SRIPOKU.COM - Selama puluhan tahun, laboratorium sekolah sering kali dianggap sebagai ruangan "keramat" yang hanya dikunjungi sesekali untuk praktikum sederhana.
Namun, di era Kurikulum Merdeka bagi siswa kelas 10, laboratorium bertransformasi menjadi pusat inovasi melalui kegiatan kokurikuler.
Di sinilah sains tidak lagi sekadar deretan rumus di buku cetak, melainkan sebuah petualangan penemuan.
Baca juga: Menghidupkan Masa Lalu: Saat Museum Menjadi Ruang Kelas Masa Kini, Kokurikuler SMA Kelas 10 SMA
Bukan Sekadar Praktikum Biasa
Berbeda dengan jam pelajaran sains reguler yang dibatasi waktu, kegiatan kokurikuler di laboratorium riset memberikan kebebasan bagi siswa untuk melakukan observasi mendalam.
Jika di kelas mereka belajar tentang sel, dalam kegiatan kokurikuler mereka bisa menghabiskan waktu meneliti efektivitas ekstrak tumbuhan lokal terhadap pertumbuhan bakteri.
Kegiatan ini berfungsi memperkuat materi inti (intrakurikuler) dengan memberikan ruang bagi siswa untuk bertanya "Mengapa?" dan "Bagaimana jika?".
Mengasah "Growth Mindset" melalui Kegagalan
Laboratorium adalah tempat terbaik untuk belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari kesuksesan.
Saat sebuah eksperimen tidak berjalan sesuai rencana, siswa kelas 10 ditantang untuk melakukan troubleshooting.
Proses ini membangun keterampilan tingkat tinggi yang sangat dicari di dunia modern:
Menyiapkan Generasi Peneliti Sejak Dini
Indonesia membutuhkan lebih banyak ilmuwan dan peneliti untuk menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan ketahanan pangan.
Kegiatan kokurikuler di laboratorium penelitian menjadi langkah awal yang krusial.
Siswa yang terbiasa memegang pipet, mengoperasikan mikroskop digital, atau menyusun laporan riset akan memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi saat melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas.
Mereka tidak lagi asing dengan metodologi ilmiah.***