Mengintip Rahasia Pabrik Teh Tambi yang Berdiri Sejak 1957 di Lereng Sindoro Wonosobo
January 16, 2026 09:10 PM

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Di tengah hamparan kebun teh yang diselimuti udara dingin pegunungan, berdiri sebuah pabrik teh tua yang telah beroperasi sejak 1957, pada masa pemerintahan kolonial Belanda. 

Kini, pabrik tersebut bukan hanya pusat produksi, tetapi juga berkembang menjadi wisata edukatif yang wajib dicoba saat ke Wonosobo.

Berlokasi di lereng Gunung Sindoro atau masuk wilayah Kecamatan Kejajar, Wonosobo, pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan teh dari daun segar hingga siap diekspor ke berbagai negara.

Baca juga: Tambi Tea Resort, Suguhkan Wisata Edukasi dari Balik Hamparan 800 Hektare Kebun Teh Warisan Belanda

Pabrik ini terus beradaptasi, sejak 1998, kawasan tersebut juga berkembang sebagai bagian dari Tambi Tea Resort, lengkap dengan beberapa kamar penginapan.

Meski begitu, denyut utama kawasan ini tetap berpusat pada industri teh.

Puji Ikhsani, pemandu di pabrik Teh Tambi, menuntun pengunjung menyusuri lorong-lorong produksi yang dipenuhi suara mesin, aroma daun teh, dan jejak sejarah panjang industri teh Indonesia.

Proses panjang itu dimulai dari kebun.

Daun teh dipetik secara manual, lalu langsung dimasukkan ke keranjang. Dari kebun, daun harus segera dibawa ke pabrik.

“Setelah dipetik, teh tidak boleh menyentuh tanah dan tidak boleh lebih dari lima jam harus segera masuk pabrik,” kata Puji, Jumat (16/1/2026).

Di area penerimaan, buntalan berisi daun teh hijau segar satu per satu masuk ke pabrik.

Pengunjung diajak masuk ke ruang pelayuan. Ruangan ini memanjang, dengan rak-rak tempat daun teh dihamparkan tipis atau dipeper, agar tidak saling menempel.

Aroma segar daun teh memenuhi ruangan.

Proses pelayuan berlangsung selama 18 jam, dengan daun dibalik setiap lima jam.

“Pelayuan ini untuk mengurangi kadar air sampai 50 persen,” jelas Puji.

Dari pelayuan, daun teh masuk ke ruang penggilingan.

Mesin cerobong besar tampak bergoyang konstan, menghasilkan suara khas.

Setiap cerobong memiliki kapasitas 350 kilogram, dan proses berlangsung selama 45 menit.

Setelah digiling, daun teh masuk ke ruang oksidasi atau fermentasi.

Ruangan ini lembap, dengan kelembapan dijaga di angka 90 persen, tanpa tambahan bahan apa pun.

Proses fermentasi berlangsung selama 90 hingga 120 menit.

“Di situ hanya mengoptimalkan enzim yang ada di dalam tehnya saja. 

Enzim polifenol oksidase ini bekerja secara alami, membentuk antioksidan. 

Ini alasan kenapa teh bisa anti kanker, anti tumor karena antioksidan itu," jelasnya.

Ia menyebut proses ini sangat sensitif, jika lebih dari 120 menit bisa over fermented yang akan mempengaruhi rasa teh jadi asam dan manfaatnya berkurang.

"Proses ini hanya untuk teh hitam, kalau teh hijau tidak ada fermentasi, dari penggilingan langsung dikeringkan," tambahnya.

Teh yang telah difermentasi langsung masuk ke mesin pengering. Suhu tinggi terasa di sekitar mesin, sementara prosesnya berlangsung singkat hanya 25 menit.

20260116_Suasana di pabrik Teh Tambi Wonosobo_2
PABRIK TEH TAMBI - Suasana di pabrik Teh Tambi Wonosobo yang telah beroperasi sejak 1957, pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Kini wisatawan bisa mencoba pengalaman melihat langsung proses produksi teh di pabriknya mulai dari daun teh segar di petik hingga siap diekspor.

Dalam proses ini, targetnya adalah kadar air berkurang maksimal 3 persen.

Jika lebih dari 3 persen akan tumbuh jamur dan bakteri.

Puji menyebut, dari 1 ton daun teh basah, hasil akhirnya tinggal sekitar 2 kuintal. Penyusutan ini membuat teh yang benar-benar kering dan dapat bertahan 1 hingga 5 tahun lamanya.

“Kalau 3 persen atau 2,5 persen, disimpan bertahun-tahun itu tidak masalah," ungkapnya.

“Kalau warnanya hitam berarti gradenya bagus, tapi kalau cokelat itu berarti gradenya lemah,” jelasnya sembari menunjukkan contohnya.

Total terdapat 17 jenis hasil olahan yakni grade 1 ada 9 jenis, grade 2 ada 5 jenis, dan grade 3 ada 3 jenis.

Mayoritas teh ekspor berasal dari grade 1 jenis BOP, yang digunakan untuk teh celup.

Di ruang tester, suasana berubah menjadi hening. Master tea mencicipi setiap seri produksi menggunakan cangkir standar. Tidak ada rokok, tidak ada gangguan aroma.

Pengujian dilakukan menggunakan indra perasa dan alat uji kadar air.

20260116_Suasana di pabrik Teh Tambi Wonosobo_3
PABRIK TEH TAMBI - Suasana di pabrik Teh Tambi Wonosobo yang telah beroperasi sejak 1957, pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Kini wisatawan bisa mencoba pengalaman melihat langsung proses produksi teh di pabriknya mulai dari daun teh segar di petik hingga siap diekspor.

“Teh itu harusnya sepet, itu yang bagus. Kalau pahit, itu ada kesalahan pas pengolahannya,” terangnya.

Jika rasa tidak sesuai, produksi bisa dihentikan sementara untuk mencari letak kesalahannya.

“Kalau ada kurang rasanya yang tidak pas maka akan dihentikan dan dicari kesalahannya, bisa di bagian fermentasi atau pengeringan," lanjutnya.

Teh dari pabrik ini diserap oleh sejumlah merek ternama yang dijual di pasaran.

Untuk Tambi memiliki nama sendiri yang terkenal ada cap Petruk dan cap Gunung. Sementara untuk ekspor, teh dikemas rapi dalam karung khusus berukuran besar.

“Salah satunya yang sedang diproduksi ini akan dikirim ke Dubai,” ujar Puji.

Selain Timur Tengah, teh juga diekspor ke Amerika, Eropa, dan Jepang.

Baca juga: Komunitas Sepeda Es Teh, Ruang Santai Perempuan Bandar Batang yang Gowes Tanpa Ribet

Di akhir perjalanan tour, Puji menambahkan tips sederhana berkaitan dengan teh. 

Ia menyebut teh sebaiknya diminum saat masih panas, tidak didiamkan terlalu lama, dan penyeduhan ideal dilakukan tiga kali celup.

“Teh yang bagus lebih berat, warnanya hitam merata, kalau disedu warnanya kuning keemasan, rasanya sepet tidak pahit atau asam,” pungkasnya. (ima)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.