Kisah Seniman Bali Ukir Dewi Dhawantari di Suhu -14 Selama 30 Jam di China
kumparanNEWS January 15, 2026 03:38 PM
I Nyoman Sungada dan ketiga rekannya baru saja mengharumkan nama Indonesia, di kompetisi pembuatan patung es di Harbin, China. Ia menerima permintaan wawancara kumparan tentang pengalamanya.
Namun, sebelum menceritakan pengalamannya, ia menyampaikan pesan.
"Seni itu luas, kita harus berani melihat dunia agar wawasan kita terbuka, tidak seperti katak dalam terpurung. Kita mesti belajar dan terus belajar," kata I Nyoman Sungada, Kamis (15/1).
Kata-kata itu disampaikan seniman asal Bali berusia 64 tahun ini untuk memotivasi diri dan 50 orang anggota Himpunan Seniman Pecatu (HSP) mengikuti kompetisi seni patung salju dunia di Harbin, China pada awal Januari 2026.
Motivasi itu berbuah manis. Patung es Dewi Dhawantari yang mereka buat di Harbin berhasil meraih gelar juara III dalam 28th Harbin International Snow Sculpture pada Jumat (9/1) waktu setempat.
Ini adalah perjuangan panjang. Sebab, Sungada dan rekannya, I Ketut Suaryana, Gede Agus Kurniawan dan I Gede Agustin Anggara Putra harus mengukir patung es di bawah suhu minus 14 derajat celsius selama hampir 30 jam, di Sun Island, Harbin, China.
Perbesar
Empat seniman Bali, I Nyoman Sungada, I Ketut Suaryana, Gede Agus Kurniawan, dan I Gede Agustin Anggara membuat patung Dewi Dhawantari dan meraih juara III dalam 28th Harbin International Snow Sculpture, Jumat waktu setempat (9/1/2026). Foto: Dok. I Nyoman Sungada
Hadiah kemenangan ini sekitar Rp 45 juta. Namun, Sungada tak melihat besaran nominalnya. Baginya, mengikuti kompetisi ini adalah bentuk pengabdian, tanggung jawab dan kewajiban agar seniman-seniman muda memiliki keberanian dan memetik pelajaran tentang seni patung dari negara lain.
Sungada bersama HSP setidaknya sudah mengikuti 15 kali pertandingan seni patung es di China dan Jepang. Mereka pernah menyabet juara III dan V, sejak tahun 2013 lalu.
"Kalau dibandingkan biaya keluar dengan hadiahnya tak seberapa tapi ini akan jadi pengalaman bagi seniman-seniman muda melihat secara mendalam seperti apa seni patung dari Thailand, Jepang dan lain sebagainya. Anggota biasanya bergiliran yang pergi bertanding," katanya.
Patung Dewi Dhawantari, Dewi Kesuburan dan Keseimbangan Alam yang Muncul H-7 Kompetisi
Pada kompetisi yang diikuti 13 negara ini, 25 tim, dan 100 seniman ini, penyelenggara menyediakan balok es salju setinggi 4 meter dengan diameter 3x3 meter di Sun Island.
Nanti, peserta dipersilakan berkreasi membentuk apa pun hanya dengan memanfaatkan bahan tersebut. Sungada awalnya kesulitan mendapat inspirasi, sebab, ia biasanya mengukir patung di kayu. Tekniknya pun berbeda dengan ukiran patung di balok es.
Inspirasi membuat patung Dewi Dhawantari ini muncul H-7 jelang keberangkatan para seniman ke Harbin. Sungada mengaku kesulitan mencari inspirasi, ia lalu pergi ke Pantai Batu Beliq, mencari pencerahan.
Perbesar
Empat seniman Bali, I Nyoman Sungada, I Ketut Suaryana, Gede Agus Kurniawan, dan I Gede Agustin Anggara membuat patung Dewi Dhawantari dan meraih juara III dalam 28th Harbin International Snow Sculpture, Jumat waktu setempat (9/1/2026). Foto: Dok. I Nyoman Sungada
Ia lalu melihat patung Dewi Dhawanatri buatannya di pantai tersebut. Akhirnya, ia memilih membuat patung ini karena tingkat kesulitan yang tinggi.
Bayangkan saja, patung itu memiliki sejumlah detail antara lain tangan yang mengenggam daun, guci, uang, bunga teratai, cakra, kotak lontar bayi dan sebagainya. Patung ini sendiri bermakna kesuburan untuk keseimbangan alam semesta.
“Tangannya itu ada banyak ya kami buat jari-jarinya detail, aksesorinya banyak dan ada awan yang menyelimuti. Itu artinya kerja teknisnya berat dan butuh fokus penuh,” sambungnya.
Lalu, agar sempurna, Sungada membuat miniatur patung Dewi Dhawantari dari stirofoam. Sungada dan tim mengukur setiap inci dari mana pahatan dimulai dan teknis pengerjaannya agar pola-pola patung tak rusak pada balok es mengikuti miniatur.
Perbesar
Empat seniman Bali, I Nyoman Sungada, I Ketut Suaryana, Gede Agus Kurniawan, dan I Gede Agustin Anggara membuat patung Dewi Dhawantari dan meraih juara III dalam 28th Harbin International Snow Sculpture, Jumat waktu setempat (9/1/2026). Foto: Dok. I Nyoman Sungada
Sebab, mengukir di kayu atau batu, beda dengan mengukir di balok es. Ukiran di kayu bisa diperbaiki, sementara mengukir di balok es, susah diperbaiki. Bahkan, media ini tak bisa disandari, atau tersenggol karena akan mengubah bentuk.
"Sudah tentu beda sekali ya, kalau kayu itu keras ya. kalau kayu medianya tidak ada sebesar balok salju, kecil-kecil, bisa kita kerjakan dengan bahannya kita putar-putar. Kalau ini salju stagnan di satu tempat, dia kuat. Cuma, kalau dalam media-media kecil gitu dia rapuh. Kalau tidak ada miniatur pasti melenceng dari konsep kita," katanya.
Latih Tim dengan Duduk Dengan Baju Berlapis di Dalam Freezer
Sungada mengaku sudah hampir terbiasa membuat patung di negara bersalju. Hal ini berbeda dengan beberapa seniman muda yang belum pernah bertanding di China atau Jepang saat musim dingin.
Untuk membiasakan diri, Sungada melatih timnya dengan duduk seharian dengan pakaian berlapis di dalam gudang freezer miliknya. Gunanya, melatih ketahanan fisik timnya.
Mereka membeli minimal 3 baju musim dingin dan sarung tangan, pelembap bibir dan wajah, makanan dan minuman untuk menghadapi pertandingan di tengah salju. Kulit berpotensi terkelupas dan gatal-gatal apabila terlalu lama berada di bawah salju atau memahat patung es terlalu lama.
Pada hari pertama, Sungada bekerja sendiri untuk membentuk pola utama. Pada hari kedua sampai hari ke empat, Sungada dibantu para seniman membentuk pola secara mendetail. Mereka berkarya di bawah suhu minus 14 sampai 26 derajat.
Perbesar
Empat seniman Bali, I Nyoman Sungada, I Ketut Suaryana, Gede Agus Kurniawan, dan I Gede Agustin Anggara membuat patung Dewi Dhawantari dan meraih juara III dalam 28th Harbin International Snow Sculpture, Jumat waktu setempat (9/1/2026). Foto: Dok. I Nyoman Sungada
“Itu dingin sekali. Kita harus ganti sarung tangan, tambah topi, tambah lapisan baju. Kalau tidak siap, bisa kaku semua badan,” katanya.
Sungada juga mengakali makan. Mereka membawa sarapan dari hotel ke lokasi konstruksi. Jatah sarapan, dikonsumsi saat makan siang. Ini dilakukan untuk menghemat waktu, tenaga, dan agar patung selesai sesuai jadwal kompetisi.
Sungada mengatakan, patung es ini akan bertahan sampai Mei 2026, saat Sun Island membuka galeri sebagai objek wisata musim dingin.
"Orang Indonesia juga banyak ke sana kemarin itu banyak sekali, sekitar 80 orang, dia bilang Pak Indonesia ya wah bangga orang Indonesia bisa membuat salju di China, kita dari daerah panas ya pak," kata Sungada.