TRIBUNBANTENM.COM - Pemerintah Kabupaten Tangerang secara resmi memperpanjang status Tanggap Darurat Bencana hingga Maret 2026.
Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi menghadapi cuaca ekstrem dan potensi banjir susulan yang masih mengancam sejumlah wilayah.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, mengatakan perpanjangan status tersebut didasarkan pada kondisi lapangan yang belum sepenuhnya pulih serta prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“BMKG menyampaikan potensi cuaca ekstrem masih berlangsung hingga Februari dan kemungkinan berlanjut. Karena itu, status tanggap darurat kami perpanjang sampai Maret sebagai bentuk kesiapsiagaan,” ujar Taufik, Kamis (15/1/2026).
Baca juga: Polda Banten Bekuk Abah Jempol! Modus Loloskan Akpol, Orangtua Calon Taruna Rugi Rp1 Miliar
Saat ini, banjir masih melanda sebagian besar wilayah Kabupaten Tangerang. Dari total 29 kecamatan, sebanyak 24 kecamatan terdampak banjir dengan cakupan sekitar 119 desa dan kelurahan. Jumlah warga terdampak mencapai kurang lebih 14.500 kepala keluarga.
Taufik menjelaskan, meski di beberapa lokasi genangan mulai surut, kondisi banjir bersifat fluktuatif karena intensitas hujan yang sulit diprediksi.
“Ada wilayah yang hari ini surut, tetapi besok bisa tergenang kembali. Perkembangannya sangat dinamis,” katanya.
Salah satu wilayah yang masih mengalami genangan cukup parah adalah Desa Kohod. Ketinggian air di daerah tersebut berkisar antara 30 hingga 40 sentimeter.
Kondisi diperburuk oleh letak permukiman warga yang rendah dan sejajar dengan badan jalan.
“Selain curah hujan tinggi, banjir dipicu luapan sungai. Untuk Desa Kohod, penyebab utamanya adalah luapan Sungai Cisadane,” ungkapnya.
Dalam penanganan bencana, Pemkab Tangerang melibatkan lintas sektor. BPBD bertindak sebagai koordinator, sementara distribusi bantuan logistik didukung oleh Dinas Sosial, TNI-Polri, serta pihak swasta.
“BPBD mengoordinir penanganan. Dinsos menyiapkan dapur umum, TNI-Polri turut membantu evakuasi dan pengamanan, serta ada dukungan dari pihak swasta. Namun, banjir yang tidak menentu membuat logistik tetap terasa kurang,” jelas Taufik.
Jumlah pengungsi dilaporkan mulai berkurang seiring surutnya air di beberapa titik. Di sejumlah wilayah, warga hanya mengungsi saat puncak banjir.
“Pengungsi relatif sedikit. Di Jatimulya hanya satu malam, sementara di Kohod saat ini tersisa sekitar 50 orang,” katanya.
Taufik mengimbau masyarakat untuk turut berperan aktif dalam upaya pencegahan banjir, salah satunya dengan menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke saluran air.
“Gotong royong dan kepedulian antarwarga sangat dibutuhkan. Jika ada tetangga yang terdampak, mari saling membantu. Musibah bisa menimpa siapa saja,” pungkasnya.