Setelah Didera Cuaca Buruk, Warga Wae Lolos Manggarai Barat Ritual Adat
January 16, 2026 04:47 PM

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales 

TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO - Setelah didera cuaca ekstrem dan suasana yang mencekam akibat angin kencang dari pagi hingga petang, Kampung Langgo, Desa Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat, alam seolah sepakat untuk bersahabat, menyisakan udara sejuk dan suasana yang tenang. 

Di tengah kedamaian itu, sebuah tradisi sakral bertajuk Ritual Adat Cunca Plias. Ritual yang menjadi urat nadi spiritualitas warga setempat ini terasa kian istimewa. 

Pasalnya, keheningan doa-doa adat tidak hanya dihadiri oleh masyarakat lokal, tetapi juga disaksikan langsung dengan penuh takzim oleh sejumlah wisatawan asal Spanyol dan Prancis. 

Bagi para pelancong Eropa ini, momen tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan jendela untuk melihat betapa eratnya hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan alam semesta.

 

 

 

Baca juga: Gunung Ili Lewotolok di Pulau Lembata NTT Erupsi Lagi, Masyarakat Diminta Waspada

 

 

 

 

 

 

 

Prosesi dimulai dari jantung tradisi, Rumah Adat (Mbaru Gendang) Kampung Langgo dan Compang Langgo. Di sana, para tokoh adat bersama anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cunca Plias merapalkan doa-doa pembuka dengan khidmat.

Perjalanan spiritual berlanjut menuju sumber air minum warga, sebuah simbol kehidupan yang harus terus dijaga kesuciannya. Puncaknya, seluruh rombongan bergerak menuju gemuruh sakral Air Terjun Cunca Plias. Di hadapan tirai air yang megah, ritual syukur dilarungkan.

Ketua Pokdarwis Cunca Plias, Robert Perkasa saat dikonfirmasi TRIBUNFLORES.COM, Jumat (16/1/2026), menjelaskan ritual ini membawa misi yang mendalam. 

Selain sebagai bentuk syukur atas segala keberhasilan di tahun yang lalu, prosesi ini adalah bentuk "Pagar Gaib" bagi siapa saja yang menginjakkan kaki di Desa Wisata Seribu Air Terjun Wae Lolos.

"Kami memohon kepada leluhur dan Sang Pencipta agar seluruh wisatawan yang datang ke sini dijauhkan dari mara bahaya. Kami ingin setiap orang yang datang pulang dengan kenangan indah, tanpa ada kecelakaan atau hal yang tidak diinginkan," ujar Robert.

Momen ini juga menjadi tonggak sejarah bagi kemandirian desa. Ritual adat ini digelar bertepatan dengan dimulainya operasional kantor baru Pokdarwis yang berfungsi sebagai Tourist Information Center (TIC). 

"Fasilitas ini, bersama dengan sarana penunjang seperti toilet bersih yang merupakan bantuan dari Bank Indonesia, diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan bagi wisatawan mancanegara maupun domestik," terang Robert.

Cuaca yang tiba-tiba bersahabat, kini seolah menjadi "restu" dari alam bagi masyarakat Wae Lolos. Saat bahan sesajian persembahan dan rapalan doa menyatu dengan suara air terjun, ada harapan besar bahwa Cunca Plias tidak hanya akan dikenal karena keindahan visualnya tetapi juga karena kehangatan doa dan keteguhan adatnya.

Bagi wisatawan Spanyol dan Prancis yang hadir, ritual tersebut bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan sebuah ziarah budaya yang akan mereka ceritakan saat kembali ke negeri asal. (moa)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.