Candaan Tepi Jurang Inayah Wahid di Lapor Pak Viral, Sentil Polisi, Politikus, hingga Kekuasaan
January 15, 2026 08:03 PM

 

BANGKAPOS.COM--Penampilan Inayah Wahid dalam program komedi Lapor Pak yang tayang di Trans7 mendadak menjadi perbincangan hangat publik.

Putri almarhum Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu dinilai berani melontarkan candaan satir yang menyentuh isu sensitif, mulai dari kinerja kepolisian, budaya politik, hingga kekuasaan, namun tetap dibalut dengan humor khas yang mengundang tawa.

Cuplikan penampilan Inayah beredar luas di berbagai platform media sosial. 

Banyak warganet menyebut gaya bercandanya sebagai “candaan tepi jurang”, istilah yang merujuk pada humor tajam yang menyentuh isu serius, namun disampaikan dengan ringan dan cerdas.

Tak sedikit pula yang menilai gaya humor Inayah mencerminkan warisan pemikiran Gus Dur yang dikenal kritis, egaliter, dan penuh kelakar.

Dalam sketsa yang tayang Rabu (14/1/2026), Inayah berperan sebagai seorang wartawan yang sedang melakukan liputan di sebuah kantor polisi.

Dengan gaya lugas namun santai, ia melempar pertanyaan-pertanyaan yang tampak sederhana, tetapi sarat makna.

Salah satu momen yang paling banyak dibicarakan terjadi saat Inayah bertanya kepada Andhika Pratama, yang berperan sebagai aparat kepolisian, mengenai tingkat kepuasan publik terhadap kinerja polisi.

“Kalau saya jabarkan ya, akhir tahun lalu tingkat kepuasan terhadap kinerja kepolisian itu mencapai 98 persen,” ujar Andhika dalam dialog sketsa tersebut.

Alih-alih menerima jawaban itu begitu saja, Inayah langsung menimpali dengan celetukan yang membuat studio riuh oleh tawa penonton.

“Ini orang semua ya, Pak? Bukan bot?” katanya dengan nada polos.

Kalimat singkat itu sontak menjadi sorotan. Banyak warganet menilai candaan tersebut merefleksikan keresahan publik terhadap survei kepuasan yang kerap dipertanyakan validitasnya.

Meski hanya bagian dari sketsa komedi, humor tersebut dianggap mewakili suara masyarakat yang selama ini jarang terungkap secara langsung.

Tak berhenti di situ, Inayah kembali melontarkan humor bernuansa kritik ketika dialog berlanjut pada topik penanganan kasus oleh kepolisian.

Saat Andhika menyebut bahwa polisi bergerak cepat dalam menangani perkara tertentu, termasuk kasus pornografi, Inayah langsung menanggapi dengan pertanyaan yang membuat suasana semakin pecah.

“Kalau pelakunya teman sendiri, ditindak juga enggak, Pak?” tanya Inayah.

Candaan itu kembali disambut gelak tawa, baik dari penonton di studio maupun warganet yang menontonnya secara daring.

Banyak yang menilai pertanyaan tersebut menyentil isu penegakan hukum yang kerap dianggap tajam ke bawah namun tumpul ke atas.

Inayah juga menyinggung slogan kepolisian yang dikenal luas sebagai pelindung dan pengayom masyarakat.

Namun, ia membenturkan slogan tersebut dengan realitas yang dirasakan sebagian warga.

“Soalnya kan katanya motonya polisi jaga warga. Tapi semua yang ilang-ilang aja enggak ketemu. Ada enggak yang ketemu?” ujarnya.

Komentar tersebut kembali memancing tawa sekaligus rasa “relate” dari penonton.

Candaan ini dianggap menggambarkan pengalaman masyarakat yang sering melaporkan kehilangan, tetapi tidak selalu mendapatkan hasil yang diharapkan.

Ayu Tingting yang turut terlibat dalam sketsa tersebut ikut menimpali dengan humor khasnya.

Ia menyebut bahwa para “polisi” di Lapor Pak justru lebih sering bercanda dibanding bekerja.

“Enggak ada sih, Mbak. Rata-rata orang laporan ke mari, tapi teman-teman di sini pada enggak kerja, cuma haha hihi doang,” ujar Ayu, yang langsung disambut tawa riuh.

Interaksi antar pemain membuat sketsa tersebut terasa cair dan hidup.

Humor yang disajikan bukan hanya sekadar lelucon, melainkan juga sindiran sosial yang disampaikan tanpa kesan menggurui.

Anak presiden

Momen lain yang tak kalah mencuri perhatian adalah ketika Inayah Wahid me-roasting komika Kiky Saputri.

Dikenal sebagai sosok yang kerap me-roasting pejabat, Kiky justru menjadi sasaran candaan Inayah.

“Meski ini teman saya sendiri, saya harus netral. Teman saya ini roasting terus tiap episode, roasting pejabat, tapi pejabatnya dibantuin menang. Gimana?” kata Inayah sambil tersenyum.

Candaan tersebut langsung disambut tawa dan tepuk tangan penonton.

Banyak yang menilai humor ini menyentil fenomena kedekatan antara figur publik, komika, dan elite politik, yang kerap menjadi bahan diskusi di ruang publik.

Dialog semakin menarik ketika Andhika Pratama menyinggung keberanian Inayah dalam melontarkan candaan-candaan sensitif.

“Ini ngomongnya berani banget ya. Anak siapa sih? Kayak anak presiden aja,” ujar Andhika.

Tanpa ragu, Inayah menjawab dengan santai namun penuh sindiran.

“Enggak, Pak. Saya bukan anak presiden. Kalau saya anak presiden, saya jadi wapres, enggak jadi wartawan,” katanya.

Ucapan itu langsung memancing tawa panjang dan menjadi salah satu potongan video yang paling banyak dibagikan di media sosial.

Banyak warganet menilai pernyataan tersebut sebagai sindiran halus terhadap dinamika politik kekuasaan di Indonesia.

Candaan berlanjut ketika Kiky Saputri menyebut bahwa anak presiden seharusnya memiliki partai politik sendiri.

Inayah pun tak mau kalah melempar humor pedas.

“Kamu mentang-mentang temannya punya partai, meskipun enggak menang-menang,” kata Inayah.

Komentar tersebut kembali membuat suasana studio pecah oleh tawa.

Meski bersifat bercanda, kalimat itu dinilai menyentil realitas politik Tanah Air yang penuh dinamika dan ironi.

Penampilan Inayah Wahid di Lapor Pak mendapat beragam respons positif dari publik.

Banyak yang memuji keberaniannya dalam menyampaikan kritik sosial melalui humor. 

Tak sedikit pula yang menyebut Inayah mewarisi gaya Gus Dur yang dikenal mampu menyampaikan kritik tajam dengan cara santai dan menghibur.

Di media sosial, warganet ramai-ramai membagikan cuplikan penampilan Inayah.

Sebagian menyebut candaan tersebut sebagai bentuk kritik yang sehat, sementara yang lain menilai humor semacam ini penting untuk menjaga ruang kebebasan berekspresi.

Program Lapor Pak sendiri memang dikenal kerap menyajikan humor satir yang menyinggung isu-isu aktual.

Namun, kehadiran Inayah Wahid memberikan warna tersendiri.

Latar belakangnya sebagai aktivis, penulis, sekaligus putri tokoh besar bangsa membuat setiap celetukannya memiliki bobot makna yang lebih dalam.

Hingga kini, video penampilan Inayah Wahid masih terus dibicarakan dan menjadi salah satu tayangan komedi politik paling viral di awal tahun 2026.

Candaan-candaan “tepi jurang” tersebut membuktikan bahwa humor bisa menjadi medium kritik sosial yang efektif, menghibur, sekaligus mengajak publik untuk berpikir.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.