Laporan Isya Anshori
SURYAMALANG.COM, KEDIRI - Fenomena patung macan putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, tak hanya mencuri perhatian publik di media sosial, tetapi juga menarik minat sineas muda asal Kediri, Harianto.
Sosok yang dikenal lewat karya film bertema lokal itu berencana mengangkat kisah Patung Macan Putih Balongjeruk ke layar lebar.
Setelah viral dan menjadi perbincangan luas, Harianto melihat Patung Macan Putih Balongjeruk bukan sekadar objek visual, melainkan menyimpan cerita dan nilai budaya yang kuat.
Dari situlah muncul gagasan untuk mengemas fenomena tersebut menjadi sebuah film layar lebar yang berangkat dari kearifan lokal.
Baca juga: Patung Macan Putih Balongjeruk Kediri Resmi Dipatenkan, Jadi Identitas Desa dan Dilindungi Negara
Harianto selama ini dikenal konsisten menghadirkan karya-karya yang bersumber dari realitas sosial dan kekuatan budaya daerah.
Melalui proyek terbarunya ini, ia ingin kembali menghadirkan cerita lokal Kediri dengan pendekatan sinematik yang lebih luas dan matang.
Film Patung Macan Putih nantinya akan dibangun melalui narasi yang mengisahkan hubungan manusia dengan nilai-nilai warisan leluhur.
Cerita tersebut dikaitkan dengan kondisi zaman yang terus berubah, di mana budaya lokal perlahan mulai tergerus modernisasi.
Narasi itu kemudian dibingkai dalam sebuah film yang tidak hanya menawarkan visual, tetapi juga sarat pesan moral dan nilai budaya.
Harianto menegaskan bahwa viralitas bukan tujuan utama, melainkan pintu masuk untuk menghadirkan karya yang memiliki dampak jangka panjang.
"Viral itu hanya pintu masuk. Yang ingin kami bangun adalah karya yang bertahan lama, punya nilai budaya, pesan moral, dan berdampak ekonomi," kata Harianto kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (16/1/2026).
Harianto yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara film Pejuang Kampung 1 dan 2 menyebutkan film ini diproyeksikan tidak hanya menjadi tontonan hiburan, tetapi juga diharapkan mampu menjadi ikon baru pariwisata dan ekonomi kreatif Kabupaten Kediri.
Baca juga: Patung Macan Putih Menjelma Dewa Rezeki bagi Warga Sekitar Desa Balongjeruk Kediri, UMKM Meroket
Dengan cerita yang kuat dan visual yang dapat diterima lintas generasi, film ini disiapkan untuk berbagai format distribusi.
Harianto menjelaskan proyek tersebut dirancang fleksibel untuk penayangan di bioskop sekaligus membuka peluang distribusi hingga ke tingkat internasional.
Seluruh proses pengembangan film pun disiapkan dengan konsep matang, visi jangka panjang, serta strategi distribusi yang berkelanjutan.
Lebih dari sekadar karya sinema, film Patung Macan Putih disebut sebagai investasi cerita lokal yang berpotensi tumbuh menjadi legenda nasional.
"Sosok Macan Putih tidak lagi hanya berdiri sebagai patung, tetapi diharapkan hidup sebagai simbol dan cerita yang menginspirasi," tandasnya.
Terpisah, Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menyambut positif rencana penggarapan film tersebut.
Ia menilai selama cerita yang diangkat bernilai positif dan memberi manfaat bagi desa, pihaknya mendukung penuh.
"Senang saja, yang penting ceritanya positif dan desa dapat royalti," kata Safi’i.
Safi'i juga mengungkapkan bahwa pihak sutradara telah meminta izin secara resmi kepada pemerintah desa untuk mengangkat kisah Patung Macan Putih ke dalam film.
Menurutnya, izin telah diberikan dan saat ini tinggal menunggu tahapan persiapan selanjutnya.
"Sementara kemarin sutradara minta izin boleh atau tidaknya buat film Macan Putih dan sudah dapat izin dari saya, tinggal persiapan langkah berikutnya," ungkap Safi’i.