SRIPOKU.COM – Unggahan akun Instagram @rajakelir yang menampilkan video yang berisi kumpulan foto perjalanan hidup Wali Kota Palembang pertama, Raden Hanan bin Raden Hanafiah bin Pangeran Fabil, menuai perhatian luas dari warganet.
Dalam unggahan yang dikutip Sabtu (17/1/2026) tersebut, akun @rajakelir mengulas kiprah Raden Hanan sebagai tokoh penting dalam sejarah pemerintahan Kota Palembang pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia.
Banyak warganet yang turut penasaran dengan sejarah dari Raden Hanan bin Raden Hanafiah bin Pangeran Fabil sebagai Walikota pertama di Palembang.
Baca juga: Wajah Baru Goa Jepang KM 5, Diprediksi Jadi Destinasi Wisata Sejarah Hits di Palembang
Raden Hanan tercatat sebagai Walikota Palembang pertama di era kemerdekaan, menjabat pada periode 1945 hingga 1947.
Jabatan Raden Hanan sebagai Walikota Palembang hanya berlangsung sekitar 3 tahun (1945–1947) karena situasi politik dan pemerintahan Indonesia pada masa awal kemerdekaan masih sangat belum stabil.
Dikutip dari Wikipedia, Kata raden pada nama depannya merupakan sebuah gelar yang menunjukkan bahwa ia termasuk golongan darah ningrat, yaitu keturunan raja atau bangsawan lainnya.
Hal itu juga terdapat pada nama ayahnya, yakni Raden Hanafiah.
Sedangkan kakeknya memiliki gelar pangeran, yakni Pangeran Fabil.
Dalam catatan sejarah kota, ia merupakan walikota ketujuh, setelah enam pejabat sebelumnya yang seluruhnya berasal dari pemerintahan kolonial Belanda.
Hal ini menjadikan Raden Hanan sebagai pribumi pertama yang memimpin Palembang sejak masa penjajahan.
Sebelum menduduki jabatan walikota, Raden Hanan telah meniti karier sebagai pamong praja.
Pada tahun 1943, ia pernah menjabat sebagai Wedana Muara Enim sekaligus Wakil Ketua Dewan Penasehat Daerah Palembang.
Pada masa pendudukan Jepang, ia juga terlibat dalam upaya perebutan kekuasaan di Palembang, yang menyebabkan dirinya sempat ditangkap dan dibawa ke Tokyo.
Raden Hanan baru kembali ke Tanah Air setelah Jepang menyerah kepada Sekutu.
Kariernya berlanjut di tingkat nasional.
Pada 20 Februari hingga 16 Agustus 1950, Raden Hanan dipercaya menjadi anggota Senat Republik Indonesia Serikat (RIS) mewakili Negara Sumatera Selatan.
Ia kemudian ditunjuk sebagai Residen Palembang sejak 1 Juli 1950, dan kembali dilantik secara resmi pada 1 Februari 1954 melalui surat pengangkatan dari Presiden Soekarno.
Raden Hanan lahir di Palembang, 5 November 1898, dan wafat di kota yang sama pada 31 Oktober 1979 dalam usia 80 tahun.
Ia dimakamkan di kompleks pemakaman para Sultan Palembang, Kawah Tengkurep.
Nama Raden Hanan kembali mencuat ke publik setelah terjadi kekeliruan penggunaan foto dirinya yang tertukar dengan foto Walikota Palembang kedua, M.R. Sudarman Ganda Subrata.
Peristiwa tersebut berujung pada permintaan maaf dari Pemerintah Kota Palembang serta wacana pengabadian nama Raden Hanan sebagai salah satu nama jalan di kota tersebut.
Menariknya, nama sang istri, Ratna Asmira, justru telah lebih dahulu diabadikan sebagai Jalan Ratna yang terletak di kawasan Talang Semut, Kota Palembang.
Latar belakang keluarganya yang memiliki garis keturunan ningrat membuat Raden Hanan sejak kecil terbiasa dengan lingkungan birokrasi dan kepemimpinan lokal.
Pada masa mudanya, Raden Hanan menempuh pendidikan formal di sekolah-sekolah elite pada era kolonial Belanda.
Ia tercatat mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), dan akhirnya menempuh pendidikan di Opleidingsschool voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA).
OSVIA merupakan sekolah khusus yang mencetak calon pegawai pemerintahan pribumi atau pamong praja.
Pendidikan di OSVIA membentuk karakter Raden Hanan sebagai sosok yang disiplin, terlatih dalam administrasi pemerintahan, serta memahami sistem birokrasi kolonial.
Bekal inilah yang kemudian mengantarkannya memasuki dunia pemerintahan sejak usia relatif muda.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Raden Hanan mulai berkarier sebagai pegawai pamong praja di wilayah Sumatera Selatan.
Pengalaman lapangan yang ia peroleh sejak muda membuatnya memahami kondisi sosial masyarakat serta dinamika pemerintahan daerah, baik pada masa Belanda maupun Jepang.
Pada masa pendudukan Jepang, Raden Hanan sudah dikenal sebagai tokoh lokal yang memiliki pengaruh.
Ia dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis, termasuk sebagai Wedana Muara Enim.
Peran tersebut menjadi batu loncatan penting dalam kariernya hingga akhirnya dipercaya memimpin Palembang pada masa awal kemerdekaan.
Kehidupan muda Raden Hanan yang ditempa melalui pendidikan elite dan pengalaman birokrasi sejak dini menjadikannya figur yang siap memikul tanggung jawab besar, terutama saat Indonesia memasuki masa transisi dari penjajahan menuju kemerdekaan.
Nama lengkap: Raden Hanan bin Raden Hanafiah bin Pangeran Fabil
Tempat, tanggal lahir: Palembang, 5 November 1898
Wafat: Palembang, 31 Oktober 1979
Jabatan penting:
Istri: Ratna Asmira
Partai: Partai Persatuan Indonesia Raya (PIR).