Senggol Gapura Linggau Juara Hingga Roboh, Sopir Bingung Bayar Rp 40 Juta
January 16, 2026 04:48 PM

TRIBUNJAMBI.COM -Meo Trisusanto, sopir truk bermuatan kerupuk, menyampaikan pengalamannya setelah kendaraannya menyenggol Gapura Linggau Juara hingga roboh dan kemudian diminta menyediakan dana jaminan sebesar Rp40 juta, Jumat (16/1/2026).

Pria berusia 33 tahun itu mengaku tidak pernah membayangkan peristiwa tersebut akan berujung pada persoalan yang membebani dirinya dan keluarga.

Peristiwa bermula saat truk yang dikemudikannya membawa muatan kerupuk dan keramik melintas di Jalan Kenanga, Lintas Kelurahan Batu Urip, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Kota Lubuklinggau, pada Selasa (13/1/2026).

Saat melintas, bagian atas muatan truk tersangkut besi mistar Gapura Linggau Juara sehingga menyebabkan gapura tersebut ambruk.

Meo menyebut dirinya kemudian dihubungi oleh Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Kota Lubuklinggau untuk membahas perbaikan gapura yang roboh.

Dalam komunikasi tersebut, Meo diminta berkoordinasi langsung dengan pihak tukang yang ditunjuk untuk melakukan perbaikan.

Menurut Meo, tukang yang diajak berkoordinasi meminta uang jaminan awal sebagai syarat perbaikan dengan nominal mencapai Rp40 juta.

Istri Meo, Fera, menjelaskan bahwa mereka telah menandatangani surat pernyataan kesanggupan bertanggung jawab hingga gapura kembali berdiri.

Sebagai bagian dari proses penyelesaian, kendaraan milik Meo ditahan oleh pihak kepolisian sebagai jaminan.

“Tapi yang kami keluhkan ini untuk menegakkan kembali gapura itu kami dimintai dana,” ujar Fera dalam rekaman video yang beredar di media sosial Facebook.

Fera mengungkapkan bahwa permintaan dana tersebut muncul setelah ia dan suaminya dihubungi oleh Kabid Cipta Karya Dinas PUPR Kota Lubuklinggau untuk melakukan negosiasi langsung dengan tukang.

“Awalnya negosiasi minta Rp51 juta, terus aku minta toleransi, enggak ada toleransi to mas, ya sudah saya bantu Rp3 juta jadi Rp48 juta,” ungkap Fera.

Ia menambahkan, pada Kamis (15/1/2026) pagi, dirinya kembali dihubungi oleh Kabid Cipta Karya agar proses negosiasi segera diselesaikan supaya persoalan tidak berlarut-larut.

Dalam pembicaraan lanjutan tersebut, Fera kembali bernegosiasi dengan tukang bernama Suprinya.

“Terus negosiasi lagi dengan mas Suprinya, mas tukangnya, tanya gimana mas netnya berapa? terus dijawabnya Rp40 juta, saya belum beri keputusan sampai sekarang,” ujarnya.

Hingga saat ini, Meo dan istrinya belum memberikan persetujuan karena mengaku kesulitan mencari dana sebesar Rp40 juta.

Mereka juga menyampaikan keberatan karena kendaraan yang biasa digunakan untuk bekerja masih ditahan sebagai jaminan.

“Bagi kami Rp40 juta itu berat kami harus cari uang kemana,” kata Fera.

Meo menyatakan tetap bersedia bertanggung jawab atas kejadian tersebut, namun berharap adanya keringanan dalam pembebanan biaya perbaikan.

“Jangan segitu biayanya, aku tetap tanggung jawab, jangan nominal yang seperti itu Rp40 juta,” ujarnya.

Fera menambahkan bahwa pihak Dinas PUPR Lubuklinggau sebenarnya mempersilakan jika mereka ingin mencari bengkel las lain untuk perbaikan gapura.

Namun, ia mengaku khawatir apabila memilih bengkel lain, hasil perbaikan tidak sesuai dengan standar atau keinginan pihak PUPR.

“Boleh disarankan ke bengkel lain, tapi takutnya tidak sesuai dengan keinginan pak PU,” katanya.

Selain itu, Fera menyebut hingga kini belum ada rincian penggunaan dana yang diminta sehingga membuat mereka bingung.

Ia menilai seharusnya ada penjelasan detail terkait kebutuhan biaya perbaikan agar pihaknya memahami alokasi dana tersebut.

“Apalagi syarat itu uang dimuka, terus mobil baru keluar, sementara kami mencari menggunakan mobil itu,” ungkapnya.

Meo juga menceritakan kronologi kejadian saat gapura tersebut roboh.

Ia mengatakan tidak menyangka gapura yang baru rampung sekitar tiga minggu itu bisa ambruk hanya karena tersenggol muatan truknya.

Menurut Meo, setelah bagian muatan tersangkut, truk masih berjalan sekitar 50 meter sebelum terdengar suara gapura roboh.

“Jarak mobil berjalan dengan gapura ambruk sekitar 50 meter, baru kedengaran roboh,” ujarnya.

Ia menegaskan muatan kerupuk yang tersangkut hanya sedikit dan tidak mengalami kerusakan.

“Yang nyangkut itu sedikit, kerupuk seberapalah kerasnya kerupuk itu, bwa dari Palembang untuk bu Lilis di Kenanga I,” katanya.

Meo menambahkan bahwa saat melintas di bawah gapura, ia tidak mengemudikan truk dengan kecepatan tinggi.

“Kami tu lewat santai bae, tiba-tiba grubuk, setelah dengar itu kami berhenti, saya lihat belakang gapura sudah roboh,” ujarnya.
 

Baca juga: Presiden Prabowo Kumpulkan 1000 Rektor di Istana, Ternyata Ini Tujuannya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.