Pria di Bintan Tewas Diterkam Buaya, Warga Sebut Lokasinya Tepat di Dapur Rumah Warga
January 16, 2026 10:07 PM

TRIBUNBATAM.id, BINTAN  -  Lokasi buaya menerkam nelayan bernama Imran (34)  tidak jauh dari rumah korban.

Tempat itu hanya berjarak kurang lebih dua meter dari dapur rumah Imran. 

Berdasarkan pantauan Tribun Batam.id di lokasi yang sama juga kerap kali digunakan untuk berlabu sampan nelayan usai melaut.

Kurang lebih 10 sampan di ikat atau berlabu di sana.

Sampan-sampan itu berukuran kecil hingga besar. Terlihat jaring dan alat menangkap ikan diletakkan pemilik di dalam sampan. 

Tempat Kejadian Perkara (TKP) berbatasan langsung dengan dermaga dan rumah warga. 

Tampak tiang -tiang penyangga rumah dan jembatan berdiri kokoh. Pemandangan ini bisa di lihat dari atas jembatan.

Bangunan tersebut sudah lebih dari 20 tahun. 

Nelayan kerap memanfaatkan tiang itu untuk mengikat sampan mereka. 

Ada beberapa tangga yang dibuat nelayan untuk keperluan naik dan turun ke sampan. 

Bahan baku tangga itu adalah kayu. Di sebelah kanan rumah korban, terlihat satu atap bangunan yang sudah roboh ke dalam air laut.

Jarak permukaan air laut dengan ujung atap sangat dekat, kurang lebih 1 meter saja.

Bangunan itu baru saja roboh, akibat angin kencang melanda wilayah itu beberapa waktu lalu.

Di dalam atap itu, merupakan lokasi ditemukan korban Imran.

Kala itu korban dalam kondisi mengapung. 

Setelah kejadian itu, warga RT 001, RW 001, Kampung Tembeling, Kecamatan Teluk Teluk Bintan,  Kabupaten Bintan mengaku ketakutan.

Salah satunya adalah Ali Rusli. Dia khawatir, warga lain menjadi korban susulan.

Mengingat buaya tersebut masi berkeliaran di area perairan Tembeling Tanjung. 

"Setelah kejadian ini, saya pribadi dan nelayan yang lain merasa takut, saat pergi ke laut," kata Ali.

Ali menyebutkan selama ini dirinya sering melihat buaya itu lalu lalang di bawah rumah warga, sekitar lokasi kejadian. 

Buaya itu muncul  saat pagi dan petang. "Ukuran buaya cukup besar. Panjangnya kurang lebih tiga depa," akunya. 

Selama ini, hewan pemeliharaan seperti kucing kerap kali hilang. 

Peristiwa seperti ini, bukan merupakan kali pertama. Dalam kurun dua tahun belakangan sudah tiga nelayan yang menjadi korban. 

"Pertama dua tahun lalu, korbannya selamat. Kedua terjadi pada awal tahun 2025 dan terakhir hari," akunya. 

Dari ketiga insiden itu, dua orang nelayan selamat. Baru kali ini ada korban jiwa.

Dia meminta Pemerintah Kabupaten Bintan dan Provinsi Kepulauan Riau untuk segera mengambil langkah tegas mengatasi persoalan buaya ini.

Korban bernama Imran bin H Sanjah. Pria 34 tahun itu meninggal setelah diterkam buaya.

Peristiwa itu terjadi pada Jumat (16/1/2026) sekira pukul 03.45 WIB.

Tokoh masyarakat Tembeling Tanjung, Datok Arman menyampaikan sebelum kejadian korban sedang bersiap-siap hendak melaut. 

Korban kala itu sedang duduk di atas sampannya. Dia lagi siapkan jaring sebab mau turun ke laut.

"Korban seketika berteriak minta tolong begitu buaya menariknya ke laut," ujar Arman.

Teriakan itu sampai di telinga abang korban, Ijal.

Dia bergegas keluar rumah menuju ke lokasi kejadian. 

"Ijal sempat mengambil parang, namun tidak memotong buaya. Khawatir melukai sang adik, sebab masih gelap," cerita Arman.

Warga setempat yang mendengar kabar itu, berdatangan ke lokasi dan berjibaku mencari keberadaan korban. 

Korban akhirnya ditemukan sekira pukul 04.45 WIB di bawah atap tempat sampan yang roboh. 

Saat ditemukan, korban alami luka robek di bagian mata sebelah kanan, bibir, dahi hingga bahu sebelah kiri. 

"Korban ditemukan kurang lebih 5 meter dari lokasi kejadian. Sementara buaya sudah tidak ada lagi," ujarnya.

Kejadian seperti ini sudah berulang kali terjadi. Arman meminta pemerintah daerah mengambil langkah nyata dan tegas untuk mengevakuasi buaya-buaya tersebut. 

"Buaya belakangan sudah sangat meresahkan masyarakat Tembeling, Bintan dan sekitarnya," kata dia. (TRIBUNBATAM.id/ Ronnye Lodo Laleng).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.