Mayoritas Petani di KTT Tua, Regenerasi Petani Milenial Jadi Tantangan Besar Bagi Pertanian Modern
January 17, 2026 07:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Minimnya regenerasi petani menjadi salah satu tantangan utama sektor pertanian di Kabupaten Tana Tidung (KTT) Kalimantan Utara ( Kaltara ) yang mana saat ini, mayoritas petani masih didominasi usia tua, sementara minat petani milenial dinilai masih rendah.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Tana Tidung, Rudi, mengatakan persoalan sumber daya manusia menjadi kendala serius dalam pengembangan pertanian modern.

“Petani juga tidak ada peremajaan, yang ada sekarang ini kan sudah tua-tua. Seharusnya yang milenial sudah masuk,” kata Rudi kepada TribunKaltara.com, Sabtu (17/1/2026).

Ia menjelaskan, selain faktor SDM, keterbatasan lahan juga mempengaruhi kemampuan daerah dalam mengembangkan pertanian skala besar.

Baca juga: Menteri Pertanian Janjikan Rp10 Juta Bagi Petani Milenial, Dinas Pertanian Tarakan Tunggu Juknis

“Kalau masalah teknologi dan permodalan sebenarnya banyak bantuan hibah dari pemerintah. Tapi kalau kendalanya lahan, memang tidak bisa swasembada pangan,” ujar Rudi.

Meski demikian, pemerintah daerah bersama pemerintah pusat terus mendorong modernisasi pertanian agar lebih menarik bagi generasi muda.

“Mulai tahun ini ada instruksi presiden terkait Asta Cita, salah satunya pupuk subsidi dengan harga murah dan pembangunan irigasi dari Kementerian PU,” jelas Rudi.

Selain itu, penyuluh pertanian lapangan (PPL) kini dialihkan ke kementerian dan membentuk brigade pangan yang nantinya disebar ke daerah termasuk Kabupaten Tana Tidung.

“PPL sekarang statusnya di kementerian, tapi wilayah kerjanya tetap di Tana Tidung. Salah satu fasilitasnya kita sudah dapat drone besar untuk menyiram dan memupuk,” ungkapnya.

Baca juga: Sasar Pemuda, Bupati Nunukan Kaltara Minta Pemerintah Kecamatan dan Desa Aktifkan Petani Milenial

Rudi menyebutkan, berbagai alat mesin pertanian (alsintan) modern juga telah tersedia di untuk diberikan kepada para petani.

“Dari pusat juga kita udah ada hand traktor, kultivator, mesin tanam, mesin panen, termasuk drone dan kalau memupuk atau menyiram menggunakan drone itu satu hektare bisa dijangkau hanya sekitar 20 menit saja,” sebutnya.

Menurutnya, fasilitas pertanian saat ini sebenarnya sudah cukup lengkap, mulai dari alat, bibit, pupuk, hingga obat-obatan.

“Fasilitas sudah banyak, bibit dan pupuk juga dikasih, harapannya regenerasi dari petani tua ke milenial bisa cepat terbangun,” tuturnya.

Rudi berharap, dengan pertanian modern dan dukungan teknologi, minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian di Tana Tidung semakin meningkat.

“Sehingga pertanian modern bisa segera diperlihatkan ke masyarakat dan ketahanan pangan daerah tetap terjaga,” pungkasnya.

(*)

Penulis : Rismayanti 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.