Masih Was-was, Pak Guru Agus Tak Hadiri Mediasi dengan Siswa yang Mengeroyoknya
January 16, 2026 01:19 AM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Jambi - Masih merasa was-was, guru SMK Negeri 3 Tanjab Timur, Agus Saputra, yang dikeroyok puluhan muridnya, memilih tak menghadiri mediasi.

Adapun mediasi tersebut digelar Disdik Provinsi Jambi, antara para murid dengan pihak sekolah dalam hal ini komite sekolah.

Tanjung Jabung Timur, Jambi adalah satu kabupaten di Provinsi Jambi, Indonesia. Ibu kotanya berada di Muara Sabak. Kabupaten ini berada di pesisir timur Pulau Sumatra dan berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan.

Wilayah Tanjung Jabung Timur dikenal dengan kawasan pesisir, rawa, dan sungai, dengan mata pencaharian utama masyarakatnya di sektor perikanan, pertanian, dan perkebunan. Kabupaten ini juga memiliki peran penting sebagai daerah penyangga ekosistem pesisir dan mangrove di Provinsi Jambi.

Dikutip Tribunlampung.co.id dari TribunJambi.com, pak Guru Agus Saputra, yang ditemui Tribunjambi.com di rumahnya, Kamis (15/01/2026), menyebut, BAP di Disdik Provinsi Jambi bersifat konfirmatif.

Agus mengatakan, dirinya hanya dimintai keterangan oleh Kasi GTK Disdik Provinsi Jambi.

“Saya diminta keterangan oleh pihak dinas melalui kasi GTK. Tadi sudah saya sampaikan kronologi kejadian pada hari Selasa tersebut,” katanya.

Dia menuturkan, pihak disdik mencatat kronologi kejadian tersebut secara detail.

“Hasilnya nanti akan dikonfirmasikan lagi kepada saya di hari-hari berikutnya,” tuturnya.

Terkait mediasi, Agus menjelaskan mediasi tersebut diwakilkan oleh pihak komite sekolah.

Sebab, dirinya masih merasa was-was dengan peristiwa yang dialaminya.

Sehingga, dirinya hanya menitipkan pesan kepada pihak komite.

Pesan itu berupa bahwa Agus merasa tidak ada yang menginginkan dirinya berada di sekolah tersebut.

“Kalau saya dijamin keselamatannya, saya akan ke sana walaupun sendirian tanpa ada keluarga. Namun, sisi yang lain, saya tentu juga harus menjaga diri, kesehatan itu juga harus dijaga,” jelasnya.

“Saya tidak mungkin memaksakan diri juga ke sana, dengan segala konsekuensi psikis saya, psikologi saya,” lanjutnya.

Baca juga: Nasib Pak Guru Agus yang Dikeroyok Muridnya, Ketua OSIS Minta Dipindahkan

Sebab itu, Agus berharap agar mendapatkan tempat bekerja yang lebih baik.

Menurutnya, tidak mungkin dirinya kembali mengajar di sekolah tersebut.

Sebab, dirinya merasa sudah tidak diterima secara masif dan secara besar-besaran di sekolah tersebut.

“Saya dengan ketulusan hati, minta pihak terkait memberikan ruang dan tempat yang lain untuk bekerja dengan rasa aman atas keselamatan saya, atas kesehatan saya,” harapnya.

“Saya tidak mungkin bekerja lagi di sana. Sangat mengambil resiko kalau saya masih ke sana. Saya minta dengan sangat kebijakan dari pemerintah Provinsi Jambi,” pungkasnya.

Video pengeroyokan viral

Agus Saputra, guru SMK Negeri 3 Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dikeroyok sejumlah siswanya sendiri saat jam istirahat sekolah.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun Jambi, insiden itu diduga dipicu cekcok mulut antara guru dan siswa yang berawal dari ucapan guru yang dianggap menyinggung perasaan siswa dan orang tua mereka, hingga berujung pada aksi kekerasan fisik.

Kekerasan fisik di lingkungan sekolah itu terjadi di SMKN 3 Berbak Kabupaten Tanjung Jabung Timur terjadi pada Selasa (13/1/2026).

Video kekerasan fisik pengajar dan siswa itu beredar di media sosial.

Terlihat seorang guru laki-laki mengenakan seragam dinas warna cokelat menjadi sasaran amukan sejumlah siswa laki-laki. 

Diduga Berawal dari Kalimat

Informasi yang dihimpun Tribun Jambi, peristiwa bermula dari ucapan guru bernama Agus Saputra yang diduga menyinggung perasaan siswa. 

Kalimat yang dilontarkan guru dianggap telah menghina orang tua siswa, sehingga memicu emosi beberapa siswa.

Cekcok mulut tak terhindarkan, hingga berujung pada aksi kekerasan fisik. 

Sejumlah siswa mengejar Agus Saputra tersebut sampai ke halaman sekolah lalu melakukan kekerasan fisik.

Situasi sempat memanas, sebelum guru-guru lain yang berada di lokasi melerai.

Para guru lalu membawa Agus Saputra ke sebuah ruangan untuk menghindari aksi lanjutan.

Lapor ke Dinas Pendidikan

Pascakejadian, Agus Saputra melaporkan peristiwa itu ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.

Saat diwawancarai Tribun Jambi, dia menuturkan kronologi tindak kekerasan di lingkungan sekolah.

Bermula saat dia ditegur seorang siswa dengan nada tidak sopan dari dalam kelas, sekitar pukul 09.00-10.00 WIB, ketika proses belajar mengajar berlangsung.

"Dia menegur saya dengan kata-kata tidak pantas. Saat itu juga saya masuk ke kelas dan menanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” ujar Agus.

Menurut Agus, siswa tersebut mengaku dan menantangnya. 

Agus pun mengakui sempat menampar siswa itu satu kali secara refleks. 

Ketegangan kemudian berlanjut hingga jam istirahat dan siang hari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.