TRIBUNNEWS.COM, WEDA BAY - Upaya mendorong hilirisasi industri nikel yang berkelanjutan terus diperkuat Indonesia, seiring meningkatnya permintaan global terhadap mineral kritis untuk mendukung transisi energi.
Oleh karenanya, pengelolaan kawasan industri kini tidak hanya dituntut menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola (Environmental, Social and Governance/ESG).
Mewujudkan komitmen pengelolaan kawasan industri berkelanjutan, United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) dan Tsingshan Holding Group, pengelola Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), menandatangani Joint Declaration on Sustainable Development of the Nickel Industry Chain.
Penandatanganan ini berlangsung dalam momentum Investment and Partnerships Day, menekankan investasi, inovasi dan kemitraan strategis untuk industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan, di mana UNIDO mendorong industrialisasi yang seimbang antara ekonomi, keberlanjutan, tanggung jawab sosial dan tata kelola, serta kolaborasi lintas sektor dan teknologi sebagai solusi untuk transisi energi dan transformasi industri.
Baca juga: Tak Sekadar Pabrik, PT IWIP Tawarkan Work Life Balance di Jantung Kawasan Industri
Menindaklanjuti kerja sama tersebut, Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah, Maluku Utara, ditetapkan sebagai kawasan percontohan untuk program tahap awal selama tiga tahun.
Penunjukan ini menjadikan IWIP sebagai model penerapan prinsip keberlanjutan industri, di mana aspek lingkungan, sosial dan tata kelola diintegrasikan dalam setiap proses pengelolaan kawasan.
Dengan pendekatan ini, IWIP tidak hanya menjadi kawasan industri yang efisien dan produktif, tetapi juga menjadi contoh nyata bagi pengembangan industri nikel yang ramah lingkungan, berdaya saing dan bertanggung jawab secara sosial.
Program kolaborasi ini difokuskan pada empat pilar utama, yaitu pengembangan ekonomi sirkular, peningkatan keterampilan dan kapasitas industri, pemberdayaan masyarakat dan penguatan manajemen rantai pasok hijau
Keempat pilar tersebut menjadi landasan untuk mendorong efisiensi operasional, peningkatan nilai tambah dan daya saing industri nikel Indonesia di tingkat global.
Bagi IWIP, inisiatif ini juga merupakan bagian dari komitmen jangka panjang dalam penerapan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) secara terintegrasi.
Pelaksanaan program ke depan akan diperkuat melalui sinergi dengan pemerintah, tenant kawasan, asosiasi industri, lembaga keuangan dan pemangku kepentingan lainnya guna memastikan keberlanjutan dan menciptakan dampak positif jangka panjang bagi industri dan masyarakat.
Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari deklarasi bersama yang ditandatangani kedua pihak pada November lalu di Riyadh, Arab Saudi.
President Director of Eternal Tsingshan Group Xiang mengatakan, peluncuran kawasan industri yang berkelanjutan menjadi langkah penting dalam mengimplementasikan komitmen global tersebut. Terlebih Tsingshan menyadari tanggung jawab besar industri di tengah pembangunan global.
"Kami memprioritaskan inovasi dan terus meningkatkan manajemen ESG. Dengan memanfaatkan keunggulan teknologi dan proses yang kami miliki, Tsingshan akan membangun model produksi rendah karbon dan sistem energi hijau," tutur Xiang dalam acara di Wisma Tsingshan, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (15/1/2026).
Selain itu, IWIP juga berkomitmen memenuhi tanggung jawab sosial dan tumbuh bersama masyarakat setempat, guna mewujudkan koeksistensi yang harmonis antara ekonomi, sosial dan lingkungan.
"Kami akan bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan untuk bersama-sama membangun kawasan industri yang hijau, inklusif dan berkelanjutan," imbuh Xiang.
Sejak berdiri pada 1988, Tsingshan telah berkembang menjadi produsen baja tahan karat dan nikel terkemuka dunia, sekaligus pemain signifikan di industri baterai energi baru.
Kerja sama dengan UNIDO yang mulai dijajaki sejak 2023 dan diformalkan melalui deklarasi bersama, kini memasuki tahap implementasi konkret.
Deputy to the Director General of UNIDO Zou Ciyong menilai sektor mineral, termasuk nikel, merupakan fondasi penting bagi peradaban modern dan pertumbuhan ekonomi global. Apalagi di tengah lonjakan permintaan akibat urbanisasi dan transisi energi, akses terhadap mineral harus dikelola secara aman dan berkelanjutan.
"Deklarasi bersama UNIDO dan Tsingshan mencerminkan komitmen untuk membangun rantai industri nikel yang berkelanjutan, dengan prinsip ekonomi sirkular, pengembangan keterampilan, pemberdayaan masyarakat dan rantai pasok hijau," terang Zou.
Ia menyebut Kawasan Industri Weda Bay sebagai salah satu lokasi percontohan penting yang diharapkan mampu menjadi model rantai nilai mineral yang transparan, inklusif dan tangguh, serta selaras dengan SDGs.
"Saya menyambut kepemimpinan Tsingshan, IWIP dan semua mitra yang berpartisipasi yang berkumpul di sini hari ini. Bersama-sama kita dapat menerjemahkan kemitraan ke dalam praktik membangun rantai nilai mineral yang transparan, inklusif, tangguh dan selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan," imbuh Zou.
Direktur Akses Sumber Daya Industri dan Promosi Internasional Kementerian Perindustrian Bayu Fajar Nugroho menyatakan, kolaborasi ini sejalan dengan arah kebijakan nasional, di mana kawasan industri memiliki peran strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, namun juga menghadapi tantangan dampak lingkungan dan sosial, termasuk emisi gas rumah kaca.
"Indonesia berkomitmen memastikan sektor manufaktur tumbuh secara ekonomi, sosial dan lingkungan. Upaya ini juga merupakan bagian dari kontribusi sektor industri pengolahan untuk mencapai target Net Zero Emission sektor industri pada 2050," ujar Bayu.
Kemenperin meyakini sinergi antara keahlian UNIDO dan visi Tsingshan akan menghasilkan efisiensi energi, penurunan emisi, serta pengembangan simbiosis industri.
"Kami mengharapkan keberhasilan kolaborasi ini dapat menjadi kisah sukses kawasan industri berbasis hilirisasi sumber daya alam," ucap Bayu.