Hasil SPE Kinerja Penjualan Eceran Kota Surabaya Desember 2025 Tetap Tumbuh Positif
January 16, 2026 01:32 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Hasil  Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dilakukan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur (BI KPw Jatim) memperkirakan kinerja penjualan eceran pada Desember 2025 tetap tumbuh positif secara tahunan maupun bulanan. 

Kondisi tersebut tercermin dari nilai Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 yang diprakirakan sebesar 500,4, atau tumbuh sebesar 17,0 0/0 (yoy), meskipun melambat dibandingkan realisasi November 2025 sebesar 21,4 persen (yoy).

"Berdasarkan kelompoknya, kinerja penjualan yang diprakirakan tetap positif terutama ditopang oleh Kelompok Suku Cadang dan Aksesori; Makanan, Minuman dan Tembakau; serta Barang Budaya dan Rekreasi, seiring dengan meningkatnya permintaan pada periode HBKN Natal dan Tahun Baru," kata Ibrahim, Kepala BI KPw Jatim, Kamis (15/1/2026).

Peningkatan Pertumbuhan Subkelompok Sanda

Lebih lanjut, Ibrahim menyebut, barang lainnya dari subkelompok Sandang diprakirakan mengalami peningkatan pertumbuhan.

Adapun beberapa kelompok diprakirakan mengalami perbaikan meskipun masih berada pada fase kontraksi, yaitu Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya serta Peralatan Informasi dan Komunikasi.

Baca juga: DIrektur EDR Bank Indonesia Meyakini Ekonomi Syariah Jadi Masa Depan Indonesia

"Sementara itu, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diprakirakan mengalami kontraksi yang lebih dalam," jelas Ibrahim.

Secara bulanan, kinerja penjualan pada Desember 2025 diprakirakan tetap tumbuh positif sebesar 0,9 0/0 (mtm), meskipun melambat dari 1,3 persen (mtm) pada November 2025.

Tetap positifnya kinerja penjualan tersebut didorong oleh seluruh kelompok yang diprakirakan berada pada fase pertumbuhan, terutama Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi; Barang Budaya dan Rekreasi; serta Suku Cadang dan Aksesori.

Pada November 2025, realisasi kinerja penjualan eceran meningkat baik secara tahunan maupun bulanan.

IPR November 2025 tercatat sebesar 496, 1, tumbuh sebesar 21 ,4 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan Oktober 2025 yang tumbuh sebesar 1 9,1  persen (yoy).

Peningkatan kinerja penjualan eceran Kota Surabaya sejalan dengan perkembangan IPR Nasional November 2025 yang tercatat sebesar 222,9, atau tumbuh 6,3 persen (yoy), naik dari 4,3 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.

Tiga Kelompok yang Alami Perbaikan

Berdasarkan kelompoknya, peningkatan penjualan didorong oleh Kelompok Suku Cadang dan Aksesori; Makanan, Minuman dan Tembakau; Barang Budaya dan Rekreasi; serta Barang Lainnya Subkelompok Sandang.

"Di sisi lain, terdapat tiga kelompok yang mengalami perbaikan meskipun masih berada pada fase kontraksi, yaitu Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor; Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya; serta Peralatan Informasi dan Komunikasi," ungkap Ibrahim.

Secara bulanan, penjualan eceran November 2025 tumbuh sebesar 1,3 persen (mtm), meningkat dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat sebesar 0,4 persen (mtm).

Peningkatan tersebut ditopang oleh kenaikan kinerja penjualan pada Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi; Suku Cadang dan Aksesori; Barang Lainnya Subkelompok Sandang; serta Makanan, Minuman dan Tembakau, seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang HBKN Natal dan Tahun Baru.

Selain itu, beberapa kelompok juga mencatatkan perbaikan kinerja setelah terkontraksi pada bulan sebelumnya, yaitu Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor; Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya; serta Barang Budaya dan Rekreasi.

"Responden memperkirakan kinerja penjualan eceran akan meningkat pada Februari 2026 (tiga bulan mendatang), namun diprakirakan melambat pada Mei 2026 (enam bulan mendatang). Kondisi tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Februari 2026 yang mencapai 175,6, lebih tinggi dibandingkan 174,4 pada Januari 2026, seiring dengan peningkatan permintaan masyarakat pada momen HBKN Imlek," beber Ibrahim.

Dipengaruhi Cuti Bersama

Sementara itu, IEP Mei 2026 diprakirakan sebesar 161,0, Iebih rendah dibandingkan dengan 164,6 pada April 2026.

Perlambatan tersebut diperkirakan disebabkan oleh berkurangnya hari operasional penjualan pada periode cuti bersama HBKN Idul Adha dan Hari Raya Waisak.

Dari Sisi harga, tekanan inflasi pada Februari 2026 (tiga bulan ke depan) diprakirakan meningkat, sementara pada Mei 2026 (enam bulan ke depan) diprakirakan stabil.

Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum pada Februari 2026 yang meningkat menjadi sebesar 169,5 dari 158,5 pada Januari 2026 seiring dengan kenaikan permintaan masyarakat pada momen HBKN lmlek.

"Selanjutnya, Indeks Ekspektasi Harga Umum pada Mei 2026 sebesar 1 62,2, stabil dibandingkan April 2026. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekspektasi harga tetap berada pada level yang relatif masih tinggi seiring dengan kenaikan permintaan masyarakat pada momen HBKN Idul Adha dan Hari Raya Waisak," pungkas Ibrahim.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.