TRIBUNNEWS.COM - Tragis seakan menjadi satu kata yang layak menggambarkan kondisi sekaligus nasib Sriwijaya FC yang musim ini berkompetisi di Pegadaian Liga 2.
Bayangkan saja, Sriwijaya FC yang dulunya digadang-gadang seperti Los Galacticosnya Indonesia.
Kini nasibnya begitu tragis, lantaran tidak mampu bersaing secara sehat di kompetisi kasta kedua musim ini.
Situasi kian rumit.
Karena banyak masalah di luar lapangan yang turut mewarnai perjalanan pilu Sriwijaya FC.
Masalah penunggakan gaji yang menimpa pemain hingga pelatih, menjadi salah isu terbesar Sriwijaya FC musim ini.
Bahkan, tak sedikit pemain Sriwijaya FC yang hengkang sebelum musim berakhir, karena permasalahan tersebut.
Budi Sudarsono selaku pelatih utama Sriwijaya FC saja baru-baru ini mengancam hengkang, jika manajemen tidak memenuhi kewajibannya untuk membayar gajinya yang tertunggak.
Baca juga: Sanksi Komdis PSSI Turun, Sriwijaya FC Didenda Rp 60 Juta Gegara Ulah Suporter
Melihat kompleksnya permasalahan Sriwjaya FC di luar lapangan, pun menciptakan efek domino yang negatif.
Salah satunya soal jebloknya performa dan hasil yang didapat Sriwijaya FC di dalam lapangan.
Terbaru, Sriwijaya FC menjadi korban pembantaian saat bertanding melawan Bekasi City, Jumat (16/1/2026) sore WIB.
Tim Laskar Wong Kito kalah telak dengan skor tujuh gol tak berbelas di markas Bekasi City.
Kekalahan memalukan melawan Bekasi City pun kian membuat posisi Sriwijaya FC terbenam di dasar klasemen.
Sriwijaya FC pun masih menyandang predikat satu-satunya tim yang belum pernah menang di Liga 2 musim ini.
Dari total 16 laga yang dijalani Sriwijaya FC, tim asal Palembang itu cuma bisa mengoleksi dua poin saja.
Dua poin tersebut didapat Sriwijaya FC berkat hasil imbang Persikad Depok (3-3) di matchday kedua, serta melawan Sumsel United (1-1) di pekan kedelapan.
Selain dua hasil imbang tersebut, praktis kekalahan demi kekalahan diderita Sriwijaya FC dalam 14 laga lainnya.
Termasuk kekalahan terbaru yang terasa memalukan, karena Sriwijaya FC tumbang dengan skor begitu telak.
Kini.
Sriwijaya FC makin tenggelam di dasar klasemen, dan terpaut 15 poin dari Persekat Tegal yang berada tepat di atasnya yakni peringkat kesembilan yang menjadi syarat bermain di play-off degradasi.
Melihat performa Sriwijaya FC yang makin mengkhawatirkan baik di dalam maupun luar lapangan.
Rasanya situasi buruk akan terus dirasakan Sriwijaya FC sampai akhir musim ini, jika tidak ada perbaikan.
Ujung-ujungnya, tim kebanggaan warga kota Palembang itu bakal terdegradasi dengan cara tragis ke kasta ketiga.
Sebuah momen yang barangkali tidak pernah dibayangkan oleh klub yang dulunya pernah berjaya di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Mengenang Sriwijaya FC yang Dulunya Bak Los Galacticos di Indonesia
Jika skuad bertabur bintang alias Los Galacticos identik dengan klub raksasa Spanyol, Real Madrid.
Di Indonesia, satu-satunya klub yang pernah dianggap layak mendapat sebutan itu ialah Sriwijaya FC.
Kualitas skuad Sriwijaya FC diketahui pernah dikenal sangat mewah, baik pemain utama alias starter, dengan pemain pelapisnya yang berada di bangku cadangan.
Momen era keemasan Sriwijaya FC itu tersaji tepatnya pada musim 2007/2008 dan 2018/2019.
Saat merajai sepak bola Indonesia dengan memenangkan gelar Liga Indonesia dan Copa Indonesia pada tahun 2008.
Skuad Sriwijaya FC bertabur bintang di setiap posisinya, mulai dari kiper, bek, gelandang hingga penyerang.
Di posisi penjaga gawang, Ferry Rotinsulu yang menjadi kiper utama, punya pelapis elit dalam diri Dede Sulaiman.
Bergeser ke lini belakang, ada Carlos Renato Elias yang merupakan legiun asing yang kualitasnya di atas rata-rata.
Talenta lokal seperti Tony Sucipto, Ambrizal, Slamet Riyadi, Charis Yulianto, dan Isnan Ali menjadi deretan bek lokal elit yang dimiliki Sriwijaya FC pada masa jayanya.
Di lini tengah, Zah Rahan Krangar jelas menjadi sosok gelandang asing yang tidak pernah dilupakan dalam sejarah klub tersebut.
Keberadan pemain gelandang lain seperti Oktavianus, Wijay Sing, Benben Berlian hingga Amirul Mukminin juga tidak bisa dilupakan begitu saja.
Dari semua lini, barangkali posisi lini depan menjadi pos yang paling mewah, karena dihuni pemain bintang.
Anoure Obiora Richard (Nigeria), Georges Christian Lenglolo (Kamerun), Kayamba Gumbs (St. Kitts Nevis) menjadi trio mematikan lini depan Sriwijaya FC di kotak penalti lawan.
Lalu musim 2018/2019, skuad yang dimiliki Sriwijaya FC juga cukup elit, dengan kombinasi pemain lokal dan asing.
Di sektor penjaga gawang, nama Teja Paku Alam yang saat ini memperkuat Persib, dulunya menjadi kiper nomor satu di Sriwijaya FC.
Bergeser ke lini belakang, nama seperti Zalnando, Samuel Christianson, Novan Setya, Alvin Tuasalamony hingga Mamadou Ndiaye menjadi bagian skuad Laskar Wong Kito pada musim tersebut.
Kondisi skuad Sriwijaya kian mewah dari lini tengah sampai lini depan.
Di lini tengah ada Zulfiandi, Yu Hyun Koo, Syahrian Abimanyu, Adam Alis, serta Makan Konate.
Di lini depan, Alberto Goncalves, Manuchehr Dzalilov, Patrich Wanggai, Rizky Dwi Ramadhana, dan Esteban Vizcarra, menjadi personel elit yang dimiliki Sriwijaya FC untuk menjebol jala gawang lawan.
Hanya saja yang membedakan nasib Sriwijaya FC pada dua era tersebut, jika tahun 2008, Tim Laskar Wong Kito meraih double winners.
Sementara pada tahun 2018, Sriwijaya FC harus mendekam di zona merah, hingga akhirnya terdegradasi.
Kini, momen tak kalah tragis dirasakan Sriwijaya FC yang sudah terancam turun kasta ke Liga 3.
(Tribunnews.com/Dwi Setiawan)