Mengakhiri Mata SePeLe demi Kenyamanan Aktivitas dan Kesehatan Penglihatan
January 16, 2026 12:29 AM

 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Setiap kali Aidil (25) pulang ke kampung halamannya di Pulau Bengkalis, Provinsi Riau, ia kerap disambut celotehan yang sama dari sang ibu. Bukan soal jodoh atau pekerjaan, tetapi kebiasaannya meneteskan obat tetes mata.

"Tuk ape makai itu (obat tetes mata) sering-sering, Dek? Bahaye ndak tu, Dek?," begitu Aidil menirukan ucapan ibunya dengan logat khas Melayu saat ia menggunakan obat tetes mata di depan laptop.

Menjawab keresahan itu, Aidil mencoba menjelaskan bahwa kandungan obat tetes itu aman digunakan.

Kata dia, fungsi obat tetes ialah menjaga kelembapan mata setelah menatap layar laptop dalam waktu yang lama.

"Saya coba berikan analogi yang sederhana. Bahwa obat tetes ini ibarat pelumas bagi mata yang sudah bekerja seharian menatap layar laptop. Ketika produksi air mata alami berkurang, maka mata menjadi kering dan tidak nyaman. Di situlah obat tetes membantu menggantikan fungsi pelumas tersebut," kata dia kepada tribunpekanbaru.com, Rabu (14/1/2025).

Namun Aidil memaklumi jika sang ibu terlihat masih kurang menerima penjelasan itu. Pasalnya, di lingkungan kampung halamannya, penggunaan obat tetes air mata masih sangat jarang ditemui.

Pengalaman masa lalu sang ibu barangkali juga berbeda dengan kondisi sekarang ini. Dimana, aktivitas berjam-jam di depan layar nyaris tak pernah ditemui kala itu, sehingga keluhan mata kering bukan sesuatu yang umum dalam keseharian mereka.

“ Seiring meningkatnya intensitas menatap layar laptop dan gawai, mata saya terasa lebih sering kering dan lelah. Tetapi, dengan Insto, sekali diteteskan, mata terasa lebih ringan dan kembali nyaman,” aku dia.

Gejala yang dialami Aidil ialah Mata Kering, Mata Sepet, Perih, Lelah (SePeLe). 

Aidil, mahasiswa pascasarjana di Pekanbaru yang kerap mengalami mata kering karena kebiasaannya menatap layar dalam waktu lama.
Aidil, mahasiswa pascasarjana di Pekanbaru yang kerap mengalami mata kering karena kebiasaannya menatap layar dalam waktu lama. (dok pribadi.)

Kondisi tersebut memang jamak dialami oleh masyarakat modern saat ini seiring kebiasaan di era digital, seperti menatap layar tanpa jeda yang dapat memicu Mata SePeLe.

Disamping itu gaya hidup masyarakat sekarang yang lebih banyak beraktivitas di ruangan berpendingin udara (AC), juga membuat mata semakin sering terpapar udara kering.

Berdasarkan Survei Mata Kering yang digelar INSTO pada 710 responden di area Jabodetabek dan Bandung, menunjukkan 41 persen diantaranya mengalami mata kering. Artinya, 4 dari 10 orang di area tersebut mengalami mata kering.

INSTO juga mencatat banyak penderita mata kering belum menyadari kondisi yang dialaminya. Umumnya, mereka hanya menganggapnya sebagai kelelahan biasa atau akibat kurang tidur.

Hal tersebut kemudian membuat penanganan yang seharusnya dilakukan sejak dini justru tertunda. Hingga terus berkembang menjadi lebih berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Menyadari kondisi di atas, INSTO sebagai brand yang telah dipercaya selama lebih dari 50 tahun merilis Kampanye Bebas Mata SePeLe melalui pengenalan varian Insto Dry Eyes.

Varian ini mengandung hypromellose  atau hydroxypropyl methylcellulose atau dijuluki sebagai air mata buatan. Sebab, ia berfungsi untuk melumasi dan melembapkan bola mata seperti halnya air mata alami.

Dalam siaran persnya, INSTO menegaskan gerakan tersebut bukan sekadar aktivitas pemasaran, melainkan edukasi dan upaya jangka panjang untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih peduli dengan kesehatan mata.

Kampanye Bebas Mata SePeLe telah digelar di berbagai kota di Indonesia sejak Agustus 2025. Mulai dari Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta.  Adapun kampanye ini memuat beragam kegiatan, seperti pemeriksaan mata kering gratis, zona edukasi interaktif, serta hiburan yang informatif.

Tujuan kampanye ini pada akhirnya diharapkan dapat mencakup tiga poin penting. Pertama, masyarakat memahami bahwa mata terasa sepet bukan kondisi normal jika terjadi berulang. 

Kedua, kondisi mata perih bukan hanya sekadar iritasi ringan akibat debu atau asap. Terakhir, masyarakat memahami mata cepat lelah bukan hanya tanda kurang istirahat.

Pentingnya Air Mata

dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM., memaparkan bagaimana peran vital air mata bagi kesehatan mata dalam acara INSTO “Bebas Mata SePeLe” di Gandaria City Mall, Jakarta Selatan pada November tahun lalu.

Ia menganalogikan air mata layaknya air wiper pada mobil yang berfungsi dalam membersihkan permukaan kaca.

Setiap kali manusia berkedip, kata dr. Eka, terdapat mekanisme alami pada mata yang bekerja untuk menjaga kelembapan sekaligus kebersihannya.

Kedipan mata turut membantu menyebarkan lapisan air mata secara merata di permukaan kornea.

“Lapisan air mata kita itu sebenarnya sebuah struktur yang sangat kompleks. Ia melapisi kornea dengan sangat sempurna. Jadi, kita enggak boleh cuek dengan lapisan air mata ini,” ujar dr. Eka melansir Kompas.com.

Menurutnya, setiap kedipan mata juga memicu kerja kelenjar meibom, yaitu kelenjar yang berfungsi mencegah penguapan berlebihan pada lapisan air mata.

Dengan mekanisme itu, permukaan mata tetap terjaga bersih, lembap, dan terlindungi.

“Nah, setiap kita berkedip, kelenjar-kelenjar meibom di mata kita langsung bekerja untuk menghindari evaporasi yang terlalu berlebihan. Mata kembali bersih, kembali lembap,” jelasnya.

Sebaliknya, ketika lapisan air mata tidak berfungsi dengan baik, permukaan kornea berisiko menjadi kering dan mengalami luka.

Kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa mengganjal, perih, hingga kerusakan kornea jika berlangsung dalam waktu lama.

“Kalau air mata kurang atau mengalami evaporasi, akan muncul banyak luka. Mata terasa mengganjal, perih, dan lama-lama korneanya bisa rusak,” ujarnya.

Dalam kondisi yang lebih berat, kekeringan pada kornea dapat menyebabkan erosi kornea persisten, yaitu kondisi serius yang menimbulkan nyeri hebat dan gangguan penglihatan.

“Kalau sudah rusak, bisa menyebabkan erosi kornea persisten. Itu sakit banget, sampai kita susah sekali membuka mata,” tuntas dr. Eka.

Berdasarkan uraian di atas, maka sudah saatnya memberikan perhatian lebih kepada organ mata kita seperti yang dilakukan Aidil.

Bukan karena sinar radiasi dari layar laptop atau gawai yang membuat mata rusak, akan tetapi studi yang menyebutkan bahwa durasi kedipan mata menurun drastis saat menatap layar.

Jika kedipan mata seseorang dalam kondisi normal bisa mencapai 10 hingga 15 kali per menit, pada saat menatap layar maka kedipan itu hanya berkisar 5 hingga 7 kali per menit.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.