TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kak Seto akhirnya buka suara menanggapi kejadian yang dialami Aurelie Moeremans saat masih berusia remaja.
Ia menilai pengalaman traumatis yang dialami Aurelie dapat menjadi pembelajaran penting bagi banyak pihak.
Menurut Kak Seto, kisah tersebut seharusnya membuka mata masyarakat tentang pentingnya perlindungan anak dan remaja.
Aurelie sendiri menuliskan pengalaman pahit tersebut dalam buku Broken Strings.
Dalam buku itu, Aurelie mengungkap bahwa dirinya mengalami peristiwa traumatis sejak usia 15 tahun.
Saat itu, ia mengaku menjadi korban grooming oleh seorang lelaki yang usianya hampir dua kali lipat darinya.
Lelaki tersebut diberi nama samaran Boby dalam buku Broken Strings.
Aurelie menggambarkan Boby sebagai sosok pria yang manipulatif dan kasar.
Hubungan tersebut membuat Aurelie sulit melepaskan diri dari tekanan emosional yang dialaminya.
Bahkan, relasi antara Aurelie dan Boby digambarkan sangat tidak sehat dan berbahaya bagi kondisi mentalnya.
Kondisi itu dinilai semakin memprihatinkan karena Aurelie masih berada dalam usia remaja.
Dari kisah yang dituliskan Aurelie, banyak warganet kemudian mengaitkannya dengan sosok Roby Tremonti.
Baca juga: Pesan Roby Tremonti untuk Aurelie Moeremans, Tegaskan Respek Tyler Bigenho: Saya Bukan Penjahatnya!
Pada tahun 2009, saat Aurelie berusia 15 tahun, ia memang diketahui menjalin hubungan dengan Roby.
Hubungan tersebut sejak awal tidak direstui oleh orang tua Aurelie karena perbedaan usia yang terpaut jauh.
Orang tua Aurelie bahkan disebut sempat membuat laporan ke Komnas Perlindungan Anak.
Namun pada tahun 2011, Aurelie justru dikabarkan menikah.
Pernikahan itu kemudian berakhir setelah muncul dugaan kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT.
Ketika orang tua Aurelie meminta perlindungan untuk anaknya, pernyataan Kak Seto kala itu justru menuai kontroversi.
Ia menyampaikan pandangan bahwa remaja memiliki kehendak sendiri dan tidak selalu bisa dipaksa mengikuti keinginan orang tua.
"Anak remaja kan punya keinginan dan punya pilihan. Gak bisa dipaksa sesuai keinginan orang tua. Namanya anak remaja wajar lah sudah jatuh cinta. Kan sudah 17 tahun apa salahnya ?" kata Kak Seto, 26 Agustus 2010.
Baca juga: Isu Child Grooming Roby Tremonti ke Aurelie Dibahas Khusus di DPR, Rieke Diah Pitaloka: Cukup Sadis
Kini setelah membaca Broken Strings, Kak Seto menjadi salah satu orang yang dianggap tidak mampu menyelamatkan Aurelie.
Sebab kini 16 tahun lamanya Aurelie menderita karena rasa trauma yang diberikan Boby.
Namun kini setelah banyak disalahkan banyak Kak Seto justru memberi pernyataan lain.
"Perlu kami sampaikan bahwa praktik pendampingan anak dan cara pandang terhadap relasi kuasa, kerentanan remaja, serta dampak psikologis jangan panjang telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Pada masanya, setiap pendampingan dan pernyataan disampaikan berdasarkan pengetahuan, kewenangan, serta kerangka pemahaman yang berlaku saat itu.
Namun kami menyadari bahwa standar perlindungan anak hari ini menuntut kepekaan, kehati-hatian, dan perspektif yang jauh lebih kuat terhadap potensi manipulasi, tekanan emosional, dan ketimpangan kuasa dalam relasi yang melibatkan anak dan remaja.
Oleh karena itu, kami menjadikan refleksi atas praktik masa lalu sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan untuk memperkuat perlindungan anak ke depan," tulis Kak Seto.
Setelah mengetahui Aurelie mengalami grooming, Kak Seto menyatakan mengecam tindakan tersebut.
"Kami mengecam segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara, dan praktik child grooming.
Anak tidak pernah berada dalam psosisi setara untuk dimintai pertanggungjawaban atas relasi yang dibangun melalui tekanan, bujuk rayu, atau ketimpangan kuasa.
Kami menghormati keberanian siapapun yang memilih untuk bersuara atas pengalaman masa lalunya, dan memandang suara tersebut sebagai pengingat penting agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki, diperkuat, dan semakin berpihak pada kepentingan terbaik anak.
Kami mengajak seluruh pihak untuk menyikapi isu ini dengan empati, kebijaksanaan, dan fokus pada tujuan bersama: menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak Indonesia hari ini dan masa depan," tutup Kak Seto.
(TribunNewsmaker.com/ TribunnewsBogor)