- Pengeroyokan guru SMK di Jambi, merupakan puncak konflik yang terjadi di antara guru dan murid di sekolah tersebut.
Sang guru merasa jadi korban perundungan murid laki-laki selama ini sehingga tidak tahan memberi pendidikan tegas kepada siswa.
Namun tindakan guru tersebut justru memicu siswa melakukan pengeroyokan.
Kejadian itu dinilai mencoreng dunia pendidikan di Tanah Air mengingat aksi kekerasan terjadi di sekolah melibatkan tenaga pengajar dan siswa di lingkungan sekolah.
Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk proses belajar, pembentukan karakter, dan penanaman nilai moral justru berubah menjadi arena konflik fisik.
Mencegah aksi kekerasan di sekolah, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti telah menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Peraturan tersebut dinilai sebagai langkah strategis pemerintah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif bagi tumbuh kembang peserta didik.
Aturan ini juga menggunakan pendekatan humanis yang lebih mengutamakan budaya mendengar, menerima, dan menghormati.
Berdekatan dengan aturan itu diterbitkan, aksi kekerasan terjadi di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi.
Sebuah video yang menunjukkan seorang guru SMK Pertanian dikeroyok oleh siswanya, viral di media sosial.
Guru tersebut bernama Agus Saputra. Ia menjelaskan, kejadian bermula saat dirinya diteriaki oleh seorang siswa sekira pukul 09.00 WIB.
Agus menuturkan, teriakan itu bernada tidak sopan dan tak beretika.
Saat itu, siswa yang bersangkutan sedang mengikuti mata pelajaran olahraga atau Penjas.
“Guru olahraganya juga ada pada saat itu. Pada saat itu juga saya datang ke kelasnya."
"Saya tanya siapa yang meneriakkan saya dengan kata-kata yang tidak pantas itu. Refleks (satu di antara siswa) dia bilang saya,” kata Agus, Rabu (14/1/2026), dilansir TribunJambi.com.
Mengetahui hal tu, Agus langsung menampar siswa tersebut sebanyak satu kali.
"Saya tampar satu kali," akunya.
Konflik akhirnya berlanjut, saat jam istirahat, ia ditantang kembali oleh siswa tersebut.
Sempat ada mediasi antara Agus dengan siswa tersebut. Agus juga berusaha menahan diri.
"Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.
Saat mediasi, ia menanyakan apa keinginan siswa itu. Siswa tersebut lantas meminta Agus untuk meminta maaf.
“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya memberi alternatif kepada mereka,” terangnya.
Agus kemudian menawarkan alternatif berupa petisi.
“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.
Setelah mediasi itu, Agus sempat diajak komite sekolah masuk ke ruang kantor.
Saat itu, kata Agus, ia justru dikeroyok oleh siswanya.
“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.
Beruntung, aparat keamanan sigap membaca situasi, sehingga aksi itu dapat diredam segera.
Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jambi akan mendalami kasus pengeroyokan guru mata pelajaran bahasa Inggris oleh sejumlah siswa di SMK 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang menyebar cepat (viral) di media sosial.
Ia menyayangkan kejadian itu, pihaknya mengharapkan sekolah sebagai tempat menimba ilmu, membagi hal-hal yang bermanfaat.
Bukan sebaliknya, menjadi lokasi perdebatan yang mengakibatkan baku hantam.
Pihaknya mengimbau agar seluruh warga sekolah dapat berlaku bijak, dan menjamin pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
Terhadap oknum-oknum tersebut, kata Umar, akan dilakukan pembinaan, agar kejadian serupa tidak terulang lagi di kemudian hari.
"Kami akan berkoordinasi dengan BKD Provinsi Jambi terkait penanganan hasil dari pembinaan tersebut, " jelasnya.
#Siswa #Trauma #Oknum Guru #Jambi