Sudarmin Tandi Pora’
Mahasiswa UIN Palopo
TAK sedikit orang bangga mengatakan, “Saya sibuk,” seolah lelah adalah simbol keberhasilan.
Namun di balik ritme hidup yang padat, semakin banyak manusia yang merasa kosong, mudah cemas, dan kehilangan arah.
Dunia berakselerasi penuh dinamika, tetapi tidak selalu memberi waktu untuk bertanya: apakah kita masih baik-baik saja?
Hidup yang bergerak dalam kecepatan yang nyaris tak memberi ruang bernapas.
Kalender penuh, gawai tak pernah diam, pesan tak pernah henti, dan tuntutan hidup datang silih berganti tanpa aba-aba.
Kita hidup di zaman yang memuliakan kesibukan, seolah lelah adalah tanda keberhasilan, dan berhenti dianggap kemunduran.
Ironisnya, di tengah capaian yang terus dikejar, semakin banyak manusia yang kehilangan ketenangan. Produktif, tetapi gelisah.
Aktif, namun hampa. Dunia modern menawarkan banyak kemudahan, tetapi sering kali lupa mengajarkan cara menenangkan diri.
Fenomena ini bukan semata persoalan fisik, melainkan kelelahan eksistensial.
Manusia sibuk mengelola hidup, tetapi jarang bertanya: apakah hidup ini masih terhubung dengan sumber ketenangan sejatinya?
Dalam konteks inilah, peristiwa Isra Mi’raj menemukan relevansinya.
Bukan sekadar kisah spiritual masa lalu, melainkan pesan lintas zaman tentang pentingnya jeda.
Tentang keberanian berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, untuk kembali menata orientasi hidup.
Shalat—yang diperintahkan langsung dalam peristiwa agung itu, bukan sekadar ritual keagamaan.
Ia adalah privilese spiritual yang sering luput disadari.
Sebuah ruang istimewa yang Allah berikan agar manusia tidak tenggelam sepenuhnya dalam kelelahan dunia.
Di sanalah manusia berhenti mengejar, dan mulai menyadari: hidup tidak selalu harus dimenangkan dengan kecepatan, tetapi dengan keseimbangan.
Di tengah tanggung jawab yang kadang tak memberi pilihan, shalat menghadirkan titik jeda.
Jeda yang bukan pelarian, melainkan penguatan.
Bukan bentuk menyerah, tetapi cara mengembalikan beban kepada Yang Maha Mampu memikul segalanya.
Dalam sujud, manusia belajar bahwa tidak semua hal harus dituntaskan dengan tenaga sendiri.
Ketenangan dalam shalat bukan ilusi.
Ia nyata, tetapi mensyaratkan kesadaran.
Kesadaran bahwa dunia memang perlu diikhtiarkan, tetapi tidak pantas dijadikan tujuan akhir.
Bahwa kesuksesan tanpa ketenangan hanya akan melahirkan kelelahan yang berkepanjangan.
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa naiknya derajat manusia bukan semata karena pencapaian duniawi, melainkan karena kedekatannya dengan Allah.
Shalat adalah poros utama kedekatan itu.
Ia menjadi sumbu yang menyeimbangkan aktivitas, menata niat, dan memulihkan orientasi hidup.
Barangkali, yang paling kita butuhkan hari ini bukan tambahan target, melainkan keberanian untuk berhenti sejenak.
Menarik napas panjang, lalu menyerahkan kembali segalanya kepada Yang Maha Mengatur.
Sebab hidup yang terus dikejar tanpa jeda, pada akhirnya hanya akan melelahkan jiwa.
Di tengah dunia yang tak pernah benar-benar berhenti, shalat mengajarkan seni berhenti dengan bermakna.
Di sanalah manusia kembali pulang—kepada ketenangan, kepada kesadaran, dan kepada Allah, sumber segala kehidupan.
Wallāhu a‘lamu biṣ-ṣawāb.(*)