TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG,-- Pengamat pendidikan Sumatera Selatan (Sumsel) Abdullah Idi menerangkan, cukup tingginya warga Sumsel yang menempuh pendidikan di kampus dunia yang berada diluar negeri, menunjukkan masalah pendidikan sangat penting dan sebuah hal positif.
Meskipun begitu, Abdullah Idi menganggap belajar dimana saja hal itu tidak masalah selama, betul- betul ingin belajar.
"Sebenarnya, belajar itu dimana saja di daerah kita sendiri dalam negeri maupun luar, tapi kalau ada peluang keluar negeri itu bisa menjadi wawasan baru, dan pengalaman baru. Sehingga saya lihat sangat positif kalau ada peluang itu bagi pemuda - Pemuda khususnya dari Sumsel," kata Abdullah Idi kepada Tribunsumsel.com, Kamis (15/1/2026).
Dijelaskan Abdullah, Pemuda Sumsel bisa memanfaatkan program beasiswa yang ada, mengingat sekarang sudah berjalan dari pemerintah.
"Ya pastinya ini bisa menambah pengalaman, dan wawasan di daerah atau negara lain, untuk bekal mengabdi di dalam negeri nantinya," ujar Abdullah.
Disisi lain untuk perbandingan positif, biasanya jika dapat beasiswa pastinya dapat perguruan tinggi yang sudah terjamin kualitasnya.
"Biasanya harus dipersiapkan sebelum berangkat, kemudian aspek mental serta kultur budaya di negara lainnya, serta cara belajar di dalam negeri dan luar negeri harus dipahami juga. Termasuk bagaimana mendapatkan beasiswa itu untuk biaya hidup di negara luar," bebernya.
Dijelaskan Abdullah semua Pemuda Sumsel memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan diluar negeri, asal ada kemauan dan ingin belajar serius
"Pastinya persaingan ketat untuk mendapatkan beasiswa dan tergantung bidang ilmu yang ditawarkan karena persaingan ketat, sehingga persaingan sangat kompetitif dan harus ada persiapan dengan cara serius dengan semangat pantang menyerah," tandasnya.
Selain itu, berdasarkan pengalaman dirinya belajar dapat beasiswa di luar Negeri (Australia) ada perbedaan cara belajarnya.
"Misal di negara persemakmuran seperti Australia, kemandirian paling menonjol kalau soal ke ilmuan hampir sama kualitas. Namun cara belajar yang mendidik kemandirian, misal hampir setiap hari ke perpustakaan yang buka hingga 24 jam, kalau tidak tertinggal kita belajar," ingatnya.
Dilanjutkan Abdullah terkait metodologi pembelajaran saja yang berbeda dengan di Indonesia.
"Jadi kenapa orang biasa- biasa di dalam negeri, tetapi kalau diluar mereka sukses. Karena sistem yang mendorong mereka, dan untuk individu didorong mandiri. Kalau dapat beasiswa tinggal belajar saja kita Insyaa Allah sukses, meski tidak tertutup kemungkinan ada juga yang dipulangkan," pungkasnya
(*)