Sulap Lahan Terlantar Jadi Ladang Produktif, Rutan Pekanbaru Bangun Ketahanan Pangan
January 16, 2026 10:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU -Tak banyak yang menyangka, di sisi Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Pekanbaru, terbentang hamparan hijau yang kini menjadi sumber pangan sekaligus harapan. 

Lahan tidur seluas 3,5 hektare yang sebelumnya terbengkalai di area samping Rutan, perlahan disulap menjadi kawasan pertanian, perikanan dan peternakan produktif. 

Pada Kamis (15/1/2026), upaya panjang itu berbuah manis lewat panen raya yang digelar serentak se-Indonesia oleh jajaran Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas).

Panen raya ini bukan sekadar memetik sayuran. Namun, ini menjadi penanda perubahan besar di lingkungan pemasyarakatan.

Dari ruang pembinaan yang identik dengan keterbatasan, menjadi ladang ketahanan pangan yang memberi manfaat nyata.

Dari total 3,5 hektare lahan tidur yang tersedia, sekitar 2 hektare telah aktif digarap.

Di atasnya, beragam komoditas tumbuh subur. Kacang panjang membelit di lahan 1.500 meter persegi, kangkung menghijau di area 2.500 meter persegi, terong berderet di 1.000 meter persegi, sementara jagung menguning di hamparan 3.500 meter persegi. Ubi Cilembu ditanam di lahan 1.000 meter persegi. 

Di sisi lain, kolam ikan nila dan gurami seluas sekitar 2.500 meter persegi menjadi denyut sektor perikanan. 

Area khusus juga disiapkan untuk peternakan kambing dan pengembangan ayam petelur sebanyak 1.500 ekor yang direncanakan mulai berjalan pada Maret 2026. 

Di sudut kawasan, rak-rak hidroponik menghadirkan barisan sayuran segar sebagai sentuhan pertanian modern.

Seluruh kegiatan ini digerakkan oleh petugas bersama warga binaan. Setiap hari, warga binaan dilibatkan langsung, dibagi dalam kelompok kerja sesuai program dan keahlian. 

Mereka belajar mengolah tanah, menyemai benih, merawat tanaman, hingga memanen hasil. Bagi sebagian, cangkul dan polybag bukan hanya alat kerja, tetapi juga jalan pulang menuju keterampilan baru.

Kepala Kanwil Ditjenpas Riau, Maizar, menyebut program ini merupakan implementasi Asta Cita serta 15 program akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya pada poin kemandirian pangan.

“Ini adalah program Asta Cita dan implementasi 15 program aksi Bapak Menteri, khususnya kemandirian pangan melalui pertanian, perikanan, dan peternakan di lapas dan rutan dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur,” ujarnya.

Hasilnya mulai terasa. Dari panen raya serentak seluruh UPT pemasyarakatan di Riau, berhasil dikumpulkan kangkung 420 kilogram, pakcoy 80 kilogram, sawi 130 kilogram, terong 40 kilogram, labu botol 5 kilogram, sayuran campuran seperti cabai, tomat, dan timun 35 kilogram, serta pisang 60 kilogram.

Sebagian hasil panen dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan internal rutan dan lapas. Sebagian lainnya dipasarkan. 

Total pendapatan yang terkumpul mencapai Rp40.526.000. Uang itu disalurkan sebagai donasi bagi korban bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

“Hasil penjualan dan keuntungannya akan kita sumbangkan untuk korban bencana. Mudah-mudahan ini bisa memberi manfaat, bukan hanya untuk warga binaan, tapi juga masyarakat luas,” kata Maizar.

Pematangan lahan telah dimulai sejak November 2025. Awalnya sederhana, bahkan penyangga tanaman kacang panjang masih menggunakan bambu. 

Kini, perlahan dibenahi menggunakan konstruksi besi agar lebih kuat dan produktif. 

Ke depan, Kanwil Ditjenpas Riau menargetkan pengembangan sisa lahan sekitar 1,5 hektare pada Maret atau April 2026, termasuk memperkuat program di Lapas Terbuka.

Di atas lahan yang dulu sunyi, kini tumbuh ladang kehidupan. Ia tak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menanam disiplin, keterampilan, dan harapan baru bagi warga binaan yang tengah mempersiapkan diri kembali ke tengah masyarakat.(Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.