Usai berdialog, Fairid mengatakan sejak awal 2026 dirinya memang fokus turun langsung ke kantong-kantong ekonomi masyarakat, termasuk pasar tradisional.

“Dari awal Tahun 2026 saya fokus turun ke kantong-kantong ekonomi masyarakat. Salah satunya pasar. Saya datangi satu per satu pasar di Kota Palangka Raya untuk kita tata ke depan,” ujar Fairid.

Menurut Fairid, tujuan utama penataan pasar agar perputaran ekonomi atau circular economy dapat berjalan. 

Ia menekankan, upaya menghidupkan pasar tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan pedagang dan pelaku usaha.

“Tidak hanya pemerintah. Kita juga butuh peran pedagang dan pelaku usaha agar perputaran ekonomi ini bisa berjalan,” katanya.

Fairid mengakui, upaya relokasi pedagang sebelumnya belum sepenuhnya berjalan optimal. Karena itu, pemerintah kembali membuka ruang diskusi untuk mencari konsep yang paling memungkinkan dijalankan dan disepakati bersama.

Ia menyebutkan, momentum Ramadhan dalam waktu dekat dapat dimanfaatkan sebagai langkah awal menghidupkan aktivitas pasar melalui konsep jangka pendek, seperti pasar takjil maupun kegiatan tematik.

“Yang paling dekat tentu Ramadhan. Itu bisa menjadi salah satu konsep jangka pendek yang bisa kita mulai,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Fairid juga meminta para OPD terkait untuk menyusun dan mencatat gagasan bersama, dan meminta para pedagang untuk membentuk perwakilan atau koordinator sebagai penghubung dengan pemerintah.

“Silakan pedagang berembuk. Tentukan konsepnya seperti apa, mau diapakan blok depan, belakang, lantai bawah maupun lantai atas. Pemerintah siap mengimplementasikan hasil kesepakatan itu,” tegasnya.

Sejumlah pedagang dan pelaku ekonomi kreatif turut menyampaikan masukan dalam dialog tersebut. 

Salah satunya Cacing, pelaku usaha yang pernah berdagang di Pasar Datah Manuah pada 2016–2017. 

Ia menilai pasar memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wadah kreatif UMKM, mencontoh pengelolaan pasar di sejumlah kota besar di Pulau Jawa.

Menurutnya, pasar dapat dibagi berdasarkan fungsi, seperti area depan difokuskan untuk kuliner, sementara bagian belakang diarahkan menjadi ruang usaha kreatif, termasuk kedai kopi, tenant UMKM, hingga industri kreatif lainnya.

Masukan lain menyoroti pentingnya branding pasar agar memiliki identitas yang jelas, apakah sebagai pusat kuliner atau sentra ekonomi kreatif. 

Dengan konsep yang seragam, promosi di media dan media sosial dinilai akan lebih mudah tertanam di benak masyarakat.

Selain itu, pedagang juga mengusulkan penyediaan fasilitas pendukung seperti toilet yang memadai, peningkatan kebersihan, serta penyediaan musala portabel atau fasilitas ibadah sementara, khususnya saat Ramadhan.

Pelaku usaha lainnya menilai Pasar Datah Manuah merupakan aset strategis karena berada dekat pusat perbelanjaan, kampus, dan kawasan kos mahasiswa. Namun potensi tersebut dinilai belum tergarap maksimal.

Untuk mendorong pergerakan ekonomi, muncul pula usulan agar kegiatan pemerintah atau komunitas digelar secara berkala di kawasan pasar, seperti diskusi santai, pertemuan informal, atau kegiatan tematik, sehingga terjadi aliran aktivitas dan kunjungan yang berkelanjutan.

Berbagai masukan tersebut dicatat untuk kemudian dibahas lebih lanjut sebagai bahan penyusunan konsep pengembangan Pasar Datah Manuah ke depan.

Fairid menegaskan, seluruh masukan yang disampaikan pedagang dan pelaku usaha akan ditindaklanjuti melalui pembahasan lanjutan bersama perangkat daerah terkait.

Ia berharap, konsep yang disepakati nantinya tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi mampu berjalan berkelanjutan sehingga Pasar Datah Manuah benar-benar kembali hidup dan menjadi ruang ekonomi yang produktif bagi masyarakat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.