Kunjungi Indonesia, Yohei Sasakawa Bawa Misi Deteksi Dini dan Edukasi Kunci Bebas Kusta
January 17, 2026 02:15 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA --  Yohei Sasakawa telah mengabdikan lebih dari 50 tahun hidupnya untuk satu misi kemanusiaan: membantu mengentaskan kusta di berbagai belahan dunia.

Duta Besar Kehormatan WHO untuk Pemberantasan Kusta sekaligus Ketua Nippon Foundation ini telah mengunjungi 127 negara untuk mendorong deteksi dini, pengobatan, serta penghapusan stigma kusta.

Dalam kunjungannya ke Indonesia, Sasakawa sempat bertemu Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Jawa Barat. Pertemuan itu membahas tantangan eliminasi kusta di Indonesia. Indonesia adalah negara tiga besar endemik di dunia selain Brasil dan India.

Sasakawa mengatakan Prabowo menunjukkan dukungan penuh kepada pihaknya untuk melaksanakan berbagai kegiatan guna mengeliminasi penyakit ini.

“Saya telah menyediakan lebih dari 50 tahun hidup saya untuk mencoba memberantas kusta ini. Target saya adalah menurunkan jumlah kasus hingga nol di berbagai negara,” ujar Sasakawa saat konferensi pers di Kempinski Hotel, pada Jumat malam (16/1/2025).

Pria berusia 87 tahun ini menyebut Indonesia berperan penting dalam upaya penanganan kusta secara global.

Sayangnya, ada tantangan besar yang dihadapi Indonesia untuk memberantas kusta. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membuat banyak kasus kusta tidak terdeteksi sejak dini.

Sementara, kusta merupakan penyakit yang sering tidak menimbulkan rasa sakit atau demam di tahap awal.

“Kusta adalah penyakit tanpa gejala awal. Banyak orang datang berobat saat kondisinya sudah terlambat,” jelasnya.

Selain persoalan deteksi dini, stigma kusta merupakan kutukan atau hukuman Tuhan masih mengakar kuat di sebagian masyarakat.

Padahal, pengobatan kusta telah tersedia, terbukti efektif, dan disediakan secara gratis. Dengan pengobatan yang tepat, risiko penularan dapat ditekan dalam waktu singkat.

Baca juga: Indonesia Negara Ketiga Terbanyak Penderita Kusta, Yohei Sasakawa: Obati, Jangan Didiskriminasi

Tantangan tidak berhenti setelah pasien dinyatakan sembuh. Banyak penyintas kusta masih menghadapi diskriminasi sosial, seperti penolakan dari lingkungan sekitar, keterbatasan akses pendidikan, hingga harus hidup terpisah dari masyarakat.

Untuk meningkatkan kesadaran publik, Sasakawa Foundation mencoba melakukan pendekatan ke generasi muda dengan menggandeng influencer Arnold Saputra.

Peran anak muda sangat penting dalam menyebarkan informasi yang benar tentang kusta kepada masyarakat luas.

Dalam pemaparannya, Arnold akan berkontribusi untuk menyuarakan upaya penyembuhan kusta, dan pesan ke masyarakat untuk tidak melakukan diskriminasi terhadap penderita kusta.

"Jika masyarakat memahami bahwa kusta bisa dicegah dan disembuhkan, maka rasa takut dan stigma akan hilang,” tutur Arnold di kesempatan yang sama.

Sementara itu, Samsul, penyintas kusta sejak 1999, mengaku sempat mengalami diskriminasi akibat minimnya pengetahuan masyarakat. Namun, seiring pemahaman yang meningkat, lingkungan di sekitarnya mulai menerima kembali hingga ia dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Menurutnya, penyebaran informasi yang sederhana dan mudah dipahami, terutama kepada guru dan masyarakat umum, menjadi kunci menghapus stigma bahwa kusta adalah penyakit menakutkan dan tidak dapat disembuhkan.

Kenali Gejala Kusta

Dikutip dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae.

Terjadinya kusta merupakan hasil interaksi berbagai faktor, yaitu pejamu (host), kuman (agent), dan lingkungan. Penularan terjadi melalui kontak yang erat dan berkepanjangan dengan seseorang yang terinfeksi kusta.

Gejala kusta dapat ditandai dengan munculnya bercak kulit merah atau putih yang tidak gatal, tampak mengkilap atau kering bersisik, kulit yang tidak berkeringat, rontoknya alis mata, penebalan pada wajah dan telinga, serta lepuh atau luka tidak nyeri pada tangan atau kaki.

Baca juga: Kemenkes: Dua WNI Terinfeksi Kusta di Rumania Bakal Dipulangkan ke Indonesia

Gangguan pada saraf juga dapat terjadi, seperti nyeri pada saraf tepi, kesemutan, rasa tertusuk atau nyeri pada anggota gerak, kelemahan otot atau kelopak mata, disabilitas atau deformitas tanpa riwayat kecelakaan, serta ulkus yang sulit sembuh.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Indonesia masih mencatat belasan ribu kasus baru kusta setiap tahunnya.

Pada tahun 2023 saja, ada total 12.798 kasus baru, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan beban kusta tertinggi di dunia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.