Rakernas I PDI Perjuangan, Surokim : Agenda Ekologis Strategis yang Sentuh Kebutuhan Riil Publik
January 15, 2026 04:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM - Rakernas I PDI Perjuangan 2026 dinilai Akademisi Universitas Trunojoyo Madura Surokim Abdussalam sebagai agenda ekologis yang mencerminkan keberanian dan tanggung jawab politik dalam membaca tantangan riil bangsa, khususnya krisis iklim dan bencana lingkungan yang semakin nyata dirasakan masyarakat.

Menurut Surokim, rekomendasi eksternal Rakernas menunjukkan upaya partai menempatkan persoalan ekologi, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial sebagai isu strategis yang langsung berkaitan dengan keselamatan rakyat dan masa depan bangsa. Sikap ini, kata dia, relevan dengan kondisi objektif Indonesia sebagai negara yang rentan terhadap bencana ekologis.

“Rakernas ini secara terbuka mengakui bahwa bencana ekologis tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari kesalahan kebijakan tata ruang, praktik ekonomi ekstraktif, serta lemahnya penegakan hukum lingkungan. Pengakuan seperti ini penting sebagai pijakan etis dalam politik,” ujar Surokim.

Ia menilai penekanan Rakernas pada pencegahan bencana ekologis, penghentian deforestasi, penegakan hukum terhadap kejahatan lingkungan, serta pemulihan ekosistem yang terdegradasi menunjukkan kesadaran politik yang kontekstual dan progresif. Di saat yang sama, agenda Merawat Pertiwi ditegaskan sebagai garis ideologis perjuangan partai, yang mengaitkan isu lingkungan dengan keadilan sosial, kedaulatan sumber daya alam, serta perlindungan ruang hidup rakyat.

“Pendekatan ini penting karena menyatukan dimensi ekologi dengan kepentingan petani, nelayan, masyarakat adat, dan kelompok rentan lainnya. Isu lingkungan ditempatkan sebagai persoalan rakyat, bukan sekadar isu teknis,” jelasnya.

Dalam konteks politik kontemporer, Surokim menilai isu ekologis telah menjadi bagian dari kesadaran publik, terutama di kalangan generasi muda dan kelas menengah urban. Ketika sebuah partai memosisikan krisis iklim dan kerusakan lingkungan sebagai persoalan keadilan antargenerasi dan tanggung jawab negara, pesan politik tersebut memiliki daya resonansi yang kuat sekaligus berpotensi memperkuat literasi lingkungan masyarakat.

Ia menambahkan, rekomendasi Rakernas yang mengaitkan agenda ekologis dengan komitmen global Indonesia—termasuk penurunan emisi dan transisi energi—menunjukkan upaya menempatkan negara sebagai aktor utama dalam melindungi rakyat dari dampak perubahan iklim dan pemanasan global.

Dari sudut pandang politik elektoral, Surokim menilai sikap ekologis ini berpeluang membangun legitimasi politik di mata publik. Dalam jangka pendek, posisi tersebut dapat menumbuhkan simpati, khususnya dari pemilih rasional yang menilai konsistensi nilai dan keberanian sikap politik. Dalam jangka menengah hingga panjang, agenda ini berpotensi dikonversi menjadi peningkatan elektabilitas, sepanjang dijalankan secara konsisten.

“Konversi simpati menjadi elektabilitas tidak bersifat otomatis. Ia sangat bergantung pada sejauh mana rekomendasi Rakernas diterjemahkan ke dalam kerja fraksi, kebijakan di tingkat pusat dan daerah, serta keberanian politik dalam mengawasi proyek pembangunan yang berisiko merusak lingkungan,” tegasnya.

Surokim mengingatkan bahwa publik saat ini semakin kritis terhadap politik simbolik. Partai dinilai bukan dari dokumen semata, melainkan dari keberanian mengambil posisi yang melindungi kepentingan jangka panjang rakyat, meskipun tidak selalu populer secara instan.

“Jika konsistensi itu terjaga, agenda ekologis yang ditegaskan dalam Rakernas berpotensi menjadi modal politik yang kuat, sekaligus mempertegas identitas PDI Perjuangan sebagai kekuatan politik yang berpijak pada kepentingan rakyat dan keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya. (*)

(TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.