TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Dari panggung musik ke dunia pertahanan, langkah mengejutkan datang dari seorang Sabrang Mowo Damar Panuluh atau lebih dikenal Noe Letto.
Mantan vokalis band kenamaan sekaligus putra cendekiawan Emha Ainun Najib atau Cak Nun kini resmi menjabat sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN), usai dilantik pada Kamis (15/1/2026).
Sebagian publik mungkin bertanya-tanya, mampukah Noe Letto yang dikenal sebagai musisi memberi kontribusi nyata di dunia pertahanan?
Tugas Dewan Pertahanan Nasional memang tidak ringan, namun mari simak lebih dekat profil dan rekam jejak sosok ini.
Dewan Pertahanan Nasional (DPN) adalah lembaga non-struktural yang dipimpin langsung Presiden RI dan dibentuk melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 202 Tahun 2024. DPN berperan memberi pertimbangan serta merumuskan kebijakan strategis pertahanan negara.
Tugas utamanya meliputi penyusunan kebijakan terpadu pertahanan, pengerahan komponen pertahanan dalam mobilisasi dan demobilisasi, penilaian risiko kebijakan, serta integrasi pemeliharaan alutsista agar berkelanjutan.
Struktur DPN menempatkan Presiden sebagai kepala lembaga dan Menteri Pertahanan sebagai Ketua Harian, didukung deputi tematik seperti Deputi Geopolitik.
Secara strategis, DPN menjadi wadah koordinasi lintas kementerian/lembaga, ruang dialog publik, dan sarana literasi kebijakan pertahanan.
Lembaga ini juga mendorong respons kolektif terhadap ancaman global maupun regional, termasuk konflik geopolitik, perang, serta isu keamanan non-tradisional seperti siber dan energi.
Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Harian Dewan Pertahanan Nasional, Sjafrie Sjamsoeddin, melantik 12 tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Jakarta.
Noe tampak mengenakan jas hitam, kemeja putih, dasi merah, dan kopiah hitam.
“Para tenaga ahli ini akan mengisi posisi krusial sebagai Tenaga Ahli Utama, Madya, dan Muda pada kedeputian bidang geoekonomi, geopolitik, serta geostrategi,” ujar Karo Infohan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, Jumat (16/1/2026).
Selain Noe, turut dilantik Jupriyanto dan Frank Alexander Hutapea, putra pengacara Hotman Paris, sebagai Tenaga Ahli Madya.
Nama lain yang masuk jajaran Tenaga Ahli Utama antara lain Surachman Surjaatmadja, Ian Montratama, M. Abdul Kholiq, Agato P. P. Simamora, Achmad Rully, dan Filda Citra Yusgiantoro.
Baca juga: Akhir Januari, Gelombang Pertama Jet Tempur Rafale Indonesia Tiba, Sang Omnirole Fighter
Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang lebih dikenal sebagai Noe Letto, lahir di Yogyakarta pada 10 Juni 1979 (46 tahun).
Ia merupakan anak pertama dari cendekiawan sekaligus budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun) hasil pernikahan dengan Neneng Suryaningsih.
Ia juga menjadi anak sambung aktris sekaligus penyanyi senior Novia Kolopaking, yang merawatnya sejak kecil dan menjalin hubungan dekat hingga dewasa.
Masa kecil Noe sempat dihabiskan di Lampung sebelum kembali ke Yogyakarta.
Sejak duduk di bangku SMP, ia mulai bersentuhan dengan musik melalui kaset Queen yang diberikan pamannya.
Setelah menamatkan SMA di Yogyakarta, Noe melanjutkan studi ke University of Alberta, Kanada, sebuah perguruan tinggi bergengsi yang masuk jajaran elite top 5 nasional dan peringkat 100–150 global.
Reputasi kampus tersebut sangat kuat, terutama di bidang riset dan inovasi, sehingga menjadi tempat yang menantang sekaligus prestisius bagi Noe untuk menempuh dua jurusan sekaligus: matematika dan fisika.
Krisis moneter membuatnya harus bekerja paruh waktu untuk bertahan hidup, namun ia berhasil menyelesaikan studi dengan gemilang.
Pada 2003, Noe resmi meraih gelar Bachelor of Science di kedua bidang tersebut.
Dalam kehidupan pribadi, Noe menikah dengan Fauzia Fajar Putri Khaeruddin (Uci) pada 19 Februari 2009 di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua anak, dan hubungan keluarga mereka berjalan harmonis hingga kini.
Sepulang dari Kanada, Noe aktif di studio KiaiKanjeng, belajar mixing, mastering, dan menulis musik.
Pada 2005, bersama Ari, Dedy, dan Patub, ia membentuk band Letto dan merilis album debut Truth, Cry, and Lie yang meraih double platinum—penghargaan industri musik atas penjualan album dalam jumlah besar.
Dua tahun kemudian, pada 2007, Letto kembali mengukuhkan posisinya lewat album Don’t Make Me Sad.
Di medio 2000-an, Sabrang (alias Noe) dikenal luas sebagai vokalis Letto dengan lagu-lagu hits seperti “Ruang Rindu”, “Sebelum Cahaya”, dan “Sandaran Hati”.
Lagu-lagu tersebut melekat di ingatan publik dan menjadikan Letto salah satu band berpengaruh pada masanya.
Memasuki 2008, Noe mendirikan Pic[k]Lock Productions bersama Dewi Umaya Rachman.
Dari rumah produksi ini lahir sejumlah film, antara lain Minggu Pagi di Victoria Park (2010), RAYYA, Cahaya Di Atas Cahaya (2011), dan Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015).
Pelantikan Noe Letto menegaskan komitmen pemerintah melibatkan generasi muda dalam kebijakan pertahanan.
Latar belakangnya sebagai musisi sekaligus lulusan ganda Kanada memberi perspektif segar di luar dominasi akademisi dan militer.
Sebagai putra budayawan Emha Ainun Najib, Noe membawa nilai budaya dan pemikiran kritis dari ayahnya.
Transformasi kariernya membuat publik bangga melihat sosok muda dipercaya mengemban tugas strategis.
Perjalanan Noe dari musik ke pertahanan menandai babak baru dalam kiprahnya.
Publik menaruh harapan sekaligus menunggu kontribusi nyata dalam kebijakan pertahanan yang kompleks.