TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kota Solo, Jawa Tengah, memiliki banyak bangunan ikonik dan bersejarah.
Salah satunya adalah Tugu Pamandengan.
Tugu Pamandêngan merupakan salah satu monumen bersejarah yang terletak di pusat Kota Solo, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman, di depan Balai Kota Solo.
Baca juga: Asal-usul Tugu Cembengan Jebres Solo : Sudah Berusia Lebih 100 Tahun, Dulu Penanda Makam Tionghoa
Tugu yang juga dikenal sebagai titik nol kilometer Kota Solo ini tidak hanya menjadi simbol kota, tetapi juga menyimpan makna mendalam yang terkait dengan kosmologi, kebudayaan, dan sejarah kerajaan Kasunanan Surakarta.
Tugu Pamandengan memiliki desain yang khas dan sederhana namun penuh makna.
Dengan ketinggian sekitar tiga meter, tugu ini berbentuk segiempat yang mengerucut ke atas, dilengkapi dengan empat lentera yang menghadap ke berbagai arah.
Desain ini tidak hanya memberikan kesan estetis, tetapi juga menggambarkan keselarasan dengan nilai-nilai budaya dan filosofi yang berlaku pada masa itu.
Keberadaan lentera yang mengarah ke segala arah bisa dianggap sebagai simbol penerangan atau petunjuk arah, yang mengingatkan kita akan peran penting tugu ini sebagai titik pusat dalam kosmologi Kota Solo.
Baca juga: Asal-usul Patung Jamu Gendong dan Pak Tani di Bulakrejo, Lokasi COD Favorit di Sukoharjo
Mengenai asal-usul tugu ini, ada beberapa pendapat yang beredar.
Tugu Pamandengan diperkirakan merupakan peninggalan dari masa pemerintahan raja-raja Keraton Kasunanan Surakarta, khususnya pada masa Pakubuwono VI hingga Pakubuwono X.
Namun, beberapa sejarawan juga berpendapat bahwa tugu ini dibangun bersamaan dengan perpindahan pusat kerajaan dari Kartasura ke Surakarta pada masa pemerintahan Pakubuwono II.
Meskipun tidak ada data otentik yang menyebutkan tahun pasti pembangunannya, perkiraan yang paling kuat adalah bahwa tugu ini mulai dibangun pada masa Pakubuwono IV.
Salah satu fungsi utama Tugu Pamandengan pada masa lalu adalah sebagai titik pusat pandangan Sri Susuhunan (raja) saat bersemayam di Sitihinggil, area yang digunakan oleh raja untuk bermeditasi dan memerintah.
Baca juga: Asal-usul Masjid Golo di Paseban Bayat Klaten, Konon Katanya Dulu Dipindah dari Bukit
Ketika raja duduk di Pagelaran, pandangannya akan terarah langsung ke Tugu Pamandengan, yang menjadi titik fokus baik secara fisik maupun spiritual.
Tugu ini berperan penting dalam tradisi kerajaan, seperti dalam acara Pisowanan Agung, yaitu pertemuan besar antara raja dan rakyatnya.
Lebih dari sekadar monumen, Tugu Pamandengan memiliki nilai yang lebih dalam dalam hal kosmologi dan filosofi.
Dalam tata letaknya, tugu ini menghubungkan berbagai simbol yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat Jawa pada masa itu.
Tugu ini berdiri tepat di antara beberapa landmark penting di Kota Surakarta, yang masing-masing memiliki makna tersendiri.
Di sebelah timur Tugu Pamandengan terdapat Pasar Gede, yang melambangkan aspek duniawi, terutama dalam hal ekonomi dan perdagangan.
Baca juga: Asal-usul Masjid Golo di Paseban Bayat Klaten, Konon Katanya Dulu Dipindah dari Bukit
Di sebelah barat, kita menemukan Masjid Agung Surakarta, yang menjadi simbol kedekatan dengan Sang Pencipta.
Tugu Pamandengan sendiri menjadi poros atau pusat dari garis antara duniawi dan spiritual, menggambarkan visi raja yang luas dan mengarah ke dua arah penting ini.
Hal ini juga tercermin dalam lokasi tugu yang lurus dengan Keraton Kasunanan Surakarta.
Garis antara tugu dan keraton merupakan garis spiritual yang dibagi oleh Tugu Pamandengan, dengan Masjid Agung Surakarta dan Gereja Gladak sebagai simbol-simbol penting dalam kehidupan beragama.
Di sisi lain, Pasar Gede berfungsi sebagai titik simbolik duniawi yang terkait dengan kegiatan ekonomi kota.
Tugu Pamandengan bukan hanya sebuah monumen yang diam, melainkan juga bagian dari kehidupan sosial dan budaya Kota Surakarta.
Salah satu fungsi penting tugu ini adalah sebagai titik pandang raja terhadap pusat pemerintahan kolonial Belanda yang pada masa itu terletak di Balai Kota Solo.
Hal ini menunjukkan bahwa Tugu Pamandengan juga memiliki makna yang lebih luas, yaitu sebagai representasi visual dari dinamika kekuasaan dan hubungan antara kerajaan lokal dengan pemerintahan kolonial Belanda.
Selain itu, Tugu Pamandengan juga berperan dalam acara-acara besar kerajaan, terutama pada saat Pisowanan Agung, di mana raja bertemu dengan rakyat dari berbagai daerah.
Dalam acara ini, abdi dalem dan rakyat akan berkumpul di Alun-alun Utara, dan Sinuhun (raja) akan duduk di Sitihinggil, memandang lurus ke arah Tugu Pamandengan.
Acara ini memiliki makna penting dalam mempererat hubungan antara raja dengan rakyatnya, dan dapat dianggap sebagai versi awal dari tradisi open house atau halal bi halal yang kita kenal saat ini.
(*)