Kesaksian Pilu Himawan Tentang Syafiq Ali Sebelum Terpisah, Sempat Saling Menyalahkan di Puncak
January 16, 2026 08:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Akhir tragis pendakian Syafiq Ali (18) di Gunung Slamet menyisakan luka mendalam dan sejuta tanya.

Setelah 17 hari menghilang, Syafiq ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu (14/1/2026).

Kesaksian Himawan, rekan pendakian yang menjadi orang terakhir yang melihat Syafiq bernapas, kini menjadi kunci.

Di balik badai yang menerjang puncak Slamet, terungkap momen mencekam saat keduanya harus berjuang melawan maut sebelum akhirnya terpisah selamanya.

Berikut TribunNewsmaker rangkum kronologi lengkap dan kesaksian memilukan Himawan dikutip dari Kompas.com.

Baca juga: 7 Mantan Pacar Aurelie Moeremans Sebelum Dinikahi Tyler Bigenho, Termasuk Marcello Tahitoe

Awal yang Cerah di Jalur Dipajaya

Himawan menceritakan bahwa pendakian dimulai dengan penuh semangat pada tengah malam Minggu (28/12/2025) pukul 00.00 WIB. 

Mereka berencana melakukan pendakian tektok (naik-turun langsung).

Pukul 06.00 WIB, mereka tiba di Pos 3.

POTRET  PENDAKI - Himawan, yang mengenakan jas hujan warna merah, saat bertemu dengan Bucek (syal orange) di sekitar Batu Langgar.
POTRET PENDAKI - Himawan, yang mengenakan jas hujan warna merah, saat bertemu dengan Bucek (syal orange) di sekitar Batu Langgar. (KOMPAS.com/Dok istimewa/Wanadri)

Di sinilah keputusan fatal dimulai, mereka meninggalkan ransel yang berisi baju ganti, alat mandi, jas hujan, hingga stok nasi bungkus agar bisa mendaki dengan beban ringan (lightweight).

Pukul 14.00 WIB, keduanya berhasil menapakkan kaki di Puncak Gunung Slamet.

Namun, alam seketika berubah murka. Cuaca cerah berganti badai dalam hitungan detik.

Saat hendak turun pukul 15.00 WIB, mereka tertinggal oleh pendaki lain dan menjadi orang terakhir di jalur tersebut.

Di sinilah ketegangan antara dua sahabat ini pecah akibat disorientasi arah.

Baca juga: 7 Pria Mantan Pacar Aurelie Moeremans: Roby Tremonti, Marcello Tahitoe hingga Giorgino Abraham

Malam Mencekam di Balik Batu Besar

Dalam kondisi lelah dan lapar, mereka tersesat di area lembahan bebatuan menuju jurang.

Senter yang mereka bawa mati-hidup tak menentu hingga akhirnya hilang.

Lebih malang lagi, tas P3K dan emergency blanket (selimut darurat) sempat terjatuh saat dibawa Syafiq Ali.

Keduanya terpaksa bermalam di balik batu besar dengan pakaian seadanya yang melekat di tubuh, tanpa selimut, di tengah suhu ekstrem Gunung Slamet.

PENDAKI HILANG - Syafiq Ridhan Ali Razan ( belakang) saat akan berangkat mendaki bersama dengan temannya, Himawan Choidar Bahran. ((Ist)/Tribun Jogja)

Detik-detik Perpisahan yang Menyakitkan

Senin pagi pukul 07.00 WIB, Syafiq Ali yang tampak terburu-buru berhasil mengambil kembali emergency blanket yang sempat jatuh.

Namun, kondisi kaki Himawan sedang sakit sehingga tidak bisa berjalan cepat.

Pukul 08.00 WIB, Syafiq Ali memutuskan bergerak lebih dulu ke arah kanan untuk mencari bantuan.

Itulah momen terakhir mereka bertatap muka.

Sekitar 1,5 jam kemudian, Himawan yang merasa kakinya sudah membaik mencoba menyusul Syafiq. 

Namun, ia mengambil jalur kiri.

Saat itulah, sebuah suara terdengar dari kejauhan, memecah kesunyian hutan.

Setelah teriakan itu senyap, Himawan berjuang bertahan hidup dengan memakan buah cantigi dan dedaunan hingga akhirnya ditemukan oleh pendaki lain dan diberi makan bakso sebelum dievakuasi ke basecamp.

(Tribunnewsmaker.com/Candra) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.