Kakanwil Ditjen Pemasyarakatan Jambi Bicara Mengubah Perspektif Pemenjaraan Menjadi Pemberdayaan
January 16, 2026 04:48 PM

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BULIAN - Wajah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Muara Bulian, Kabupaten Batanghari, sudah berubah jauh.

Kini lapas ini memiliki wajah baru, tak lagi sekadar tempat menjalani hukuman. Kini, lapas menjadi ruang pembinaan dan pemberdayaan warga binaan melalui program ketahanan pangan.

Panen raya padi, sayuran, ikan lele, gurami, hingga ternak ayam menjadi bukti nyata perubahan pendekatan tersebut. 

Kegiatan ini dirangkaikan dengan pasar murah yang terbuka untuk masyarakat, sekaligus wujud integrasi antara warga binaan dan lingkungan sekitar.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jambi, Irwan Rahmat Gumilar, mengatakan lembaga pemasyarakatan kini berorientasi pada pembinaan kemandirian. 

Warga binaan tidak hanya dibina secara mental, tetapi juga dibekali keterampilan agar siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi produktif.

Melalui program yang digagas Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), lapas didorong memanfaatkan seluruh lahan kosong untuk produksi pangan. 
Hasilnya bukan hanya untuk konsumsi internal, tetapi juga memberi manfaat sosial, termasuk disalurkan bagi korban bencana di sejumlah daerah.

Bagaimana ide itu muncul dan bagaimana prosesnya? Berikut petikan wawancara Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jambi, Irwan Rahmat Gumilar, bersama Pemimpin Redaksi Tribun Jambi, Yoso Muliawan.

Yoso Muliawan (selanjutnya TJ):
Tribuners, kita mau bincang-bincang soal pemasyarakatan. Jadi, pemasyarakatan, itu sudah pecah dari dulu Kementerian Hukum dan HAM. Kementerian Hukum dan HAM menyesuaikan kebijakan pemerintah. Kementerian tersebut dipecah menjadi Kementerian Hukum, Kementerian HAM, kemudian Kementerian IMIPAS.

Nah, beliau khusus di Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Tribuners.

Irwan Rahmat Gumilar (selanjutnya IRG):
Iya, benar

TJ:
Sekarang ada perspektif baru di dunia pemasyarakatan, ya Pak Irwan. Jadi bukan lagi soal pemenjaraan fisik atau badannya si narapidana atau warga binaan. Tetapi juga model pembinaan atau pemberdayaan.

Nah, itulah kemudian konteksnya ada panen raya, berarti mereka berkebun dan sebagainya. Kemudian ada pasar murah, mereka berjualan dan sebagainya.

Kira-kira seperti apa sih, kok bisa muncul perspektif soal pembinaan atau pemberdayaan ini?

IRG:
Terima kasih, Tribuners.

Tentu ini kesempatan yang baik untuk saya bisa bersilaturahmi dengan masyarakat, tentunya dengan Tribuners sendiri.

Yang pertama, saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri saya, Bapak Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Tentunya juga kepada Dirjen Pemasyarakatan yang telah memberikan ruang atau pemikiran yang berbeda daripada sebelumnya, sehingga muncullah program Ketahanan Pangan ini.

Program Ketahanan Pangan ini sudah ditetapkan beliau dalam program aksi.

Melalui pentahapan, melalui pelatihan, dan mereka secara skill sudah memiliki keterampilan terkait dengan bersocok tanam.

Maka mereka diharapkan bisa memberikan kontribusi dalam program Ketahanan Pangan dengan memanfaatkan lahan-lahan yang ada di sekitar lapas. Itu yang pertama.

Tentunya pemasyarakatan di sini pun adalah bagaimana kita memberikan ruang untuk memulihkan kembali bahwa masyarakat yang saat ini ada di dalam, mereka sedang berhadapan dengan hukum dan sedang melaksanakan putusan pidana.

Harapannya mereka tidak hanya sebatas dikurung, tetapi betul-betul diberikan kesempatan untuk mendapatkan pelatihan. Sehingga betul-betul mereka akan kembali ke masyarakat menjadi manusia yang mandiri.

TJ:
Mungkin Tribuners butuh tahu ini, Pak Irwan. Jadi mereka ini ngapain sih, misalkan ini panen raya nih. Sebelumnya berarti ada proses. Mereka itu ngapain sih di dalam?

IRG:
Ya, tentunya ini kan pemasyarakatan, dari mulai masuk itu mereka ada namanya litmas.

Litmas awal ini dilakukan oleh Pembimbing Kemasyarakatan.

Pembimbing Kemasyarakatan melakukan penelitian untuk meng-capture warga binaan ini latar belakangnya apa. Latar belakang pendidikannya apa.

Kemudian mereka sudah pernah kerja di mana saja. Dan mereka punya minat bakat apa saja.

Nah, berdasarkan hasil litmas dari PK, maka ini diambil oleh lapas dalam pembinaan.

Oh, berarti yang bersangkutan memiliki kemampuan, minat, dan bakat, salah satunya di pertanian.

Nah, ketika mereka sudah mengajukan di pertanian, maka pihak lapas melakukan pembinaan.

Apakah itu mandiri oleh petugas lapas sendiri atau kita bekerja sama dengan pihak-pihak yang memang membidangi pertanian.

Jadi di awal didata, discreening dulu minatnya ke mana. Kemudian dibina.

TJ:
Kalau ini yang berkebun dan sebagainya, itu di dalam. Itu kriterianya napi seperti apa atau warga binaan seperti apa, Pak Irwan?

IRG:
Ya, tentunya kalau di sekitar lapas, di dalam tembok, mereka memang diberikan keleluasaan karena masih dalam pengamanan.

Tapi ketika mereka keluar, dia harus punya persyaratan. Dua per tiga sudah menjalani masa pidana. Artinya sudah dua per tiga menjalani hukuman.

Kemudian menunjukkan kelakuan baik.

Kemudian berdasarkan hasil pengamatan petugas dan hasil sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan yang melibatkan PK dari Bapas.

Nah, ini diberikan penilaian.

Ternyata yang bersangkutan secara risiko rendah. Dia tidak berpotensi dengan jaringan. Kemudian dia juga tidak berpotensi mengganggu ketertiban.

Nah, itu yang bisa direkomendasikan untuk asimilasi.

Oh, asimilasi ya. Artinya itu sebenarnya sebentar lagi dia akan keluar dari pemasyarakatan.

Kemudian itulah nanti dia akan bermasyarakat. Nah, itulah dibekali untuk dia bermasyarakat.

TJ:
Itu ada istilah tahanan pendamping atau tamping. Itu apakah sama atau beda lagi, Pak?

IRG:
Beda. Mereka ini adalah tahanan atau narapidana.

Kalau di dalam, narapidana itu yang sudah inkrah putusan pengadilan dan melaksanakan putusan pengadilan di lapas.

Kalau belum masuk ke lapas namanya terpidana. Kalau tahanan itu masih dalam proses persidangan.

Nah, terkait dengan tamping yang dikenal masyarakat, itu kurang lebih seperti itu.

Kalau tamping, dia tahanan tapi proses hukum masih berjalan.

Kalau warga binaan asimilasi, masa pidananya masih berjalan, tapi dia sudah dua per tiga dan berhak asimilasi.

TJ:
Tadi acaranya panen raya. Panen apa saja tadi, Pak Irwan? Saya lihat ikut panen sayur-sayuran, ikut panen ikan lele. 

IRG:
Jadi memang hari ini adalah hari panen raya.

Tadi sudah dipimpin langsung oleh Bapak Menteri secara langsung dari Cirebon dan Nusakambangan.

Ini serentak nasional. Titiknya di Cirebon untuk Pak Menteri.

Untuk Jambi sekarang ada di Lapas Bulian.

Nah, tentunya hal ini menjadi bagian komitmen kami mendukung program Pak Menteri.

Tadi sudah kita lihat sendiri ada padi. Ada ayam petelur. Ada ayam pedaging. Kemudian ada juga ikan lele dan gurami.

Cukup seru. Program ini mendorong kreativitas warga binaan.

Untuk Jambi sendiri, ada 1,2 ton padi yang dihasilkan di lapas se-Provinsi Jambi. Mereka juga melakukan panen raya.

Hasil penjualannya, atas keikhlasan Kalapas dan Ibu Kalapas, akan disumbangkan untuk saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terkena bencana.

Ini momen baik bagaimana pemasyarakatan betul-betul memberi dampak bagi masyarakat.

Warga binaan pun ikut terlibat. Mereka menanam, memupuk, menyiram, memberi makan ikan. Mereka ikhlas hasil panennya disumbangkan.

Ini menunjukkan warga binaan ingin memberi manfaat. Masyarakat perlu memberi ruang. Bahwa mereka juga manusia berguna.

Mereka tidak selamanya hidup seperti ini.Mereka butuh ruang. Mari masyarakat berikan ruang itu.

Supaya mereka bisa kembali mandiri. Tidak menjadi beban masyarakat. Tidak menjadi beban negara.

Tadi juga ada traktor. Itu hibah dari Pak Sumidra, anggota DPR RI. Kami ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan menjadi amal jariyah.

Kemudian juga ada pasar murah. Kerja sama dengan Bulog.

Ada petani lokal. Ini area integrasi. Masyarakat bertemu warga binaan. Supaya stigma hilang. Supaya saling memahami.

Saya tidak pernah menganggap warga binaan itu orang jahat. Semua manusia di mata Tuhan sama.

Label itu buatan manusia.

Ini kesempatan baik. Mereka bisa berkontribusi. Mereka bisa bermanfaat. Anggaplah ini permohonan maaf mereka.

Berikan kesempatan. Kalau tidak ada ruang, bisa salah jalan lagi.

Itu yang kami harapkan.

Pasar murah ini hanya sehari. Warga boleh datang. Warga binaan asimilasi boleh menjajakan. Hasilnya untuk disumbangkan.

Tadi ada kacang, terong, dan macam-macam.

Ini membantu masyarakat. Ini sesuai arahan Presiden. Membantu masyarakat sekitar.

Ketahanan pangan penting. Jangan sampai kita kekurangan pangan. Tanah jangan ada yang nganggur.

Kalau ada petak, tanam cabai. Kalau banyak, bisa panen banyak. Hasil pangan bisa untuk makan sehari-hari.

Ada aturannya. Minimal 5 persen bahan pangan harus dari lapas.

Vendor membeli. Pasarnya jelas. Tidak pusing jual ke mana. Ini luar biasa.

Kami maksimalkan. Tidak boleh puas. Terus ditingkatkan.

Jambi Gemilang bukan slogan. Harus nyata.

TJ:
Pak Irwan dulu juga pernah jadi Kalapas di Purwokerto. Ada warga binaan yang sukses?

IRG:
Mereka punya potensi. Ada pengajar. Ada profesor. Ada pengusaha. Kita tinggal berdayakan.

Di Purwokerto juga kelola sampah. Jadi maggot. Jadi RDF.

Dijual ke pabrik semen. Satu minggu 21 ton sampah.

Kami bekerja sama dengan pemda.

TJ:
Soal kementerian. Sekarang Kementerian sudah terpisah dari Kemenkumham, jadi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan sendiri. Apa bedanya?

IRG:
Ini kebijakan pemerintah agar lebih fokus. Dulu satu kementerian mengurus empat bidang, sekarang lebih fokus ke pemasyarakatan dan imigrasi. Di Jambi ada 13 UPT: 10 Lapas, 1 Rutan, dan 2 Bapas.

TJ:
Terakhir, Bang Irwan, harapan ke masyarakat?

IRG:
Saya berharap masyarakat memberi ruang kepada warga binaan. Mereka ingin berubah, ingin bermanfaat. Jangan selamanya distigma. 

Dengan ruang, mereka bisa mandiri dan tidak kembali ke jalan yang salah.

TJ:
Baik, Bang Irwan. Terima kasih banyak atas waktunya. 

Tribuners, itulah obrolan hari ini. Kami pamit undur diri. Saya Yoso Mulyawan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Tribunjambi.com/Asto)

Baca juga: Breaking News Seorang Perempuan Jatuh dari Jembatan Aurduri I Jambi, Sempat Diadang Bapak-bapak

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.